Mengibarkan Hatimu by Azka Taslimi | Sastra Putar Balik



Dua bulan lagi Agustus akan datang, dan semua orang tahu itu! Dua bulan adalah waktu yang panjang bagiku, namun tidak untuk dia. Dua bulan adalah waktu yang sangat singkat.

Dia pulang sekolah sore hari, pukul lima. Dia selalu berlatih dan berlatih, dua bulan untuk  persiapan. Dia mengikuti kegiatan ekstra di sekolahnya, PASKIBRA. Iya, dia tengah menantikan undangan dari Istanan Merdeka pada 19 Agustus nanti. Sekarang dia kelas 3 SMA.

Bukan apa-apa, menjadi pengibar bendera pada hari kemerdekaan adalah sebuah kebanggaan, walaupun sebagian besar tidak menghiraukannya. Namun sebuah perjuangan tentunya tidak begitu saja membuahkan hasil, ada saja yang mengajaknya untuk berhenti.

“Ah, lagian orang-orang juga tidak akan pernah mengagumimu!” ujar kakaknya Pita.

“Benar, hanya basa-basi saja!” sahut adiknya yang baru kelas 1 SMP.

Ibunya keluar dari dapur, membawa sepiring telur ceplok isi empat, mereka akan sarapan pagi. “Bapak ke mana?” tanya Ibu.

“Tadi keluar entah ke mana,” jawab Pita sembari mengambil nasi dari rice cooker. Pukul enam pagi.

“Kamu nanti pulang jam lima lagi?” tanya Ibu.

“Iya, Bu,” sahut Pita singkat, matanya tetap memandang piring di depannya.

Tidak ada kata-kata lagi dari ibunya, memang sudah begitu tabiat mereka. Antar keluarga tidak saling banyak bicara, hanya masalah-masalah penting dan serius yang mereka bicarakan bersama, sedang yang lain hanya celotehan belaka.

“Aku berangkat dulu, Bu!” ujar Pita sembari menyalami ibunya, diikuti oleh adiknya. Mereka semua telah usai sarapan, disambut oleh matahari yang menerikkan sinarnya.

“Dibilangin, dasar anak tidak bisa berpikir!” Kakak Pita masih menyimpan unek-unek di dalam hatinya.

“Sudahlah, dia juga tidak merugikan kita!” sahut Ibu.

“Ha? Tidak merugikan? Lalu yang memberi saku tambahan siapa kalau bukan Ibu?”

“Ibu tidak pernah memberi saku tambahan!” tukas Ibu.

Memang benar, Ibu tidak pernah memberi saku tambahan selama Pita  mengikuti kegiatan ekstra PASKIBRA, Pita juga tidak pernah memintanya.

Pita menghentikan ankot di depan rumahnya, bersama dengan adiknya. Anak sekolah memang tidak ditetapkan besaran rupiah yang harus mereka bayarkan kepada angkot, sebisanya. Bahkan ketika anak-anak yang nakal, maka ketika turun dari angkot mereka langsung kabur dan berteriak, “Makasih, Bang....”.

Setidaknya pagi seperti ini perjalanan menuju sekolah butuh waktu setengah jam. Jalanan macet adalah sebuah kabiasaan, dan tentunya yang disalahkan adalah Gubernurnya, dan Gubernur menyalahkan Presiden. Pita pandangi suasana jalan dari jendela yang kacanya terbuka lebar, hawa pagi masuk menggerak-gerakkan rambut Pita yang lurus tergerai. Di kejauhan sana terlihat Ramayana yang masih tutup, MCD yang buka 24 jam, dan pada pandangan paling ujung matanya memandang tulisan sebuah rumah makan ‘AYAM BAKAR BEJO’.

Sesaat kemudian kampus UIN terpampang dengan gagahnya di sebelah kanan jalan, itu adalah Universitas yang dia impi-impikan, selain Universitas Tri Sakti di Jakarta Barat. Di depan sana tampak para Mahasiswa ramai-ramai menyeberang. Satu pertanyaan muncul, kenapa tidak ada Flyover agar waktu lebih cepat dan tidak mengganggu kendaraan? Memang ada, tapi itu hanya satu, sehingga jauh dari jangkauan para mahasiswa.

Rambut Pita tergerai oleh angin, tangan kanannya membenahi, merapikan rambut yang melambai-lambai pada dahinya, rambutnya sedikit berwarna kuning, dan itu alami bukan sebab cat rambut. Memang, Pita tidak berjilbab. Tapi, menurutnya, Islam bukan hanya untuk wanita yang berjilbab. Islam terbuka untuk semua manusia. Hal itulah yang kemudian membuat keinginan Pita untuk masuk di Universitar Islam.

***

Upacara Kemerdekaan telah lewat, dan Pita tidak terpilih menjadi anggota PASKIBRA. Saingat begitu ketat.

Aku mendengarkan semua cerita Pita dari awal sampai akhir, perjuangannya dua bulan lalu, bahkan dua bulan setengah untuk hari kemerdekaan. Sirna.

“Tapi tahun depan aku akan mencobanya lagi!” ujar Pita memberi semangat kepada dirinya sendiri. Aku hanya diam, sungguh mengharukan kisahnya, meski aku tidak terlalu suka juga dengan PASKIBRA.

“Tadi pagi keren-keren banget PASKIBRANYA!” puji Pita kepada PASKIBRA yang mengibarkan bendera pagi tadi, pada upacara kemerdekaan di Istana Merdeka. “Semoga tahun depan aku bisa menggantikan mereka!” ujarnya sekali lagi.

Begitulah Pita, wanita yang penuh dengan semangat, wajahnya tidak pernah murah oleh umpatan orang. Aku bangga menjadi salah satu temannya.

Aku beranjak dari kursi, berjalan menuju kulkas yang menempel pada dinding, membukanya dan mengambil dua botol es tee.

“Pita, ijinkan aku untuk mengibarkan bendera hatimu sore ini!” kataku pada botol es tee yang aku genggam.

Di Istana Merdeka sana tengah ada upacara penurunan bendera. Dan kami melihat tayangannya dari televisi warung yang menempel pada dinding.

    Tangerang, 17 Agustus 2022

 

0 Post a Comment

Posting Komentar