Perang Nafsu dan Akal; Sekilas Tentang Bahagia - Artikel Oleh Jasmiko | Sastra Putar Balik




Pada dasarnya kebahagiaan adalah tujuan semua manusia. Manusia sejak dilahirkan mempunyai naluri untuk bahagia serta mengusahakan semua upaya dalam rangka menuju bahagia. Jika bahagia adalah naluri manusia dan semua manusia ingin bahagia, lantas apa sebenarnya yang dinamakan dengan kebahagiaan?

السَّعَادَةُ كُلُّهَا فِي أَنْ يَمْلِكَ الرَّجُلُ نَفْسَهُ وَالشَّــقَــاوَةُ فِي أَنْ تَمْـلِـكَـــهُ نَفْـسُــــهُ

Kalimat di atas adalah ungkapan dari Al-Ghozali. Dia mengatakan bahwa kebahagiaan adalah ketika seseorang bisa menguasai nafsunya. Kesengsaraan adalah saat seseorang dikuasai oleh nafsunya. Apa itu nafsu? Nafsu adalah sebuah dorongan, sebuah keinginan untuk memenuhi kesenangan, yang sebenarnya sifatnya netral. Bagaikan 2 mata pisau, nafsu bisa menjadi suatu hal yang baik, tetapi bisa juga menjadi suatu hal yang buruk, tergantung siapa yang menyetir dorongan nafsu ini. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nafsu adalah sebuah keinginan yang sebenarnya netral, dan akan berubah tergantung siapa dan apa yang berada di baliknya.

Mengapa Al-Ghozali mengatakan bahwa manusia yang bahagia adalah manusia yang menguasai nafsunya? Manusia yang menguasai nafsunya akan bergerak berdasarkan hal prinsip, dia akan bekerja sesuai dengan kebutuhan, bukan sebab nafsu yang berlebihan belaka. Manusia yang menguasai nafsunya berarti dia bekerja dan bertindak berdasarkan akalnya. Nah, manusia yang tidak bahagia, dalam artian manusia yang dikuasai oleh nafsunya, tidak akan menggunakan akalnya dengan maksimal, bahkan cenderung tidak menggunakannya.

Manusia harus bisa mengendalikan dan menguasai nafsunya agar bisa mencapai kebahagiaan. Manusia yang dikuasai nafsunya akan gelap mata ketika mengejar sesuatu, dalam artian berusaha mendapatkan sebuah hal dengan cara apa saja, tidak peduli bahkan dengan cara yang salah sekalipun. Dengan demikian dia akan kesusahan sendiri, tidak bisa mengukur kemampuan diri terhadap obyek yang ingin diraihnya. Berbeda dengan manusia yang dikuasai oleh nafsunya, manusia yang menguasai nafsu bisa mengukur kekuatan diri terhadap obyek yang ingin diraihnya. Dengan menggunakan akal, dia akan mengukur kemampuan diri, bahwa jika tidak mampu, maka dia akan melepaskan tujuan itu, atau mungkin mencari cara lain yang lebih efektif, dan masih diperbolehkan/baik.

Ini sepertinya tidak terlalu penting, tapi tahukah kita bahwa ini adalah penentu segala tindakan kita? Iya, nafsu dan akal menjadi sebuah hal yang bertolak belakang. Nafsu selalu mengajak pada hal-hal yang berlebihan, sebab nafsu berasumsi bahwa dengan hal yang berlebih itu dia akan menjadi bahagia. Sedang akal, akan mengajak pada hal-hal yang sudah terukur. Akal akan mengukur kemampuan, akan mengukur seberapa penting apa yang akan dia lakukan, dan akan melepasnya jika tidak begitu penting untuk hidupnya. Nah, dari sini rerlihat sekali perbedaan antara nafsu dan akal. Nafsu lebih mengarah pada gengsi, sedang akal lebih mengarah pada fungsi.

Di era teknologi seperti ini kita harus pintar-pintar menggunakan akal. Jika kita tidak menggunakan akal secara maksimal dan sesuai dengan fungsinya, maka kita akan menjadi budak teknologi, kita yang seharusnya memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan diri malah akan dilibas habis oleh teknologi tersebut sebab diri kita yang penuh dikuasai nafsu.

Masalah seperti ini perlu kita jadikan sebagai bahan renungan. Kenapa jaman yang serba teknologi, yang seharusnya peradaban manusia menjadi lebih baik, malah tidak teratur seperti ini? Kenapa manusia yang seharusnya memanfaatkan teknologi dengan sebaik mungkin malah menjadi budak teknologi? Bisa jadi penyebab itu semua adalah manusia yang dikuasai penuh oleh nafsu, sehingga mereka rakus dan ingin mendapatkan semuanya. Jika dilihat sekilas maka kita tidak menjadi korban, tapi jika kita pikirkan secara mendalam, kitalah korban dari kebodohan diri sendiri. Berjam-jam kita berada di depan layar ponsel, membaca, menoton berita dan hiburan yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Iya, begitulah cara nafsu menipu daya manusia. Sekilas, menatap layar ponsel berjam-jam adalah sebuah kenikmatan, tapi jika kita pikirkan lagi maka itu adalah sebuah kerugian yang benar-benar nyata. Waktu yang seharusnya kita gunakan untuk berkreativitas, terbuang percuma. Waktu yang seharusnya kita gunakan untuk bekerja, terbuang percuma. Parahnya lagi, waktu yang seharusnya kita gunakan untuk beribadah terbuang percuma. Ini benar-benar sebuah kerugian dan kesalahan yang luar biasa.

Memang, manusia membutuhkan nafsu. Manusia yang tidak mempunyai nafsu makan akan mati, manusia yang tidak punya nafsu syahwat akan mati dan tidak akan memperpanjang garis keturunan. Namun nafsu ada kadarnya masing-masing, makan berlebihan tidak baik, syahwat yang berlebihan juga tidak baik. Maka, menguasai nafsu dan bukan dikuasai oleh nafsu adalah sebuah jalan menuju kita bahagia. Orang yang dikuasai oleh nafsunya tidak akan pernah merasa puas, sebab nafsu selalu mengajak kepada sesuatu yang berlebih.

Manusia yang tidak mempunyai nafsu tidak akan bergerak. Nafsu wajib ada dalam manusia, namun manusia yang harus mengendalikannya, bukan nafsu yang mengendalikan manusia. Di era media sosial seperti ini kita harus benar-benar mengendalikan nafsu. Apa-apa yang kita kerjakan di media sosial harus berdasarkan akal, bukan hasil dari penguasaan nafsu terhadap diri. Jika kita dikendalikan oleh nafsu maka apa-apa yang kita lakukan tidak akan benar, atau setidaknya jauh dari kebenaran. Nafsu mendorong kita untuk selalu membanggakan diri di media sosial, merendahkan orang lain, dan sejenisnya. Mengapa bisa demikian? Seban nafsu beranggapan bahwa ketika merendahkan orang lain dia akan menjadi mulia, dan dengan kemuliaan itu dia akan bahagia.

Sekian, semoga tulisan singkat ini membawa manfaat untuk diri saya dan siapapun yang membaca!

Ciputat, 02 September 2023

0 Post a Comment

Posting Komentar