Pada dasarnya kebahagiaan adalah tujuan semua manusia. Manusia
sejak dilahirkan mempunyai naluri untuk bahagia serta mengusahakan semua upaya
dalam rangka menuju bahagia. Jika bahagia adalah naluri manusia dan semua
manusia ingin bahagia, lantas apa sebenarnya yang dinamakan dengan kebahagiaan?
السَّعَادَةُ كُلُّهَا فِي أَنْ يَمْلِكَ الرَّجُلُ
نَفْسَهُ وَالشَّــقَــاوَةُ فِي أَنْ تَمْـلِـكَـــهُ نَفْـسُــــهُ
Kalimat di atas adalah ungkapan dari Al-Ghozali. Dia mengatakan bahwa
kebahagiaan adalah ketika seseorang bisa menguasai nafsunya. Kesengsaraan
adalah saat seseorang dikuasai oleh nafsunya. Apa itu
nafsu? Nafsu adalah sebuah dorongan, sebuah
keinginan untuk memenuhi kesenangan, yang sebenarnya sifatnya netral.
Bagaikan 2 mata pisau, nafsu bisa menjadi suatu hal yang baik, tetapi bisa juga
menjadi suatu hal yang buruk, tergantung siapa yang menyetir dorongan nafsu ini.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nafsu adalah sebuah keinginan yang
sebenarnya netral, dan akan berubah tergantung siapa dan apa yang berada di
baliknya.
Mengapa
Al-Ghozali mengatakan bahwa manusia yang bahagia adalah manusia yang menguasai
nafsunya? Manusia yang menguasai nafsunya akan bergerak berdasarkan hal
prinsip, dia akan bekerja sesuai dengan kebutuhan, bukan sebab nafsu yang
berlebihan belaka. Manusia yang menguasai nafsunya berarti dia bekerja dan
bertindak berdasarkan akalnya. Nah, manusia yang tidak bahagia, dalam artian
manusia yang dikuasai oleh nafsunya, tidak akan menggunakan akalnya dengan
maksimal, bahkan cenderung tidak menggunakannya.
Manusia
harus bisa mengendalikan dan menguasai nafsunya agar bisa mencapai kebahagiaan.
Manusia yang dikuasai nafsunya akan gelap mata ketika mengejar sesuatu, dalam
artian berusaha mendapatkan sebuah hal dengan cara apa saja, tidak peduli
bahkan dengan cara yang salah sekalipun. Dengan demikian dia akan kesusahan
sendiri, tidak bisa mengukur kemampuan diri terhadap obyek yang ingin
diraihnya. Berbeda dengan manusia yang dikuasai oleh nafsunya, manusia yang
menguasai nafsu bisa mengukur kekuatan diri terhadap obyek yang ingin
diraihnya. Dengan menggunakan akal, dia akan mengukur kemampuan diri, bahwa
jika tidak mampu, maka dia akan melepaskan tujuan itu, atau mungkin mencari
cara lain yang lebih efektif, dan masih diperbolehkan/baik.
Ini
sepertinya tidak terlalu penting, tapi tahukah kita bahwa ini adalah penentu
segala tindakan kita? Iya, nafsu dan akal menjadi sebuah hal yang bertolak
belakang. Nafsu selalu mengajak pada hal-hal yang berlebihan, sebab nafsu
berasumsi bahwa dengan hal yang berlebih itu dia akan menjadi bahagia. Sedang
akal, akan mengajak pada hal-hal yang sudah terukur. Akal akan mengukur
kemampuan, akan mengukur seberapa penting apa yang akan dia lakukan, dan akan
melepasnya jika tidak begitu penting untuk hidupnya. Nah, dari sini rerlihat
sekali perbedaan antara nafsu dan akal. Nafsu lebih mengarah pada gengsi,
sedang akal lebih mengarah pada fungsi.
Di era
teknologi seperti ini kita harus pintar-pintar menggunakan akal. Jika kita
tidak menggunakan akal secara maksimal dan sesuai dengan fungsinya, maka kita
akan menjadi budak teknologi, kita yang seharusnya memanfaatkan teknologi untuk
mengembangkan diri malah akan dilibas habis oleh teknologi tersebut sebab diri
kita yang penuh dikuasai nafsu.
Masalah
seperti ini perlu kita jadikan sebagai bahan renungan. Kenapa jaman yang serba
teknologi, yang seharusnya peradaban manusia menjadi lebih baik, malah tidak
teratur seperti ini? Kenapa manusia yang seharusnya memanfaatkan teknologi
dengan sebaik mungkin malah menjadi budak teknologi? Bisa jadi penyebab itu
semua adalah manusia yang dikuasai penuh oleh nafsu, sehingga mereka rakus dan
ingin mendapatkan semuanya. Jika dilihat sekilas maka kita tidak menjadi
korban, tapi jika kita pikirkan secara mendalam, kitalah korban dari kebodohan
diri sendiri. Berjam-jam kita berada di depan layar ponsel, membaca, menoton
berita dan hiburan yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Iya, begitulah cara
nafsu menipu daya manusia. Sekilas, menatap layar ponsel berjam-jam adalah
sebuah kenikmatan, tapi jika kita pikirkan lagi maka itu adalah sebuah kerugian
yang benar-benar nyata. Waktu yang seharusnya kita gunakan untuk
berkreativitas, terbuang percuma. Waktu yang seharusnya kita gunakan untuk
bekerja, terbuang percuma. Parahnya lagi, waktu yang seharusnya kita gunakan
untuk beribadah terbuang percuma. Ini benar-benar sebuah kerugian dan kesalahan
yang luar biasa.
Memang,
manusia membutuhkan nafsu. Manusia yang tidak mempunyai nafsu makan akan mati,
manusia yang tidak punya nafsu syahwat akan mati dan tidak akan memperpanjang
garis keturunan. Namun nafsu ada kadarnya masing-masing, makan berlebihan tidak
baik, syahwat yang berlebihan juga tidak baik. Maka, menguasai nafsu dan bukan
dikuasai oleh nafsu adalah sebuah jalan menuju kita bahagia. Orang yang
dikuasai oleh nafsunya tidak akan pernah merasa puas, sebab nafsu selalu
mengajak kepada sesuatu yang berlebih.
Manusia yang
tidak mempunyai nafsu tidak akan bergerak. Nafsu wajib ada dalam manusia, namun
manusia yang harus mengendalikannya, bukan nafsu yang mengendalikan manusia. Di
era media sosial seperti ini kita harus benar-benar mengendalikan nafsu.
Apa-apa yang kita kerjakan di media sosial harus berdasarkan akal, bukan hasil
dari penguasaan nafsu terhadap diri. Jika kita dikendalikan oleh nafsu maka
apa-apa yang kita lakukan tidak akan benar, atau setidaknya jauh dari
kebenaran. Nafsu mendorong kita untuk selalu membanggakan diri di media sosial,
merendahkan orang lain, dan sejenisnya. Mengapa bisa demikian? Seban nafsu beranggapan
bahwa ketika merendahkan orang lain dia akan menjadi mulia, dan dengan
kemuliaan itu dia akan bahagia.
Sekian,
semoga tulisan singkat ini membawa manfaat untuk diri saya dan siapapun yang
membaca!
Ciputat, 02
September 2023





0 Post a Comment
Posting Komentar