Nasib Demokrasi di Zaman Edan: Esai Daoed Joesoef - Artikel oleh Jasmiko | Sastra Putar Balik

 

Menurut Montesquieu, jika dalam sebuah republik, rakyat yang merupakan korps punya kekuasaan yang berdaulat, maka disebut dengan demokrasi. Akan tetapi, jika kekuasaan yang berdaulat itu hanya ada di sebagian tangan rakyat saja, maka disebut dengan aristokrasi. Dengan demikian, maka suatu republik bisa berdimensi demokrasi atau aristokrasi tergantung pada siapa yang menguasai sepenuhnya kekuasaan yang berdaulat.

DINASTI POLITIK

Ketika kita mendengarnya, maka konotasi dari kalimat tersebut adalah negatif. Dinasti politik, berupa penetapan anak/keluarga dekat dengan bos partai menjadi putra/putri mahkota dengan melangkahi kader-kader yang lebih cerdas, lebih berpendidikan, dan lebih berpengalaman. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa apa yang disebut-sebut sebagai dinasti politik adalah sebuah kecacatan dalam berbagai hal. Memang, secara hukum tidak bisa disalahkan, sebab ada yang berpendapat bahwa itu adalah sebuah hak yang melekat pada masing-masing individu.

Mungkin tidak perlu ditulis secara eksplisit peristiwa apa yang terjadi akhir-akhir ini berhubungan dengan dinasti politik. Adalah sebuah aib moral jika kita tidak mengakuinya, kendati pendapat bahwa yang demikian merupakan sebuah hak. Entah akan dibawa ke mana bangsa ini oleh segelintir elit yang berkuasa, tidak jelas. Bahkan, dari latar belakang tersebut masih ada salah satu paslon (entah paslon apa) yang mengusung narasi keberlanjutan. Apa yang akan dilanjutkan? Apakah dinasti politik seperti ini akan dijadikan budaya dan mengakar pada jiwa bangsa Indonesia yang suci dari noda?

Adalah sebuah aib moral, sekali lagi, jika tidak mengakui bahwa Indonesia tengah di masa-masa tidak baik-baik saja. Tingkat pendidikan rendah, kemiskinan di mana-mana, akan tetapi mengambil sebuah jalan yang dianggap sebagai solusi, tapi malah berseberangan. Itulah kenapa sekarang di media ramai huru-hara tentang narasi keberlanjutan. Tapi sayangnya, sekali lagi, bahwa tingkat pendidikan di Indonesia yang rendah, entah itu dalam literasi media dan sejenisnya, langsung dapat dibuktikan dengan terpilihnya paslon pemimpin yang mengusung keberlanjutan. Bukan ide sebenarnya jika dikatakan keberlanjutan, sebab itu hanya mengambil dan meneruskan.

Melebar dari situ, bahwa sekarang jabatan seakan-akan menjadi sebuah permainan yang benar-benar bisa dipermainkan. Sebuah jabatan, tidak diberikan kepada ahlinya, namun pada teman-teman dekat atau orang yang pernah berjasa untuknya. Ini bukan soal KOMINFO, akan tetapi jika kawan-kawan mengarahkan narasi ke sana, baiklah, tidak salah, itu salah satunya. Lihatlah betapa bobroknya negeri ini, ketika sebuah jabatan tidak diserahkan kepada ahlinya.

Sebenarnya negeri ini tidak kekurangan orang cerdas, kendati di lain sisi tingkat pendidikan masih sangat rendah. Akan tetapi, pemerintah seakan sok jual mahal untuk memberikan lapangan kepada para ahli yang merupakan anak bangsa. Jelas ini adalah pola pikir yang salah. Pola pikir seperti ini tampaknya sudah lama mengakar di kalangan politisi kita, sok tau, sok bisa, dan akhirnya walaupun melakukan kesalahan tetap enggan meminta maaf kepada masyarakat.

Pancasi di Zaman Edan

Tampaknya kita perlu belajar banyak dari pemikiran-pemikiran Daun Yusuf. Ia adalah salah satu menteri pendidikan pada masa orde baru. Akan tetapi dia tidak lama menjabat, sebab wajar saja jika orang baik tidak akan bertahan lama di negeri ini (bukan Indonesia).

Menurutnya, Indonesia terlalu fokus pada pembangunan ekonomi, tidak sadar atau tidak menghiraukan bahwasanya pembangunan nasional itu lebih urgen dan lebih komplek cakupannya. Pembangunan ekonomi hanya memikirkan prinsip untung-rugi. Akan tetapi, pembangunan nasional yang lebih komplek perlu memerhatikan pembangunan akhlak/moral yang sekarang, sepertinya, tinggal hanya sebutan. Para pemimpin di atas sana mencontohkan sesuatu yang tidak baik, lalu berkhutbah kepada masyarakat untuk berbuat baik.

Berbicara mengenai khutbah, maka saya teringat dengan khutbah Hasyim Asy’arie, ketua KPU, ketika idul adha, bahwa kita harus menyembelih sifat-sifat kebinatangan. Ah, tapi baiklah, itu tidak perlu kita bahas, sudah banyak akun-akun meme Instagram yang membahasnya.

Pancasila sebagai landasan filosofis bernegera Indonesia, maka sudah sepantasnya diberikan perhatian yang memang sepantasnya. Pancasila sekarang hanya tinggal menjadi pajangan, tidak ada nilai-nilai yang dicoba untuk diterapkan. Sila pertama, mengajarkan bahwa kita harus berketuhanan. Ini tidak sampai hanya di situ, bahkan mengacu pada semua perbuatan. Sila pertama adalah inti dari Pancasila, kendati Soekarno mengatakan bahwa inti darinya adalah gotong-royong.

Tuhan, erat hubungannya dengan moral/akhlak. Sehingga ketika Tuhan telah diadakan dalam kehidupan, moral adalah sebuah jaminan yang akan mengikut. Jauh dari itu, keadaan Indonesia sekarang ini sangat jauh dari kata moral. Kejahatan di mana-mana, mungkin memang dari atasnya sudah demikian. Atas yang saya maksud di sini adalah para pemimpin bangsa dalam hitungan politis. Korupsi, nepotisme, makanan kita sehari-hari, namun seakan tiada malu, tidak ada yang mengundurkan diri.

Indonesia harus mengembalikan pendidikan, pada pendidikan moral, bukan hanya pendidikan yang mempelajari hitung-hitungan. Memang, pemudaran moral sudah terjadi selepas perang dunia pertama, di mana Stephen Covey menjelaskan dalam salah satunya buku, bahwa konsentrasi manusia dari dunia akhlak, sekarang sudah tergantikan pada dunia pembangunan infrastruktur/luar diri.

Akhir kata, cukup sampai di sini pembahasan yang tidak jelas ini. Semoga bermanfaat!

Tangerang Selatan, 17 Juli 2024

0 Post a Comment

Posting Komentar