Siapa, sih, yang tidak kenal dengan Dr. K.H. Ahmad Mustofa Bisri atau lebih sering dipanggil dengan Gus Mus? Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Raudlatut Thalibin, yang berada di daerah Leteh, Rembang. Selain itu, beliau juga pernah menjadi Rais ‘Aam PBNU pada tahun 2014 sampai 2015 karena menggantikan KH. Sahal Mahfudz yang wafat.
Selain dikenal sebagai ulama, Gus Mus juga terkenal sebagai sastrawan. Tidak tanggung-tanggung, pada tahun 2005 beliau mendapatkan penghargaan “Anugerah Sastra Asia” dari Mejelis Sastra (Mastera, Malaysia, 2005). Banyak karya-karya yang telah ditulis oleh belia, mulai dari cerpen sampai puisi. Bahkan, beliau juga seorang pelukis. Nah, dari banyaknya karya yang telah beliau tulis, kali ini kita akan membahas salah satu cerpennya yang berjudul “Kang Kasanun”.
Cerpen “Kang Kasanun” ditulis pada 29 September 2002. Memang cerpen tersebut sudah lama sekali ditulis, namun tetap relate dengan kehidupan bermasyarakat jaman sekarang. Secara garis besar cerpen tersebut bertemakan sebuah penyesalan dari tokoh utama yang bernama Kasanun.
Cerpen tersebut menggunakan sudut pandang (point of view) orang pertama, yaitu anak dari dari seorang kiai (teman mondok Kasanun). Kendati menggunakan sudut pandang orang pertama, tapi tokoh utama dalam cerpen tersebut adalah Kasanun. Awal kisah dimulai dengan sebuah narasi kekaguman seorang anak kecil pada tokoh kisah-kisah yang dituturkan oleh gurunya, juga ayahnya.
Begini salah satu kutipan percakapan guru ngaji anak kecil tersebut :
“Yang saya peragakan itu tadi jurus silat Cibadak. Jurus yang digunakan Kang Kasanun membekuk tujuh begal yang mencegatnya di perjalanan. Tujuh orang dan Kang Kasanun sendirian. Bayangkan! Kami sendiri, saya dan beberapa kawan yang berminat, setiap malam Jumat dia ajari jurus-jurus silat dari berbagai cabang. Tapi mana mungkin bisa seperti dia? Dia itu bahkan mempunyai ilmu cicak. Bila sedang bersilat, bisa nempel dan merayap di dinding.”
Selain guru ngajinya, tokoh kecil juga mendengar kisah-kisah dari ayahnya.
Ayah sendiri sering juga bercerita tentang Kang Kasanun, tapi tidak dengan memperagakannya seperti Kiai Mabrur. “Nggak tahu, dia itu ilmunya dari mana?” kata ayah suatu hari ketika sedang bercerita tentang kawannya yang disebutnya jadug itu. “Di samping menguasai ilmu silat, ilmu hikmahnya aneh-aneh. Hanya dengan merapalkan bacaan aneh –campuran bahasa Arab dan Jawa– dia bisa membuat tidur seiisi mushalla. Pernah dia menjadi tontonan orang sepasar gara-gara dia dihina penjual lombok lalu lombok satu pikul dimakannya habis. Dia tidak apa-apa, tapi penjualnya kemudian yang murus. Kata kawan-kawan dia juga bisa memanggil burung yang sedang terbang di udara dan ikan di dalam sungai.”
Pada suatu hari, Kang Kasanun berkunjung ke rumah kiai (ayah anak kecil penutur cerita). Nah, melalui pertemuan tersebut, sang anak berusaha untuk diajarkan salah satu dari ilmu Kang Kasunan. Kang Kasanun di matanya seperti jagoan dalam film-film, bahkan bisa menghilang.
Begini jawaban Kang Kasanun :
“Jangan, jangan, Gus! Gus jangan terperdaya oleh cerita-cerita orang tentang bapak. Apalagi kepingin yang macam-macam seperti yang pernah bapak lakukan. Biarlah yang menyesal bapak sendiri. Jadilah seperti ayahanda saja. Belajar. Ngaji yang giat. Dulu ayahanda Gus pernah sekali ikut dengan kegilaan masa muda bapak, tapi gagal. Mengapa? Bapak rasa karena ayahanda memang tidak serius. Beliau hanya serius dalam urusan belajar dan mengaji. Dan sekarang, lihatlah bapak dan lihatlah ayahanda Gus! Ayahanda Gus menjadi kiai besar, sementara bapak lontang-lantung seperti ini. Kawan-kawan bapak yang dulu ikutan bapak mendalami ilmu-ilmu kanuragan seperti ini rata-rata kini hanya jadi dukun. Ini masih mendingan, ada yang malah menggunakan ilmu itu untuk menipu masyarakat dengan mengaku-aku sebagai wali dan sebagainya. Orang awam yang tidak tahu, mana bisa membedakan antara karomah dan ilmu sulapan seperti itu?”
Banyak pesan moral yang ingin disampaikan oleh Gus Mus dalam cerpen tersebut. Dengan kata-kata yang akrab dalam kehidupan sehari-hari, Gus Mus dengan apik menyelipkan pesan-pesan di sana.
Saya berasumsi bahwa pesan utama yang ingin disampaikan oleh Gus Mus adalah penghargaan terhadap ilmu, dan penerapannya. Ada ilmu yang sebaiknya dipelajari, ada ilmu yang sebaiknya ditinggalkan. Dalam cerpen tersebut dijelaskan bahwa Kang Kasanun selama di pesantren gemar sekali belajar ilmu-ilmu hikmah; dalam artian ilmu-ilmu gaib seperti bisa menghilang, menempel di tembok, dan sejenisnya. Gus Mus ingin mengatakan bahwa ilmu-ilmu tersebut tidak penting, dan tidak akan membawa kebaikan bagi para pencarinya.
Melalui tokoh Cina, Gus Mus ingin menuturkan bahwa jangan sampai ilmu yang kita dapatkan itu malah menjadi beban/merugikan orang lain. Pada akhirnya, Kang Kasanun menggunakan ilmu bisa menghilangnya hanya untuk mengambil harta orang lain, walaupun dengan beberapa alasan. Ilmu tersebut lebih mengarah pada merugikan orang lain, dan bisa dikatakan bahwa tidak ada untungnya.
Selanjutnya pesan moral dalam cerpen tersebut adalah jangan sampai merugikan orang lain. Pada dasarnya semua manusia ingin bahagia, kaya. Nah, dalam menuntut kebahagiaan tersebut, ada prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan agar tidak menyalahi aturan, yaitu merugikan orang lain.
Nah, bagaimana menurut teman-teman? Apakah teman-teman menemukan pesan moral lain yang ingin disampaikan Gus Mus dalam cerpen tersebut?
Nganjuk, 14 April 2024





0 Post a Comment
Posting Komentar