![]() |
KELAS 1C BSA 2022 UIN JAKARTA |
Syukurlah, akhirnya aku diterima di UIN Jakarta, angkatan 2022.
Sebenarnya ada sebuah rasa malu ketika aku harus kuliah di sana, sebab aku
termasuk terlambat. Seharusnya jika aku tidak berhenti ketika lulus SMA,
maksudnya langsung masuk kuliah, sekarang ini aku sudah semester 4. Tapi tidak
apa-apalah, semua sudah terjadi. Mungkin Tuhan ingin berkata lain kepadaku
sehingga membuatku harus berhenti 2 tahun sebelum akhirnya masuk kuliah.
Mungkin Tuhan ingin mempertemukanku dengan teman-teman angkatan 2022, dan aku
bahagia sekali bisa mengenal mereka.
Pertama masuk kuliah, apes sekali. Aku terlambat kurang
lebih lima belas menit, atau bahkan setengah jam. Syukurlah, bukan hanya aku
yang terlambat, namun ada beberapa juga, bahkan ada yang lebih parah
terlambatnya dari pada aku, ada yang terlambat satu jam lebih. Nah, mungkin
dengan terlambat itu Tuhan ingin memperkenalkanku dengan seseorang. Ketika aku
sampai di lantai lima, kalau tidak salah, di depan pintu ruangan ada dua orang
yang ragu-ragu untuk masuk, dia juga terlambat, sama seperiku. Akhirnya kami
kenal, kami satu kelas juga. Tubuhnya tinggi, besar, dan dia memperkenalkan
diri dengan nama Haikal.
Akhirnya kami bertiga masuk, di dalam ruangan teater itu sudah
banyak sekali mahasiswa baru dari Fakultas Adan dan Humaniora angkatan 2022.
Saat itu, pembicaranya adalah Syaikh Fathullah dari Mesir. Dia tengah berbicara
panjang lebar, menggunakan bahasa Arab, yang aku kira sebagian besar dari
mahasiswa baru banyak yang tidak paham, termasuk aku. Tapi syukurlah, aku
sedikit-sedikit paham dengan apa yang beliau bicarakan.
Lepas acara aku langsung pulang ke warung. Aku tidak berkenalan
dengan siapa pun kecuali dengan Haikal. Memang, aku agak malas untuk berkenalan
dengan orang-orang baru, seperti bukan sebuah kepribadian dalam diriku.
Yah, begitulah, banyak teman-teman baru yang aku kenal. Dari itu
semua, pastilah mereka berbeda karakter dan kepribadian. Ada yang rajin, ada
biasa-biasa saja, sampai ada yang bandel. Syukurlah, Tuhan masih memberi
kenikmatan kepadaku untuk mengenal teman-teman baru, memberikan
pengalaman-pengalaman yang tidak aku dapatkan ketika di pesantren.
Ketika aku di pesantren, di sana rata-rata adalah orang Jawa,
sedang di UIN Jakarta, kebanyakan mereka berasal dari Jabodetabek. Ada juga
yang berasal dari Padang, Gorontalo, dan mungkin ada yang lain. Di sana, aku
banyak mengenal pribadi-pribadi baru dengan segala latar belakang mereka.
UIN Jakarta adalah Universitas yang berlatar belakang Islam. Jadi,
semua orang yang kuliah dan menjadi mahasiswa di sana, harus bersiap-siap
menjadi sarjana Muslim. Apakah berbeda dengan kampus lain? Aku tidak mengatakan
berbeda, namun UIN Jakarta tentunya harus lebih berperan dalam membentuk
sarjana yang berkualitas, terlebih dalam bidang keislaman.
Menjadi mahasiswa di UIN Jakarta tentunya menjadi sebuah kebanggaan
dan menjadi tanggung jawab besar. Kita harus bangga menjadi mahasiswa UIN
Jakarta, sebab tentunya banyak sekali yang mendaftar, namun hanya beberapa yang
diterima. UIN Jakarta merupakan salah satu Universitas ternama di Indonesia,
tidak semua orang mempunyai kesempatan untuk kuliah di sana.
Yang kedua adalah menjadi sebuah tanggung jawab besar. Memang, UIN
Jakarta tidak menjamin lulusannya akan menjadi manusia yang berkualitas. Namun
sebagai pribadi, tentunya menjadi mahasiswa UIN, dan seluruh mahasiswa muslim,
mempunyai tanggung jawab yang sama, yaitu menjada dan menyiarkan Islam. Yang
pertama tentulah menjaga attitude sebagai mahasiswa muslim. Ini berat, tidak
semudah yang dikatakan. Mulai dari pakaian, perkataan, dan wawasan akan dinilai
oleh masyarakat. Yang harus kita jaga adalah hal tersebut, menjaga marwah Islam
dan UIN dengan kualitasnya. Jangan menjadi mahasiswa muslim yang hanya kuliah
di kampus Islam, namun harus bisa menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri.
Ini adalah sebuah tanggung jawab besar dan tidak mudah. Sekarang
ini banyak sarjana muslim hanya menyandang gelar, namun kepala tidak ada
isinya, hatinya kotor dan menjadi pengejar dunia.
Lalu dari mana kita sebagai mahasiswa muslim memulai tanggung jawab
besar itu? Aku rasa simpel, mulai dari hal-hal kecil seperti pakaian. Pakaian
adalah hal pertama yang dilihat oleh masyarakat. Sepertinya akal kita bisa
mempertimbangkan pakaian mana yang cocok dikenakan oleh mahasiswa muslim,
terlebih adalah para muslimah. Wanita menjadi sorotan utama dan terbesaar dalam
dunia kampus, dalam bidag pakaian.
Kita lihat sekarang ini banyak muslimah kampus yang tidak
mempertimbangkan pakaiannya dari segi kualitas nilai. Bukanya aku
mengesampingkan pakaian laki-laki, tapi aku rasa yang laki-laki sudah sesuai
dengan standar. Maka, perhatianku lebih mengarah pada pakaian muslimah. Mereka,
para muslimah, sangat berharga, namun mereka sering kali salah paham dengan
harga yang dimaksud. Terlalu murah jika seorang muslimah kampus harus mengumbar
auratnya demi untuk sesuatu yang dianggap ‘wah’.
Banyak muslimah kampus, sepanjang pengalamanku kuliah di UIN
Jakarta, yang memakai pakaian yang sebenarnya sudah menutupi aurat, tapi lekuk
tubuhnya terlihat jelas. Bahkan dalam sebuah kesempatan salah satu dosenku
berkata bahwa pakaian yang seharusnya digunakan di kamar tidur, sekarang bebas
digunakan di kampus, apalagi UIN yanga notabenenya adalah kampus Islam. Apakah
mereka tidak tahu dengan itu? Yang menjadi masalah bukan tahu atau tidak tahu.
Aku rasa semua sudah tahu, namun yang menjadi kendala adalah sebuah kemauan dan
ego untuk menjadi yang terbaik.
Para muslimah kampus mungkin berpikir bahwa muslimah yang keren
adalah muslimah yang berpakaian seperti mereka, memakai celana ketat, memakai
kemeja lengan panjang namun kancing baju tidak dikancingkan, memakai kaos tipis
dan jilbabnya ditalikan pada leher. Sehingga, demikian itu adalah pakaian yang
sia-sia. Kemeja lengan panjangnya tidak dikancingkan, kaosnya tipis sehingga di
sana tampak menonjol sesuatu yang seharusnya dijaga dari pandangan. Jilbab yang
seharusnya digunakan juga untuk menutup bagian depan dada, malah ditarik ke
belakang sehingga tidak menutupi bagian depan.
Aku rasa pembenahan dalam rangka menjalankan tanggung jawab bisa
dimulai dari hal kecil demikian. Itu terlihat sepele, namun sulit jika untuk
dilaksanakan jika semua pihak tidak bekerja sama. Seharusnya saling sadar
posisi. Para muslimah harus menyadari bahwa pakaian mereka tidak patut, dan
pihak kampus harus membantu dengan kebijakan-kebijakan, juga edukasi yang tidak
memalukan juga tidak menyalahkan. Jika dua pihak tersebut mampu bekerja sama,
aku rasa masalah akan selesai untuk kemudian menyelesaikan masalah lain, sebab
bukan hanya itu masalah yang kita hadapi.
Menjadi mahasiswa dan sarjana muslim merupakan sebuah tanggung
jawab besar. Antara hati dan otak harus seimbang dalam menciptakan peradaban
dan akhlak. Jika sudah seimbang antara kemampuan lahir dan batin, maka marwah
Islam akan membuat harum dunia.
Tangerang, 13 Oktober 2022





0 Post a Comment
Posting Komentar