Ratusan surat dari Tuhan setiap hari
dihantarkan oleh para malaikat, berputar-putar di arsy, dan akhirnya menunggu
di depan gerbang kehidupan. Selanjutnya, surat itu tergeletak sampai pada satu
waktu manusia yang dimaksud Tuhan bergerak mengambil dan membacanya, menyelami
maknanya, kemudian sembari tersenyum dia mengucap la hawla wala quwwata illa
billah.
Udara Ciputat sepagi ini masih dingin,
di bawah sebuah rindangnya pohon pertamanan, daun-daun berjatuhan. Dari
kejauhan samar-samar terdengar suara pegawai kebersihan kampus tengah menyapu,
suara tanah tergesek lidi, mobil-mobil kebersihan pengangkut sampah berjalan
pelan. Pandangan mata Salma mengikuti mobil kebersihan yang berjalan pelan,
sesekali berhenti dan menaikkan kantong-kantong plastik hitam, sampai akhirnya
hilang dipersilangan jalan.
Pukul setengah enam, sepagi ini kampus
masih sepi. Salma sengaja berangkat pagi untuk menikmati udara kampus yang
masih bersih sebelum akhirnya nanti siang tercemar oleh mahasiswa-mahasiswa
yang penuh harapan, namun minim tindakan. Salma mengeluarkan sebuah buku dari
tasnya, melanjutkan membaca. Satu halaman belum selesai dibacanya, tiba-tiba
dia teringat dengan peristiwa satu tahun lalu.
“Salma, jika kamu memang benar-benar
niat kuliah, mamak dukung sepenuhnya,” ujar mamak mengelus rambut Salma.
“Iya, Mak, Salma benar-benar pengen
kuliah!” ujar Salma.
“Mamak dan bapak akan mengusahakan
semuanya. Mungkin kamu adalah satu-satunya anak mamak yang pendidikannya sampai
kuliah, dan mungkin satu-satunya anak mamak yang sampai kuliah. Manasmu sudah
menikah dan merantau, kamulah harapan mamak satu-satunya!” Tanpa sadar air mata
mamak menetes, buru-buru dia mengusapnya.
Dalam diamnya, Salma juga demikian, air
matanya menetes. Sebenarnya tidak sampai hati dia mengungkapkan keinginannya
untuk melanjutkan kuliah. Bukan apa-apa, bapaknya yang buruh tani dan ibunya
juga demikian, jauh dari kata kaya. Tapi, Salma yakin bahwa pendidikan adalah
sebuah jalan untuk menaikkan derajad keluarganya.
“Iya, Mak!” sahut Salma, dia tidak bisa
berkata apa-apa. “Bapak ke mana, Mak?” tanya Salma.
“Mamak tidak tahu, tadi keluar tidak
bilang mau ke mana!” jawab mamaknya. “Iya sudah, mamak tidur dulu!” lanjutnya.
Keadaan desa benar-benar lengang dari
manusia. Di luar hanya terdengar suara jangkrik, dan suara burung hantu saling
bersahutan. Tetesan gerimis yang jatuh di atas pohon pisang masih terdengar,
sejak sore tadi hujan deras, dan sekarang mulai reda. Salma keluar rumah, duduk
pada sebuah kursi kayu di teras, rembulan perlahan menampakkan diri. Sinar
rembulan yang kekuningan dipantulkan oleh genangan-genangan air sisa hujan di
pelataran rumah Salma.
Saat ini pikiran Salma kosong. Sudah
mulai dari satu bulan yang lalu Salma melihat-lihat kampus negeri ternama, baik
itu Islam atau umum. Pada sebuah kesimpulan, akhirnya Salma memilih masuk ke
UIN Jakarta. Sebenarnya UIN Jakarta bukanlah kampus pilihan pertamanya, namun
karena dua kampus yang dia pilih menolaknya, dia mengambil UIN.
Samar-samar dari kejauhan Salma
mendengar suara langkah kaki yang sedikit berlari, Salma berpikir pasti ibu
bapaknya. Iya, benar, itu adalah bapaknya. Bapaknya sedikit berlari menghindari
tetesan gerimis yang masih tersisa dengan membawa sebuah senter. Kenapa harus
membawa senter? Iya, jalanan desa itu tidak ada lampunya. Masyarakat sudah
mengajukan permintaan kepada kepala desa sejak lama, namun tidak ada respon.
“Dari mana, Pak?” tanya Salma ketika
bapaknya sampai di teras.
“Halah, bapak dari rumahnya Pak Sarwo!”
jawab bapaknya.
Salma tidak ingin bertanya lebih lanjut,
dan bapaknya masuk. Salma kembali tenggelam dalam bayang-bayangnya.
Keinginannya untuk kuliah memang sudah bulat, namun dalam beberapa waktu sebuah
bisikan terdengar di telinganya. Jika Salma merantau untuk kuliah, maka bapak
dan mamaknya akan sendirian di rumah. Jika Salma merantau, maka tidak ada lagi
yang membantu mamak dan bapak di sawah. Namun sekali lagi pilihan ini harus
diambil atau terpuruk selamanya.
Satu Minggu lagi, Salma harus berangkat
ke Jakarta untuk memulai perkuliahan. Namun, pembayaran UKT belum dia tunaikan,
pun uang dari mana untuk berangkat juga belum dia dapatkan. Akhirnya Salma
memberanikan diri untuk menemui bapaknya
selepas sholat maghrib.
“Bapak!” panggil Salma pelan, dia
menyusul bapaknya di teras rumah.
“Besok insya Allah bapak sudah dapat
uang, Salma!” sahut bapaknya. Bapaknya paham sekali dengan anaknya, jika sudah
berbicara pelan, maka dia ingin menanyakan sebuah hal yang memang sudah
ditunggu-tunggunya.
“Dari mana, Pak?” tanya Salma.
“Kita, kan, punya tabungan!” ujar
bapak, senyumnya mengembang.
Bohong! Tabungan apa gerangan? Untuk
kebutuhan sehari-hari saja kadang masih kurang.
Salma pun tahu bahwa bapaknya
berbohong. Tapi sekarang dia diam, menunggu bapaknya memulai sebuah percakapan
baru.
“Kamu mau ambil jurusan apa, Salma?”
tanya bapaknya.
Baru kali ini Salma mendengar bapaknya
bertanya perihal pendidikannya. Mulai dari SD sampai kemarin lulus SMA, tidak
pernah bapaknya bertanya mengenai sekolahnya, bahkan bapak adalah manusia yang
paling tidak ingin tahu perihal pendidikan Salma.
“Hukum Ekonomi Syariah, Pak!” jawab
Salma. Setelah lulus nanti, Salma ingin menjadi pengusaha yang berpendidikan,
serta memegang erat agamanya sebagai tuntunan hidup.
“Hahaha,” bapaknya tertawa.
“Kenapa, Pak?” tanya Salma heran,
kenapa bapaknya tertawa.
“Itu pelajaran apa?” tanya bapaknya.
“Iya... mempelajari ekonomi-ekonomi,
tapi yang secara Islam,” jelas Salma. Salma sendiri juga belum begitu paham
dengan jurusan yang dia ambil.
Sampai malam hari Salma mendengarkan
bapaknya bercerita. Malam ini bapaknya berubah menjadi pribadi yang terbuka.
Sebelumnya, bapak tidak pernah bertanya perihal pendidikan anaknya, dia tidak
pernah bercerita sampai larut malam pada anaknya.
Besok Salma rencananya akan berpamitan
dengan teman-temannya, dan besoknya lagi akan berangkat ke ibu kota.
“Halooo...”
Tiba-tiba lamunan Salma berserakan.
“Ih, kaget, tau!” Salma geram.
Itu adalah Rara, teman kelas Salma.
“Pagi-pagi sudah melamun saja, Sal!” Rara duduk di samping Salma.
“Siapa yang melamun? Aku itu lagi
berpikir!” sanggah Salma.
“Tugas sudah selesai?” tanya Rara.
“Tugas yang mana?” tanya Salma.
“Pak Syukron.”
“Aman,” sahut Salma.
“Eh, Sal, kamu sudah tahu kalau Putri
putus sama pacarnya?” tanya Rara.
“Hah? Yang benar saja? Kemarin masih
jalan bareng, sekarang sudah putus?” Salma heran.
“Iya, itu sudah viral di grup kelas.
Buruan buka grup makanya, sudah semalaman jadi bahan perbincancangan interaktif
di grup!” Rara men-scroll hp-nya cepat.
Menurut Salma itu tidak penting.
Menurutnya, rata-rata anak kuliahan yang pacaran hanya bisa bertahan antara
satu sampai dua tahun. Lepas itu? Menjadi manusia yang saling tidak mengenal,
saling asing kembali.
“Ohhh, ini!” ujar Salma setelah membuka
grup.
“Nah, benar sekali!” sahut Rara. “Eh,
Salma. Kamu tahu atau tidak kalau Wahyu itu suka kamu, loh!” lanjutnya.
Demi sebuah hubungan persahabatan,
Salma pura-pura kaget. Sebenarnya Salma sudah tahu itu sejak lama, tapi dia
tidak menanggapinya. Bukan apa-apa, dia tidak ingin kuliahnya terganggu oleh
hal-hal yang tidak penting.
“Benarkah?” tanya Salma.
“Iya, benar. Kemarin dia bilang ke aku
kalau dia suka kamu, tapi tidak berani menyampaikan.”
“Oke,” sahut Salma.
Kampus mulai ramai, dan Ciputat
perlahan mulai memanas. Matahari tampak mengembang dari balik bangunan-bangunan
tinggi menjulang, sinarnya hangat.
“Yuk, ke kelas!” ajak Salma.
***
Awal-awal kuliah dan menjadi MABA,
Salma kaget dengan lingkungan kampus yang begitu bebas. Dalam bayangannya
sebelum kuliah, dia berpandangan bahwa universitas Islam pastilah kental dengan
budaya-budaya dan syariat Islam. Tapi ketika dia masuk kampus, keadaan
bena-benar berbeda. Salma yang baru datang dari kampung mengalami culture
shock. Pergaulan antara laki-laki dan wanita begitu bebas seperti tanpa batas,
bahkan dalam beberapa kesempatan Salma juga melihat dengan mata kosong
mahasiswa-mahasiswa yang mengonsumsi minuman keras.
Sekarang Salma sudah semester tiga,
dengan demikian dia telah berusaha beradaptasi satu tahun terakhir dengan
lingkungan barunya. Salma punya prinsip yang kuat tentang pergaulan dan
sosialnya, dia berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengikuti alur pergaulan
yang begitu bebas. Ketika hampir lupa dengan itu semua, Salma mengingat lagi
apa tujuannya datang ke ibu kota dan masuk ke dalam kampus Islam negeri.
Selepas kelas Salma berjalan menuju
perpustakaan pusat. Selama tiga semester ini Salma menghabiskan waktunya di
dalam perpustakaan, membaca, menulis, bahka tidur pun di sana.
“Sal, mau ke mana?”
Tiba-tiba seseorang memanggilnya dari
belakang.
“Mau ke perpus!” jawab Salma singkat.
“Kenapa, Yu?”
Iya, itu adalah Wahyu, mahasiswa yang
tengah menaruh hati pada Salma.
“Sama, mau ke perpus juga. Bareng, iya!”
Tidak ada alasan bagi Salma untuk tidak
mengiyakannya. Mereka berjalan beriringan, melintasi parkiran motor, naik
tangga, dan akhirnya sampai di perpustakaan.
“Salma mau ke lantai berapa?” tanya
Wahyu.
“Emmm, lima,” jawab Salma.
“Pas banget, aku juga mau ke sana,”
sahut Wahyu dengan riang.
Salma sedikit risih dengan perlakuan
yang demikian.
“tasnya mau dibawain?” tanya Wahyu
dengan penuh senyum.
“Eh, tidak usah,” sahut Salma.
Sebagai wanita yang normal, jelas Salma
tertarik dengan lawan jenis. Namun untuk saat ini sebaiknya dia tidak
menggubrisnya terlebih dahulu. Banyak cita-cita yang belum tercapai, ada sebuah
keinginan besar yang akan digapai.
Salma dan Wahyu duduk bersampingan, di
atas kursi yang berbeda. Mereka kini berada di lantai lima, lantai perpustakaan
yang menyediakan buku-buku agam. Setelah mengambil buku yang Salma tandai
tempatnya, dia segera duduk. Wahyu pun demikian, dia mengambil sebuah buku
sembarangan, yang tidak berhubungan sama sekali dengan jurusannya.
Sesekali Wahyu mencuri pandang ketika
Salma membaca. Salma sadar akan hal itu, dan dia benar-benar risih. Tapi
syukurlah beberapa saat kemudian Wahyu sudah tidak bersuara, sepertinya dia
tertidur. Dalam keadaan yang seperti itu, Salma berniat untuk melihat wajah
Wahyu sebentar.
Iya, benar. Salma memandang wajah Wahyu
beberapa saat, dan segera berpaling. “Sepertinya dia lelah sekali,” batin
Salma, selanjutnya dia meneruskan membaca buku.
Perpustakaan benar-benar hening,
sesekali terdengar suara orang melangkah, buku-buku yang dibalik halamannya,
dan suara batuk dari kejauhan. Salma tenggelam dalam bacaannya, sampai dia
tidak sadar bahwa sedari tadi Wahyu memandangnya, pura-pura tidur.
Pukul tiga sore Salma kembali ke
kostannya. Sebenarnya perpustakaan UIN buka sampai pukul delapan malam, tapi
hari ini ada urusan organisasi yang harus Salma selesaikan.
Mereka berdua berjalan keluar dari
perpustakaan. Kostan Salma tidak begitu jauh dari kampus, hanya butuh waktu
sekitar lima belas menit dengan jalan
kaki.
“Aku antar sampai kostan, Sal,” ujar
Wahyu.
“Eh, jangan. Nanti anak-anak di kostan
akan berpikir yang tidak-tidak,” tolak Salma.
Sampai satu bulan berikutnya begitulah
yang dihadapi oleh Salma, Wahtu setiap hari mengejar-ngejarnya. Salma berusaha
menolaknya secara langsung. Tapi, seperti yang dikatakan oleh pepatah Jawa,
bahwa pohon cinta itu bermula dari kebiasaan. Maka dari hari ke hari, entah
dengan jalan kasihan atau memang benar demikian, Salma mulai membuka hatinya.
“Sal, makan dulu, yuk!” ajak Wahyu
ketika selesai pelajaran.
“Ayuk,” sambut Salma. “Di mana?”
“Enaknya di mana?” tanya Wahyu.
“Cari yang murah saja, jangan mahal-mahal,”
sahut Salma.
“Benar!”
Tidak terasa senyum Salma mengembang
dengan sedirinya. Mereka berjalan menuju sebuah rumah makan langganan mahasiswa
di sebelah kampus. Di sana banyak sekali pedagang yang berjualan jajanan serta
makanan. Selain itu, ada tempat lain juga familiar dengan kantong mahasiswa,
yaitu di sebelah masjid Fathullah, seberang kampus UIN.
Mereka melewati pintu doraemon. Pada
masa jabatan rektor yang lalu, pintu doreamon tersebut ditutup sebab beberapa
alasan. Dan sekarang dibuka lagi dengan beberapa alasan pula. Di situlah
mahsiswa berdesak-desakan untuk keluar atuapun masuk, dan tidak sedikit pula
yang cekcok sebab senggolan.
“Sal, kamu tahu?” tanya Wahyu.
Salma mengangkat kedua alisnya, “Apa?”
“Kalau sebenarnya negeri Kohona itu benar-benar
ada. Kamu sudah tahu akan hal itu?”
“Hah? Benarkah?” Dengan bodohnya Salma
percaya.
“Iya, negeri Konoha itu benar-benar
ada. Aku pernah membaca sebuah buku berjudul Tukang Parkir Negeri Konoha. Nah,
buku itu menceritakan bahwa benar-benar ada sebuah negeri yang bernama Konoha,”
jelas Wahyu.
“Siapa pengarang buku itu?” tanya Salma
heran.
“Nama penulisnya Jasmiko. Bukunya yang
itu bisa dibeli di Gramedia digital, atau bisa juga di toko-toko online!”
Salma semakin tertarik, mereka masih
berjalan menuju rumah makan murah. “Eh, tapi benarkah negeri itu benar-benar
ada?” tanya Salma.
“Hahaga, enggak, lah, Sal. Kamu polos
amat sih.” Wahyu tertawa keras-keras.
“Kannn... aku sudah menduga bahwa pasti
kamu bohong.” Salma ikut tertawa.
“Tapi buku yang tadi aku sebutkan itu
benar-benar ada, dan bisa dibeli,” ujar Wahyu.
“Iyaa, percaya!” sahut Salma.
Mereka berdua masuk ke sebuah rumah
makan, bergabung bersama beberapa mahasiswa lain yang tengah makan pula.
***
“Cieee, kamu sudah jadian sama Wahyu, iya?”
goda Rara.
Seperti biasa, Salma berangkat ke
kampus pukul setengah enam, duduk di bawah pepohonan rindang taman, membaca
buku, sampai akhirnya dikagetkan oleh Rara.
“Jadian?” tanya Salma sembari
mengangkat kedua alisnya.
“Iya. Kamu sudah jadian kan sama Wahyu?
Ah, katanya kemarin-kemarin tidak mau. Eh... sekarang sudah main jadian saja!”
“Siapa juga yang jadian? Tidak, kita
tidak pacaran, hanya teman dekat saja!” Salma mengelak. Memang mereka belum
jadian dan menjadi pacar.
“Nah, kan... ! Sama saja,” sahut Rara.
“Tapi, Sal,” Rara duduk di samping Salma, melanjutkan kata-katanya, “Kalau kamu
terlalu lama menggantung Wahyu,
bisa-bisa dia pergi dan mencari yang lain.”
“Iya silakan kalau demikian,” ujar
Salma.
Dari hari ke hari kedekatan Salma
dengan Wahyu kian erat. Salma sudah tidak memasang jarak lagi, tapi Wahyu tidak
kunjung pula mengungkapkan isi hatinya. Iya, ini adalah kisah dua remaja yang
tengah tenggelam dalam lautan asmara. Salma tetap menjadi mahasiswa yang ambis,
pun setiap hari datang dan membaca buku di perpustakaan. Yang membedekan,
dahulu dia datang sendirian, sekarang hampir setiap hari dengan Wahyu.
Salma melontarkan sebuah argumen ketika
salah seorang temannya bertanya, “Iya, menjadi mahasiswa yang ambis itu adalah
sebuah tanggungjawab besar. Aku dekat dengan laki-laki bukan berarti aku
meninggalkan tanggungjawab itu, namun hanya sebagai penyemangat saja agar
kuliah lebih semangat lagi.”
Itu adalah pendapat populer yang
menjadi pembelaan, atau mungkin memang benar keadaannya demikian.
“Malam nanti kamu ada acara atau tidak,
Sal?” tanya Wahyu ketika mereka naik menju lantai empat.
“Tidak ada. Kenapa?” tanya Salma, dia
sudah menebak-nebak bahwa Wahyu akan mengajaknya jalan-jalan. Salma tersenyum.
“Jalan, yuk!”
Benar sekali apa yang menjadi tebakan
Salma.
“Ke mana?” tanya Salma.
“Ke bioskop!” jawab Wahyu dengan senyum
khasnya.
“Boleh.”
Selepas maghrib mereka berdua berangkat
ke bioskop. Wahyu membonceng Salma, itu adalah pengalaman pertama Salma
dibonceng oleh laki-laki selama menjadi mahasiswa. Seingat Salma, dia terakhir
kali dibonceng laki-laki, adalah beberapa tahun lalu, dan itu adalah bapaknya.
Awalnya Salma canggung. Tapi setelah
motor berjalan kurang lebih setengah jam, dia mulai terbiasa dengan hal
tersebut. Sepanjang jalan Salma tidak berhenti tersenyum, seperti ada sebuah
hal yang tiba-tiba masuk dalam hati, merubah arus pikirannya, sehingga
mempengaruhi sikapnya. Malam ini Salma benar-benar seperti terlahir sebagai
insan yang baru, yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.
Sampailah mereka di sebuah mal megah
ibu kota. Banyak muda-mudi di sana yang mencari hiburan, sekadar membuang penat
setelah seharian kuliah, sekolah, atau bekerja. Salma berjalan di samping
Wahyu.
Mereka masuk ke dalam bioskop, dan film
beberapa menit lagi akan ditayangkan. Salma tidak tahu film apa yang akan dia
tonton, Wahyu yang memilihnya.
“Kita mau nonton apa?” tanya Salma.
“Sewu Dino,” jawab Wahyu.
“Hah? Serius?” Salma membelalakkan mata
setelah tahu mereka akan menonton film horor.
“Iya. Santai saja, Sal. Di ruangan ini
banyak orang,” ujar Wahyu sembari mengelilingkan pandangan. “Tidak mungkin juga
hantu sampai masuk ruangan ini!” lanjutnya.
“Tapi aku takut,” ucap Salma manja,
sikap kewanitaannya benar-benar keluar.
“santai,” ujar Wahyu sekali lagi.
Entah apa yang ada dalam pikiran Wahyu,
dia senyum-senyum terus sejak tadi.
Tiga, dua, satu...
Lampu dimatikan, film mulai
ditayangkan.
Salma merapatkan duduknya, dekat sekali
dengan Wahyu. Keadaan benar-benar sunyi, hanya menyisakan suara dari speaker
bioskop. Salma sesekali menutup mukanya dengan tangan, sesekali memejamkan
mata. Bahkan dalam sebuah adegan yang benar-benar Salma tidak menduganya, Salma
secara reflek memeluk Wahyu yang ada di sebelahnya.
“Maaf, Wahyu, aku benar-benar kaget!”
ujar Salma tidak enak.
Mungkin itu adalah sebagian dari
rencana kecil Wahyu yang berhasil. Dia tersenyum-senyum sepanjang film diputar.
Samar-samar ketika film berlangsung,
dan pas pada bagian yang benar-benar menakutkan, tangan Wahyu bergerak
merangkul Salma. Salma pun diam, sebab dia sedang sangat tegang sekali
menyaksikan film. Wahyu semakin mendekap Salma, erat, dan Salma pun menikmati
keadaan yang demikian.
Selesai menonton film mereka makan di
luar mal. Mereka makan di sebuah tempat makan pinggiran jalan, menikmati alunan
malam, sesekali beradu pandang.
“Besok ada pelajara?” tanya Wahyu
memulai percakapan.
“Ada,” jawab Salma. “Besok full dari pagi sampai sore,”
lanjutnya.
“Sama,” sahut Wahyu.
Beberapa saat kemudian makanan yang
mereka pesan datang. Mereka asyik makan, tidak ada pembicaraan sampai
akhirnya mereka selesai makan.
Pukul satu malam mereka pulang, Wahyu
mengantarkan Salma sampai kostan.
***
Tidak terasa waktu berjalan begitu
cepat. Salma dan Wahyu sudah dekat hampir selama tiga bulan, UTS pun telah
lewat. Selama tiga bulan itu pula pendidikan Salma berjalan lancar, tidak ada
halangan.
Selepas maghrib Wahyu mengajak Salma
jalan-jalan, tidak jauh dari Ciputat. Wahyu mengajak Salma ke Setu Gintung.
Setu Gintung adalah sejenis danau buatan yang berada di Ciputat, tidak jauh
dari kampus UIN Jakarta.
“Sal, kamu tahu kenapa orang yang
stress itu akan sembuh hanya dengan melihat gelombang-gelombang air?” tanya
Wahyu, mereka tengah berjalan memutari Setu Gintung.
“Emmm, kenapa?” tanya Salma, dia tidak
tahu.
“Aku juta tidak tahu, haha!” sahut
Wahyu, tertawa keras-keras bersaing dengan suara angin.
Suasana gelap. Sayup-sayup dari masjid
Al-Mughiroh terdengar suara adzan isya’. Masjid Al-Mughiroh letaknya tidak jauh
dari kampus, dan biasanya masjid tersebut sering juga digunakan oleh mahasiswa
untuk kajian-kajian atau seminar.
Salma dan Wahyu duduk di tepi
danau, di atas rerumputan, udara mulai
dingin. Malam seperti ini hanya beberapa orang yang berkunjung ke Setu Gintung,
dan kebanyakan adalah muda-mudi yang ingin menghabiskan waktu, menenangkan
diri.
“Sal, apa cita-citamu?” tanya Wahyu
asal-asalan mengambil sebuah tema.
“Banyak cita-citaku, salah satunya
adalah menjadi pengusaha yang berpegang pada hukum-hukum dan ajaran Islam.”
Salma diam, tidak ada tanggapan dari Wahyu. “Kalau kamu?” tanya balik Salma.
“Aku ingin menjadi manusia yang
bermanfaat!” jawab Wahyu.
“Caranya?” tanya Salma.
“Apa saja, yang penting aku senang dan
bermanfaat untuk orang lain!”
“Nah, kalau lebih spesifiknya apa?”
cecar Salma.
“Bebas, menjadi apapun yang penting
bermanfaat!” Wahyu tertawa.
“Ihh, gak jelas!” Salma memukul ringan
pundak Wahyu.
Beberapa saat berikutnya mereka hanya
saling diam, hanya terdengar suara hembusan angin yang menerpa dedaunan,
menggerak-gerakkan air danau.
Samar-samar Wahyu melirik Salma.
Sebagai lelaki biasa, ketika memandang seorang wanita, pastilah adalah wajah
yang menjadi sasaran pertama. Iya, Wahyu memandang lekat wajah Salma tanpa
Salma sadari. Wahyu bergerak, merapatkan duduknya lebih dekat lagi. Salma hanya
diam. Salma diam bukan karena dia tidak tahu, tapi lebih menunggu apa yang akan
dilakukan oleh Wahyu. Salma santai-santai saja sebab sejauh ini Wahyu selalu
baik kepadanya.
Wahyu memberanikan diri merangkul
Salma. Seketika keringat dingin keluar dari jidat Salma, tubuhnya bergetar. Ini
adalah kali kedua Wahyu memeluknya, selain di bioskop beberapa hari lalu.
Salma menikmati kehangatan itu. Pun
demikian dengan Wahyu, semakin lama dia semakin berani menggerak-gerakkan
tangannya, mengelus-elus bahu Salma. Kehangatan menjalar pada keduanya.
“Sal, aku tidak tahu harus berkata apa
padamu!” ujar Wahyu.
Salma salah tingkah. Ini adalah kali
pertama Salma dekat dengan laki-laki. Dia diam.
“Malam ini aku bahagia sekali, Sal!”
ujar Wahyu.
Wahyu memegang kepala Salma, memaksa
untuk saling berhadapan. Salma menurut saja apa yang diinginkan oleh Wahyu.
Detak jantung Salma tidak beraturan, dia tidak bisa berpikir secara rasional
dan tidak mengerti apa yang harus
dilakukannya. Sekali lagi ini adalah pengalaman pertama Salma.
"Kenapa, Wahyu?" Salma
bertanya.
"Sungguh indah apa-apa yang
diciptakan Tuhan oleh cinta." Wahyu semakin mendekatkan wajah Salma pada
wajahnya. Getaran jantung Salma semakin cepat dan tidak beratur.
Malam yang diam dan bisu menjadi saksi.
Pepohonan yang daunnya bergerak-gerak ikut menyaksikan dua Insan, yang entah
dengan alasan cinta atau nafsu, menyatukan hati.
Tidak ada jarak antara tubuh Salma dan
Wahyu. Keduanya berciuman di bawah naungan sinar rembulan. Ketika Wahyu
menginginkan lebih, Salma buru-buru menghentikan. "Wahyu, aku tahu kamu
mencintaiku. Dan terima kasih untuk semuanya, aku rasa sudah cukup."
"Terima kasih, Salma!' ujar Wahyu,
dia kembali merangkul Salma.
Mereka pulang pukul sebelas malam.
Sebelum sampai kostan, mereka makan terlebih dahulu di sebuah rumah makan
pinggiran jalan.
***I
Seperti biasa, Salma berangkat pagi,
duduk di bawah pepohonan taman, membaca buku, sampai akhirnya Rara datang. Tapi
kali ini sepertinya ada yang berneda dengan Salma. Sudah lima menit dua membuka
bukunya, tapi satu halaman belum juga selesai dibacanya. Dia masih teringat
dengan kejadian semalam. Dalam hati kecilnya ada sebuah perasaan malu, dalam
ruang hati yang lain ada sebuah keinginan untuk berbuat lebih.
"Ah, kenapa, sih, aku?"
gerutu Salma pada dirinya sendiri yang tidak bisa konsentrasi membaca buku.
Pada sebuah kesimpulan, akhirnya Salma
menutup bukunya. Dia hanya melamun, membayangkan kejadian semalam, bahkan
berusaha untuk merasakan kembali nikmatnya.
"HALO!"
Tiba-tiba Salma dikagetkan oleh suara
Rara.
"Ih, kaget, tau," gerutu
Salma.
"Lagian, pagi-pagi sudah melamun
saja," ujar Rara.
Mereka berdua berjalan menuju ruang
kelas. Di perjalanan itulah Rara bertanya, "Sal, akhir-akhir ini kamu jadi
semakin banyak melamun. Sadarkah kamu, Sal?"
"Kan, emang biasanya aku suka
melamun, Ra," sahut Salma.
"Tapi," ujar Rara, dia
berhenti melangkah, menatap Salma dari ujung kaki sampai kepala. "Ada yang
aneh denganmu, Sal. Kamu tidak melamun seperti biasanya, kamu melamun seperti
orang-orang yang...." Rata tidak melanjutkan kata-katanya.
"Orang yang apa?" desak
Salma.
"Iya, gitu. Seperti orang yang
tengah membayangkan sebuah hal."
"Enggak, aku biasa saja dan tidak
apa-apa!" Salma menegaskan.
Mereka berdua sampai di kelas. Benar
apa yang dikatakan oleh Rara kalau Salma akhir-akhir ini terlalu banyak melamun,
seperti tengah membayangkan hal-hal indah. Kadang, Salma memegang kepalanya
sendiri, lalu menundukkannya, tersenyum-senyum sendiri.
“Benar-benar aneh ini orang!” ujar Rara
ketika dosen baru saja masuk kelas.
Seperti biasa, malamnya Salma
jalan-jalan bersama Wahyu. Seperti biasa pula, Wahyu mengajak Salma ke danau
Situ Gintung, lepas maghrib mereka berangkat.
“Salma!” panggil Wahyu ketika mereka
duduk-duduk santai di tepian danau.
“Kenapa?”
“Tuhan baik sekali kepadaku. Tuhan sudi
mendatangkan bidadari secantik dirimu kepadaku!”
Mendengar kalimat itu Salma merasa
sangat bahagia. Wajah Salma merah padam, manahan malu, menahan bahagia, dan
akhirnya dia tersenyum.
Pelan-pelan Wahyu merangkul Salma.
Sekarang denyut jantung Salma lebih beraturan, dia sedikit bisa mengendalikan
dirinya. Tapi sekarang yang dilakukan oleh Wahyu berbeda dengan biasanya. Wahyu merangkul Salma dari belakang,
melingkarkan tangannya pada pinggang Salma. Nah, itulah yang membuat detak jantung
Salma lebih tidak beraturan lagi.
“Salma, aku ingin bahagia malam ini.
Aku ingin kita bahagia bersama malam ini!” ujar Wahyu, tangannya berusaha
meraih sesuatu.
Buru-buru Salma menarik diri. “Jangan,
Wahyu,” ujarnya.
Wahyu telah kehilangan akalnya, tidak
mendengarkan apa yang dikatakan oleh Salma. Wahyu terus berusaha mendapatkan
apa yang dia inginkan, terlepas dari Salma berusaha untuk berontak.
“Salma, aku ingin bahagia dan
bersenang-senang malam ini!” Wahyu tersenyum setan.
“Jangan, Wahyu!” Sekali lagi Salma
berusaha melepaskan pelukan Wahyu yang begitu kuat.
Pada akhirnya ketika keadaan
benar-benar tidak bisa dihindarkan, akkhirnya Salma berteriak.
“Tolongg...”
Melihat Salma yang berteriak, Wahyu
berusaha menutup mulutnya. Tapi terlambat, sudah ada dua laki-laki yang
mendatangi mereka berdua.
“Ada apa, Kak?” tanya seorang lelaki
yang datang dengan berlari.
“Oh, jadi kalian mau berbuat yang
tidak-tidak di sini?” ujar lelaki satunya.
“Tidak, Mas. Dia yang memaksa!” sahut
Salma.
“Oh, gitu,” ucap salah seorang lelaki.
“Sekarang lebih baik kalian pergi dari sini daripada datang orang lebih banyak
lagi!”
Baiklah, Salma segera beranjak pergi
meninggalkan Wahyu. Untunglah dua pemuda itu tidak berbuat apa-apa kepada
mereka. Suasana hati Salma malam ini benar-benar tidak menentu. Entah dia harus
bahagia atau sedih.
Sampai di kostan, Salma segera tidur.
Tapi keadaan yang demikian tidak mengijinkannya untuk segera memejamkan mata.
***
Pagi seperti biasa, Salma berangkat ke
kampus, duduk di bawah pepohonan rindang taman, membuka buku dan membacanya.
Tapi pagi ini Salma tidak berniat sama sekali untuk membuka bukunya. Dalam
ingatan Salma masih berputar-putar kejadian semalam. Ah, Salma tidak boleh
terus memikirkan hal yang demikian, dan akhirnya Salma memutuskan untuk membuka
dan membaca bukunya.
Baru membaca satu halaman, tiba-tiba
Salma teringat dengan peristiwa satu tahun lalu, ketika Salma akan berangkat ke
Jakarta.
Sore itu, Salma berniat untuk
berpamitan dengan teman-temannya.
“Anis, aku besok mau berangkat ke
Jakarta, mau melanjutkan kuliah!” ujarnya pada Anis, salah satu teman di
kampungnya.
“Wah, kamu hebat, Sal, bisa melanjutkan
kuliah!” ujar Anis.
Memang benar, tidak semua orang di desa
itu bisa mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah. Pun, lulus SMA adalah
sebuah prestasi tersendiri bagi anak-anak desa tersebut.
“Semoga kapan-kapan aku bisa menyusul,
Sal!” ujar Anis.
“Aminnn!” Salma mengaminkan, mereka
berdua berpelukan lama, sampai akhirnya Salma berkata, “Oke, Nis. Aku mau ke
rumah Rani dulu, pamitan juga!”
Salam berjalan menuju rumah Rani. Rani
adalah teman dekat Salma sejak lama, dia anak RT.
“Ran, aku besok mau berangkat ke
Jakarta, mau melanjutkan kuliah!” ujar Salma.
“Iya, aku sudah tahu itu, Sal!” ujar
Rani.
“Hah? Dari mana kamu tahu?” tanya Salma
heran, padahal dia belum menceritakan rencananya selain kepada kedua orang
tuanya.
“Kemarin malam pas hujan itu, bapakmu
ke sini. Dia minjam duit ke bapak. Nah,
aku pas duduk bareng bapak juga!” ujar Rani.
Degg...
Mendengar itu Salma benar-benar merasa
terpukul. Jadi ketika dia duduk di teras rumah malam-malam itu, bapaknya tengah
mencari hutangan untuk dirinya?
“Eh, bukan hutang maksudnya. Memang
bapakku menawarkan sebuah bantuan gitu, Sal!” Merasa bersalah, Rani segera
meralat tutur katanya.
“Oh, gitu. Terima kasih banyak, iya,
Ran. Kamu adalah teman yang baik, dan aku tidak akan pernah melupakan jasa
keluargamu!” ujar Salma.
Salma benar-benar merasa tidak enak,
merasa bersalah, dan akan merugikan banyak pihak jika dia kuliah dengan
bersungguh-sungguh.
Air mata Salma mengalir dengan
derasnya. Di mana cita-cita itu sekarang berada? Di mana cita-cita seorang anak
desa yang ingin menjadi pengusaha berdasarkan hukum-hukum Islam? Di mana
cita-cita seorang wanita yang ingin menjadi sarjana pertama di keluarganya?
Bohong, itulah cita-cita yang bohong, Salma telah berbohong kepada dunia dan
dirinya.
Sadar bahwa kampus mulai ramai, Salma
berjalan menuju kamar mandi. Dia menangis di sana, berteriak sekencang mungkin
dan tidak ada yang mendengarnya.
“Bapak, maafkan Salma yang tidak bisa
menjadi anak baik seperti yang bapak inginkan. Mamak, Salma tidak tahu harus
berbuat apa sekarang. Salma anakmu ini sekarang sudah menjadi pendosa, Mak!”
Dalam keadaan yang demikian, sebuah
bayangan mendatangi Salma, kemudian berkata, “Hidupmu masih panjang, Salma.
Mamak dan bapak tidak kecewa denganmu, masih banyak waktu untuk berbenah dan
tidak untuk mengulangi kesalahan yang sama.”
Salma mencari-cari asal suara itu, tapi
dia tidak menemukannya. Iya, Salma tidak akan pernah menemukan asal suara itu,
sebab itu adalah suara hati seorang mamak yang selalu ingin anaknya berjalan,
menjadi manusia hebat. Itu adalah suara mamak yang menginginkan anaknya bangkit
kembali dengan kesalahan-kesalahan yang telah lampau.
Tangerang Selatan, 20 November 2023




0 Post a Comment
Posting Komentar