JENDERAL SEMBRONO
Karya : Azka Taslimi
Aku selalu berharap cuaca mendung
seperti ini akan selalu menghiasai hari-hari. Jelas mendung yang murung dan
hawa dingin lebih membuat hati merasa nyaman, dan tubuh malas untuk bergerak,
dan pagi itu kelam menyelimuti. Aku duduk termenung di teras rumah, hari Minggu
dan aku libur kerja. Perumahan ini selalu membuat nyaman dan tenang, tidak ada
kendaraan hilir-mudik seperti di luaran sana. Namun, hari ini hanya ada satu
dalam hidupku, dan itu hanya hari Minggu. Enam hari setelahnya aku harus berjibun
dengan pekerjaan kantor.
Satu dua kendaraan roda empat
melintas di jalan depan rumah, lebih tepatnya di depan pagar. Semua rumah di
perumahan ini berpagar, bahkan ada yang berbenteng tinggi menjulang. Semua itu
adalah simbol dari keinginan hati yang menginginkan rasa nyaman. Semua itu kami
lakukan untuk memunculkan rasa aman dan nyaman. Bukan apa-apa, kami adalah
orang kaya yang sewaktu-waktu maling datang dan menjarah rumah. Maka, CCTV dan
pagar bahkan benteng adalah sebuah hal yang wajib. Bahkan aku tidak terlalu
percaya dengan satpam di depan sana yang berjaga 24 jam. Mungkin tugas mereka
hanya membukakan portal untuk kendaraan yang lewat dan menunjukkan alamat rumah
kepada tukang pos.
“Hari ini sungguh menyenangkan,
satu hari yang membuat tubuh benar-benar nyaman!” ujarku kepada burung pipit
yang bertengger di dalam sangkar besar, warnanya sungguh indah, seindah hariku
ini. “Kamu tahu, Seli?” tanyaku pada burung pipit, dia bernama Seli. “Kamu tahu
bahwa hidupku sungguh sangat menyenangkan ketika hari Minggu datang?”
Beberapa saat kemudian pembantu
rumah tanggaku datang, dia membawa kopi dan beberapa roti di atas piring. Aku suka
sekali dengan asisten rumah tanggaku itu. Bukan apa-apa, sebab dia rajin dan
peka terhadap pekerjaan yang dia memang seharusnya kerjakan. Dia berasal dari
Magetan, Jawa Timur. Beberapa tahun yang lalu dia datang melamar pekerjaan,
entah dari mana istriku bisa bertemu dengan dia. Usianya dua puluh satu tahun
dan berambut panjang. Namanya Dian.
“Bahagia sekali, Pak!” ujar Dian
menyapaku sembari meletakkan kopi dan piring di atas meja kecil teras. Aku hanya
tersenyum ringan untuk menjawab pertanyannya, dan itu adalah kebiasaanku. Jadi,
dia tidak akan tersinggung dengan itu. Beberapa saat kemudian dia kembali ke
dalam rumah.
Bukan hanya aku, namun juga
anakku yang suka sekali dengan Dian. Menurut anakku yang usianya tujuh tahun,
namanya Angel, dan berambut panjang pirang, Diana sangat asyik dan tidak
membosankan. Hanya saja, kata Angel, Diana adalah wanita yang mudah marah,
namun mudah pula untuk kembali tidak marah. Dan orang seperti itu
jarang-jarang. Sekali lagi dia berasal dari Magetan, Jawa Timur.
Beberapa saat kemudian istriku
datang, raut wajahnya seperti ingin menyampaikan sesuatu kepadaku. “Ada apa,
Ma?” tanyaku terlebih dahulu ketika dia menyeruput kopiku.
Istriku berkata, “Tidak apa-apa,
Pa! Ini ada chat dari Pak Irwan!”
Pak Irwan adalah bosku di kantor.
Dia adalah manusia yang sangat berarti dalam hidupku. Dengan cekatan aku
mengambil hp di atas meja yang tadi di bawa keluar istriku.
“Sim, nanti siang kamu bisa ke
kantor? Ini ada urusan mendadak, dan beberapa orang saja!”
Begitu bunyi tulisan yang aku
baca.
Seketika kopi di meja itu tidak
lagi hangat, roti tawar di sebelahnya juga tidak menarik sama sekali. Ini semua
disebabkan oleh chat beberapa kata tadi.
“Sial, kenapa harus hari Minggu!”
gerutuku tidak terima, namun tidak ada yang bisa aku lakukan sama sekali
kecuali menuruti perkataannya dan datang ke kantor.
“Sarapan dulu, Pa! Dian sudah
masak!” ujar istriku. Untunglah aku punya istri seperti dia yang selalu ada
dalam hidupku, meksipun ketika pagi aku harus berangkat kerja dan dia berangkat
bekerja pula, malam kami sudah lelah. Satu-satu hari yang panjang untuk
menikmati hidup bersama adalah hari Minggu, namun Minggu ini sangat-sangat
sial.
Ketika aku masuk ke dalam rumah
dan berjalan menuju meja makan, di sana sudah ada anakku, Angel dan Dian. Aku senang
sekali melihat Angel bahagia, sebab tujuan hidupku adalah membahagiakan mereka.
Begitupun dengan Dian. Meskipun Dian bukan keluarga kami, tapi kami sudah
menganggapnya sebagai keluarga, aku harus berbuat baik kepadanya.
“Angel makan apa?” tanyaku kepada
Angel.
“Aku makan sayur kangkung, Pa! Enak
banget masakan Kak Dian!” jawab Angel dengan wajah semringah.
“Anak pinter!” sahut mama sembari
mengelus rambut Angel. Dia sudah makan, disuapi oleh Dian.
Sekilas aku melirik Dian. Sebenarnya
dia adalah wanita yang cantik, namun dia tidak suka bergaya lebih. Samar-samar
aku memandang bibirnya, merah tanpa lipstik. Samar-samar aku memandang
hidungnya! Samar-samar sekujur tubuhnya aku pandangi.
Tit... tit... tit...
Tiba-tiba ada chat dari Pak Irwan
masuk lagi.
“Kamu bisa datang sekaran, Sim! Urusan
ini benar-benar mendesak dan harus
sekarang!”
Baiklah, aku akan berangkat
sekarang. Lupakan saja sarapan pagi bersama istriku, Angel, dan Dian. Aku akan
berangkat sekarang.
“Ma, ternyata waktunya sekarang! Pak
Irwan chat lagi dan ternyata sekarang!” ujarnya sembari berjalan menuju kamar,
berganti pakaian sebab aku sudah mandi subuh tadi.
“Papa berangkat dulu, Ma!”
“Hati-hati, Pa!” ujar istriku. Aku
tidak sempat melihat dia lagi.
“Kalau pulang bawa batagor ya,
Pa!” teriak Angel dari dalam. Di ambang pintu aku menoleh, lalu berkata dengan
setengah berteriak, “Siap, Bos!” Dia adalah bos kecil dalam hidupku. Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan
posisinya.
Aku mengemudikan mobil keluar
dari gerbang rumah. Kami tidak mempunyai satpam, aku membuka pagar sendiri dan
menjalankan mobil, kembali menutup setelah berada di luar. Jalan perumahan sepi
benar dengan kendaraan. Terlihat di depan sana ada beberapa orang tengah
olahraga, dan itu adalah impianku yang tertunda. Lebih depan lagi di sana ada
beberapa orang bermain bulu tangkis di lapangan mini, sekali lagi itu adalah
impianku yang tertunda bersama Angel. Aku bermimpi bisa bermain bulu tangkis
bersama dengan anakku, Angel.
Tanpa membunyikan klakson satpam
itu sudah membuka portal dengan sendirinya, memang itu adalah pekerjaannya.
“Silakan, Pak!” ujarnya
basa-basi, dan aku tahu itu. Aku tahu bahwa semua satpam ketika mempersilakan
adalah basa-basi, wajahnya dibuat tersenyum sebisa mungkin.
Oh, betapa menyebalkan hari
Minggu seperti ini ketika keluar rumah dan melintasi jalan raya. Hari Minggu
macet sekali. Tapi ada satu hal yang setidaknya membuatku bersyukur, setidaknya
hari Senin lebih macet lagi dari pada hari ini. Hari Senin adalah hari aktif,
semua pekerja kantor dan pelajar aktif. Akhirnya
aku lebih memilih jalur tol. Aku masuk gerbang tol di depan sana.
Setengah jam akhirnya sampai
juga. Kantor itu terlihat megah sekali. Namun sayang, jabatanku belumlah
seberapa, aku masih butuh beberapa tahun lagi dan kerja keras untuk naik
jabatan.
Benar, di parkiran sudah ada
mobil Pak Irwan, aku kenal sekali dengan mobil sportnya. Indah dan aku ingin
membelinya kapan-kapan.
Aku berjalan menuju pintu masuk
kantor, lagi-lagi ada satpam yang mempersilakan dan dengan senyum yang
dipaksakan.
Kantor ini sepi sekali, benar apa
yang dikatakan oleh Pak Irwan bahwa hanya ada beberapa orang yang akan bertemu,
dan aku adalah salah satunya. Ada apa denganku? Apakah aku akan naik jabatan? Bukan,
tidak, itu adalah sebuah hal yang mustahil sebab begitu cepat.
Aku membuka ruangan pertemuan
yang sudah diberitahukan oleh Pak Irwan melalui chat. Aku membuka pintu, dan ketika
aku membuka pintu, saat itulah aku mendengar sebuah desingan keras.
Dor... dor.... dor...
Tiga kali aku dengan suara
desingan itu, dan itu adalah suara pistol dari arah samping. Satu mengenai
kepalaku, satu mengenai perutku, dan satu lagi mengenai kakiku. Benar-benar aku
tidak menyangkanya. Di sana, di depan sana, di sebuah kursi yang empuk, aku
melihat bayangan manusia bangsat. Tapi aku tidak tahu persis siapa dia, sebab
mataku mulai kabur.
Satu kata yang terakhir terucap
dari bibirku. “Angel, maafkan Papa tidak bisa membelikan Angel batagor!”
Tangerang, 23 Agustus 2022





Oke, nice
BalasHapus