Kehidupan Kalangan Bawah by Azka Taslimi | Sastra Putar Balik

 

KEHIDUPAN KALANGAN BAWAH

        Pukul empat pagi dia bangun, berjalan menuju ruang tengah dan menyalakan lampu. Dia tidak menyalakan lampu kamar, sebab dengan demikian pastilah anak dan istrinya akan terbangun. Dia berjalan menuju posisi galon berada, memencet krannya dan keluarlah air dari sana. Suara air lirih bergemericik ketika menyentuh ujung gelas, mengisi heningnya pagi yang dari kejauhan terdengar suara kendaraan memulai harinya, dan dari kejauhan yang lebih jauh lagi terdengar pengeraas suara masjid mengumandangangkan tarkhim yang menggema, dan dari kejauhan yang lebih jauh lagi terdengar suara panggilan hati namun tiada yang menghiraukannya.

Beberapa menit kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi, membasuh muka, tangan, tapi tidak sampai dia namakan semua gerasakan itu berwudu. Pukul empat lebih lima belas menit, suara kendaraan di luar lebih terdengar, pengeras suara masjid dengan sendirinya terkalahkan, sayup-sayup terbawa desiran angin.

Krek...

Terdengar suara pintu dibuka, dan itu adalah tangan kasar Jamal. Jamal adalah manusia tua yang usianya mungkin saja lebih dari 40. Bangun pagi, berangkat kerja sebagai sopir angkot, pulang, kemudian tidur untuk bangun lagi. Pukul empat lebih lima belas menit.

Di halaman rumah yang sempit itu, dan sebenarnya itu bukan halaman rumah melainkan teras serba guna, terparkir sebuah angkot tua berwarna kekuning-kuningan. Dibagian paling depan tertuliskan ‘DOA IBU’. Itu adalah tulisan yang dia buat belasan tahun lalu, ketika dia tengah bahagia sebab mendapatkan pekerjaan baru menjadi sopir angkot, setelah dipecat menjadi satpam Mall Pondok Indah.

Mbem... mbem...

Suara angkot yang dinyalakan oleh Jamal. D10 segera berjalan keluar gang itu, menyusuri rute biasa yang dia lalui. Seratus meter keluar gang, akhirnya penumpang pertama dia temui, seorang ibu-ibu yang memakai jilbab panjang, daster kebesaran dan panjang, tas besar, sandal jepit. Rupanya dia hendak pergi ke pasar Ciputat, berbelanja.

Ibu-ibu itu naik angkot dengan susah payah, tentunya kalian tahu sendiri bagaimana susahnya seseorang yang mempunyai berat badan spektakuler ketika naik angkot. Ketika kaki kanannya menginjak angkot pertama kali, angkot langsung sumbing ke sebelah kiri, menahan beban kehidupan. Ibu itu menghempaskan diri di atas kursi kayu angkot yang tiada empuknya. Tidak ada percakapan terjadi, sudah menjadi sebuah kebiasaan.

Penumpang kedua menghentikan angkot dan naik. Dia adalaha laki-laki tua, usianya tidak jauh dari Jamal yang kini menyedot rokoknya dengan rakus, lalu membuang asapnya keluar jendela pintu yang seharusnya ada kacanya. Bapak-bapak itu mengenakan topi koboi, wajahnya kering dan kulitnya sudah seperti jaring-jaring. Dia duduk di samping ibu-ibu gendut.

Ibu-ibu gendut membatin, “Kursi masih banyak kenapa duduk di sini?” sembari bibirnya dimoncongkan.

Bapak-bapak membatin, “Wanita tua! Apakah dia tidak punya rencana untuk diet?” sembari matanya melirik pergelangan tangan ibu-ibu yang tidak rupa pergelangan tangan saking gemuknya.

Sedang sopir di depan tidak membatin sama sekali. Tidak ada yang dia risaukan.

Matahari menyambut, sinarnya kemerah-merahan, tetapi tidak ada yang menghiraukan sama sekali. Saat itu pula angkot berhenti di pasar Ciputat. Ibu-ibu turun dengan susah payah, dan saat kedua kakinya genap menginjak aspal yang berair sebab semalaman hujan, tubuh angkot terangkat bebera senti, bebannya menurun. Ibu itu mengulurkan beberapa lembar uang kepada Jamal dari jendela pintu angkot tanpa berkata-kata. Jamal pun menerima dengan wajah acuh tak acuh, lalu melemparkan uang 5000 rupiah itu ke dasbor.

Angkot kembali berjalan, asapnya hitam mengepul ketika pertama kali Jamal menginjak gas.

Titttttt...

Jamal memukul keras klakson sebab ada ibu-ibu yang menyebarang jalan sembarangan. “Dasar wanita!” umpat Jamal.

Beberapa menit kemudian ada seseorang yang melambaikan tangan kepada angkot Jamal. Jamal menginjak remnya, tanpa menyalakan sen dia menepikan angkotnya ke sebelah kiri. Sontak dari belakang seorang pengendara motor mencak-mencak.

Tit... tittttt...

Tapi Jamal santai saja, sudah ribuan kali peristiwa seperti itu dia lalui. Kali ini Jamal membatin, “Angkutan umum harus didahulukan, sebab menanggung lebih banyak penumpang dan nyawa!”

Rapi benar orang yang akan naik angkot Jamal, mungkin pegawai bank. Dia memakai jas hitam berdasi kupu-kupu, baju dalamnya berwarna putih, rok selutut dan berwarna hitam pekat, memakai sepatu layaknya pegawai bank. Samar-samar Jamal melirik tubuh wanita itu ketika menaikkan satu kakinya ke dalam angkot. “Putih benar betisnya,” batin Jamal.

Bemmmm....

Jamal kembali menginjak gas angkotnya, asap mengepul kemudian menghilang. Kendaraan-kendaraan saling mendahului, tidak ada yang mempunyai rasa untuk mengalah. Lambat, bahkan lebih lambat dari kerbau yang berjalan santai, angkot itu berjalan, bernapas sesenggukan. Beberapa saat kemudian pengamen naik ke atas angkot membawa ukulele berwarna hijau tua, wajahnya penuh dengan tato dan celananya sobek-sobek, jaket abu-abu Dilan. Itulah yang mereka namakan dengan sebutan ‘Keren’.

Jreng... jreng...

Petikan senar terakhir dari pengamen, lalu berkata, “Selamat jalan semoga selamat sampai tujuan!”

Pengamen itu mengacungkan sebuah kantong plastik  bekas permen Kopiko yang dilipat asal-asalan. Bapak-bapak mengeluarkan uang 2000an, dan wanita cantik yang sepertinya pegawai bank melambaikan tangan. Pengamen turun dari angkot sembari melompat.

Angkot berhenti di bawah lampu merah persis, bahkan roda depannya menginjak garis-garis putih. Beberapa orang terlihat menyeberang, itu adalah para mahasiswa yang menuju kampus UIN. Dua menit angkot kembali berjalan, Jamal melirik sebuah warung di tepian jalan. AYAM BAKAR BEJO. Demikian tulisan papan namanya. Di bawah tulisan itu ada seseorang yang tengah mengeluarkan panggangan ayam, wajahnya kusam, kumal, belum mandi.

Dan kalian tahu siapa lelaki itu? Itu adalah aku! Pukul delapan pagi!

Dan aku tidak tahu ke manakah lelaki tua itu menuju, juga gadis cantik pegawai bank.

Aku meneruskan membersihkan panggangan. Setelah selesai selanjutnya aku menyalakannya dengan arang. Dari kejauhan aku pandangi angkot D10 yang berjalan pelan, macet tengah menghadang.

Tangerang, 16 Agustus 2022

 

3 Post a Comment: