KEHIDUPAN KALANGAN BAWAH
Beberapa menit kemudian dia sudah
keluar dari kamar mandi, membasuh muka, tangan, tapi tidak sampai dia namakan
semua gerasakan itu berwudu. Pukul empat lebih lima belas menit, suara kendaraan
di luar lebih terdengar, pengeras suara masjid dengan sendirinya terkalahkan,
sayup-sayup terbawa desiran angin.
Krek...
Terdengar suara pintu dibuka, dan
itu adalah tangan kasar Jamal. Jamal adalah manusia tua yang usianya mungkin
saja lebih dari 40. Bangun pagi, berangkat kerja sebagai sopir angkot, pulang,
kemudian tidur untuk bangun lagi. Pukul empat lebih lima belas menit.
Di halaman rumah yang sempit itu,
dan sebenarnya itu bukan halaman rumah melainkan teras serba guna, terparkir
sebuah angkot tua berwarna kekuning-kuningan. Dibagian paling depan tertuliskan
‘DOA IBU’. Itu adalah tulisan yang dia buat belasan tahun lalu, ketika dia
tengah bahagia sebab mendapatkan pekerjaan baru menjadi sopir angkot, setelah
dipecat menjadi satpam Mall Pondok Indah.
Mbem... mbem...
Suara angkot yang dinyalakan oleh
Jamal. D10 segera berjalan keluar gang itu, menyusuri rute biasa yang dia
lalui. Seratus meter keluar gang, akhirnya penumpang pertama dia temui, seorang
ibu-ibu yang memakai jilbab panjang, daster kebesaran dan panjang, tas besar,
sandal jepit. Rupanya dia hendak pergi ke pasar Ciputat, berbelanja.
Ibu-ibu itu naik angkot dengan
susah payah, tentunya kalian tahu sendiri bagaimana susahnya seseorang yang
mempunyai berat badan spektakuler ketika naik angkot. Ketika kaki kanannya
menginjak angkot pertama kali, angkot langsung sumbing ke sebelah kiri, menahan
beban kehidupan. Ibu itu menghempaskan diri di atas kursi kayu angkot yang
tiada empuknya. Tidak ada percakapan terjadi, sudah menjadi sebuah kebiasaan.
Penumpang kedua menghentikan
angkot dan naik. Dia adalaha laki-laki tua, usianya tidak jauh dari Jamal yang
kini menyedot rokoknya dengan rakus, lalu membuang asapnya keluar jendela pintu
yang seharusnya ada kacanya. Bapak-bapak itu mengenakan topi koboi, wajahnya
kering dan kulitnya sudah seperti jaring-jaring. Dia duduk di samping ibu-ibu
gendut.
Ibu-ibu gendut membatin, “Kursi
masih banyak kenapa duduk di sini?” sembari bibirnya dimoncongkan.
Bapak-bapak membatin, “Wanita
tua! Apakah dia tidak punya rencana untuk diet?” sembari matanya melirik
pergelangan tangan ibu-ibu yang tidak rupa pergelangan tangan saking gemuknya.
Sedang sopir di depan tidak
membatin sama sekali. Tidak ada yang dia risaukan.
Matahari menyambut, sinarnya
kemerah-merahan, tetapi tidak ada yang menghiraukan sama sekali. Saat itu pula angkot
berhenti di pasar Ciputat. Ibu-ibu turun dengan susah payah, dan saat kedua
kakinya genap menginjak aspal yang berair sebab semalaman hujan, tubuh angkot
terangkat bebera senti, bebannya menurun. Ibu itu mengulurkan beberapa lembar
uang kepada Jamal dari jendela pintu angkot tanpa berkata-kata. Jamal pun
menerima dengan wajah acuh tak acuh, lalu melemparkan uang 5000 rupiah itu ke
dasbor.
Angkot kembali berjalan, asapnya
hitam mengepul ketika pertama kali Jamal menginjak gas.
Titttttt...
Jamal memukul keras klakson sebab
ada ibu-ibu yang menyebarang jalan sembarangan. “Dasar wanita!” umpat Jamal.
Beberapa menit kemudian ada
seseorang yang melambaikan tangan kepada angkot Jamal. Jamal menginjak remnya,
tanpa menyalakan sen dia menepikan angkotnya ke sebelah kiri. Sontak dari
belakang seorang pengendara motor mencak-mencak.
Tit... tittttt...
Tapi Jamal santai saja, sudah
ribuan kali peristiwa seperti itu dia lalui. Kali ini Jamal membatin, “Angkutan
umum harus didahulukan, sebab menanggung lebih banyak penumpang dan nyawa!”
Rapi benar orang yang akan naik
angkot Jamal, mungkin pegawai bank. Dia memakai jas hitam berdasi kupu-kupu,
baju dalamnya berwarna putih, rok selutut dan berwarna hitam pekat, memakai
sepatu layaknya pegawai bank. Samar-samar Jamal melirik tubuh wanita itu ketika
menaikkan satu kakinya ke dalam angkot. “Putih benar betisnya,” batin Jamal.
Bemmmm....
Jamal kembali menginjak gas
angkotnya, asap mengepul kemudian menghilang. Kendaraan-kendaraan saling
mendahului, tidak ada yang mempunyai rasa untuk mengalah. Lambat, bahkan lebih
lambat dari kerbau yang berjalan santai, angkot itu berjalan, bernapas
sesenggukan. Beberapa saat kemudian pengamen naik ke atas angkot membawa
ukulele berwarna hijau tua, wajahnya penuh dengan tato dan celananya
sobek-sobek, jaket abu-abu Dilan. Itulah yang mereka namakan dengan sebutan ‘Keren’.
Jreng... jreng...
Petikan senar terakhir dari
pengamen, lalu berkata, “Selamat jalan semoga selamat sampai tujuan!”
Pengamen itu mengacungkan sebuah
kantong plastik bekas permen Kopiko yang
dilipat asal-asalan. Bapak-bapak mengeluarkan uang 2000an, dan wanita cantik
yang sepertinya pegawai bank melambaikan tangan. Pengamen turun dari angkot
sembari melompat.
Angkot berhenti di bawah lampu
merah persis, bahkan roda depannya menginjak garis-garis putih. Beberapa orang
terlihat menyeberang, itu adalah para mahasiswa yang menuju kampus UIN. Dua menit
angkot kembali berjalan, Jamal melirik sebuah warung di tepian jalan. AYAM
BAKAR BEJO. Demikian tulisan papan namanya. Di bawah tulisan itu ada seseorang
yang tengah mengeluarkan panggangan ayam, wajahnya kusam, kumal, belum mandi.
Dan kalian tahu siapa lelaki itu?
Itu adalah aku! Pukul delapan pagi!
Dan aku tidak tahu ke manakah
lelaki tua itu menuju, juga gadis cantik pegawai bank.
Aku meneruskan membersihkan
panggangan. Setelah selesai selanjutnya aku menyalakannya dengan arang. Dari kejauhan
aku pandangi angkot D10 yang berjalan pelan, macet tengah menghadang.
Tangerang, 16 Agustus 2022





Tes tes
BalasHapusSemoga memberi manfaat untuk kita semua, Amien.
BalasHapusJudule promosi iki
BalasHapus