DEMO BESAR
By Azka TaslimiPagi itu dengan semangat aku
berjalan menyusuri jalanan Ibu Kota bermodalkan ijasah S1, beberapa bulan yang
lalu aku wisuda. Memang sengaja aku tidak langsung mencari kerja, niatku adalah
untuk istirahat beberapa pekan melepaskan penat dunia perkuliahan. Dengan
pakaian rapi aku berjalan, menunggu angkot berharap segera datang. Benar, tidak
labih dari lima menit akhirnya angkot yang mengarah pada tujuanku datang. Aku
segera naik dan ketika itu, di dalam angkot tersebut sudah ada tiga atau empat
orang aku lupa.
Angkot berjalan terseok-seok di
antara mobil-mobil pribadi yang berjejalan, di antara ratusan motor yang seakan
menjadi slilit jalanan. Angkot
berhenti sejenak di bawah lampu merah, dan saat itu dua mahasiswi berjalan
menyeberangi jalan, kerudungnya melambai-lambai seakan angin ingin
menyingkapnya dan menunjukkan betapa indah rambut di baliknya. Tangan dua
mahasiswi itu bergandengan, sedang yang satunya lagi memegangi tas
masing-masing, yang tentu isinya adalah buku-buku pelajaran, rumus-rumus dan
makalah yang mereka susun selama kuliah.
Lampu merah padam, digantikan
dengan lampu hijau yang kusam menyala. Sekilas dari kursi paling belakang aku
melihat kaki sopir angkot menginjak gas. Angkot pelan berjalan. Sekilas juga
aku melihat lirikan sopir dari spion depan, melirik kepadaku dan berkata, “Gak
ikut demo, Mas? Mas ini mahasiswa, kan?”
Aku menjawab sembari tersenyum
tipis, “Beberapa bulan yang lalu saya sudah wisuda, Pak!” Ada sebuah rasa
bangga tersendiri ketika aku mengatakan sudah wisuda.
“Berapa tahun?” tanya sopir itu
lagi.
“Empat tahun,” jawabku.
“IPK berapa?”
“3,5” Raut bangga menghiasi
wajahku. Andai saja aku lebih rajin belajar pada saat itu, pastilah aku
mendapat IPK 4, sempurna. Tapi sepertinya ada yang janggal. Lihatlah! Bibir
sopir angkot itu seakan menghinaku secara tidak langsung. Bibirnya moncong dan
sengaja menghina, bibirnya mencibir.
“Gak ikut demo?” tanya sopir itu
untuk yang kedua kalinya untuk masalah demo.
“Demo apa?” aku balik bertanya.
Sebenarnya aku tahu masalah apa yang sedang di demo oleh para kalangan
khususnya mahasiswa, tapi biarlah, mereka sudah banyak jumlahnya. Sebenarnya
aku mendapatkan undangan online dari para mahasiswa, namun aku rasa kehadiranku
tidak akan membawa dampak apa-apa, hanya akan menjadi beban tim saja.
“Biasa, demo tahunan. Kan, setiap
tahun pasti harga BBM dinaikkan!” ujar sopir angkot. Lalu beberapa waktu
kemudian sopir angkot itu berkhutbah dari balik setir hitam yang dia pegang,
dengan sesekali membunyikan klakson kepada orang-orang dipinggiran jalan.
Begini khutbah sang sopir :
“Memang, siapa saja presidennya
selalu seperti ini. Ada yang mengatakan bahwa kenaikan BBM itu adalah hal yang
wajar. Mereka yang setuju dengan kenaikan BBM berkata Naik 2000 saja, kok, demo sampek 3 bulan. Lihat, tuh! Rokok yang naik
sebelas ribu, diem-diem bae!. Mereka tidak tahu betapa pentingnya uang 2000
masyarakat seperti kami. Mereka tidak tahu bahwa uang 2000 adalah sebuah harta.
Maka dari itu sebaiknya untuk pemerintah ketika mau menaikkan harga, alangkah
baiknya melalukan pengkajian yang dalam tentang pendapatan masyarakatnya!” Dia
diam sejenak, tiba-tiba ada seseorang yang menyeberang ketika angkot melaju
kencang.
Cittttt...
Ban angkot sempat mendecit
beberapa saat, kemudian berhenti di bahu jalan, para penumpang geram. Ada yang
berkata, “Kalau lagi nyopir jangan sambil khutbah, dong!” Tapi tidak sampai
terdengar sopir, dia sengaja mengumpat dengan penumpang lain di sebelahnya.
“Hei, Bang! Kalau mau nyebrang
lihat-lihat dahulu, jangan asal jalan! Untung tidak sampai tertabrak!” ujar
sopir angkot dengan geramnya.
Orang yang menyeberang jalan
hanya diam di pinggir kaca sopir sembari mengacungkan tangannya sembari meminta
maaf. Melihat dari seragam yang ia kenakan, rupanya dia adalah salah satu
mahasiswa.
“Mau ke mana, Mas?” tanya sopir,
nada bicaranya sekarang lebih ramah.
“Mau ikut demo, Pak! Kumpul di
taman depan sana!” jawab mahasiswa dengan ragu-ragu.
Tiba-tiba sebuah keajaiban
terjadi. Sopir itu mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya, kemudian
memberikan uang itu kepada mahasiswa yang wajahnya terasa lelah. “Ini untuk
saku! Dan ini....” sopir itu mengeluarkan batu kecil dari sakunya, “kamu
lemparkan ke wajahnya agar tau rasa!” wajahnya penuh dengan amarah.
“SIAP!” sahut mahasiswa semangat.
Dia tidak menyangka bahwa musibah bisa menjadi berkah. Sopir itu memberikan
uang 20.000 kepada mahasiswa sebagai saku demo. Secara tidak langsung, sopir
angkot itu telah mendukung gerasakan mahasiswa untuk membela masyarakat kecil.
Angkot kembali berjalan normal,
sesekali berhenti sebab titik kemacetan tidak teruraikan. Aku hapal betul
dengan jalanan ini, sebab selama kuliah sampai wisuda aku selalu melewati jalan
ini. Tidak ada yang berubah, selalu macet dan macet, kemudian macet lagi.
Pernah tidak macet, saat itu ketika aku pulang dari kerja kelompok kemudian
mampir ngopi, dan saat itu benar-benar lancar, pukul setengah tiga dini hari. Benar-benar
lancar, bahkan sepi.
Demo mahasiswa pagi ini ternyata
membuat macet lebih panjang. Ratusan mahasiswa melintas dengan membawa
umbul-umbul kebanggan masing-masing, ada pula yang membawa bendera merah putih,
ada pula yang membawa poster-poster tulisan. Ada satu yang sempat aku baca,
“Jika harga BBM tidak bisa turun, harga kebutuhan pokok tidak bisa turun, maka
lebih baik bapak saja yang turun jabatan!” Sebuah joks yang menurutku menarik
sekali dan sangat mengena, penuh dengan sindiran.
“Siapapun presiden Indonesia,
jika pola pikirnya tidak berubah, maka tidak akan menjadi bangsa yang besar!”
ujar sopir angkot lagi setelah angkot kembali berjalan beberapa puluh meter.
“Kata siapa?” Iseng-iseng aku
menimpalinya.
“Kata salah satu orang di
youtube!” jawabnya dengan sangar.
“Siapa namanya?” tanyaku lagi.
“Entah, aku juga lupa!” Kali ini
dia menjawab dengan cengengesan, aku mengetahui raut wajahnya yang cengengesan itu
dari spion depan yang berdebu, mungkin sudah dua bulan tidak ada yang
membersihkannya.
Tangerang, 10 September 2022





0 Post a Comment
Posting Komentar