Aku berjalan pelan, mengangkat dan menurunkan kaki perlahan agar
tidak menimbulkan suara. Entah bagaimana caranya, aku sekarang tengah berada di
tempat aneh ini. Tempatnya seperti gua, namun yang membuatnya aneh adalah semua
serba berwarna merah. Dinding-dinding dengan relief seperti kaligrafi
sekalipun, juga berwarna merah.
Gua ini begitu hening, dan setiap aku melangkah pasti menyisakan
suara, memantul pada dinding-dinding. Setelah kurang lebih seribu meter aku
melangkah di dalam lorong-lorong gua, sebuah suara aneh dan menakutkan
terdengar.
“Rasakan ini! Ini adalah hukuman untuk orang-orang yang korupsi!”
ujar suara lelaki, suaranya sangat berat dan serak.
“Ampun, Tuan! Saya berjanji tidak akan korupsi lagi!” suara memelas
menyahuti.
Blar...
“Aaaa...” suara teriakan kesakitan terdengar.
Tubuhku gemetaran, tapi aku penasaran dengan apa yang terjadi di
depan sana, satu kelokan lagi. Akhirnya aku memberanikan diri melangkah,
pelan-pelan, berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan suara.
Betapa terkejutnya aku ketika tahu bahwa di balik kelokan itu
adalah sebuah jurang. Iya, jurang itu memancarkan merah. Lihatlah! Bukankah itu
adalah api yang menyala-nyala? Sekarang aku tahu kenapa seluruh ruangan gua
berwarna merah. Ternyata itu adalah cahaya dari api yang menyala-nyala di bawah
sana, aku memperkirakan dalamnya sekitar 200 meter.
Di pinggiran jurang ada sebuah pagar yang terbuat dari kayu sebagai
pembatas. Aku berjalan ke sana, bermaksud mengintip apa yang terjadi di dalam
jurang. 200 meter itu terlalu dalam, tapi kenapa suaranya sangat jelas sampai
di sini? Aku semakin penasaran.
Ketika tanganku memegang pagar kayu, dan kepalaku melongok ke
depan, betapa terkejutnya aku ketika tahu bahwa di bawah sana ada ribuan
manusia. Tubuhku bergetar! Dalam keadaan seperti itu, sebuah kesialan
menimpaku. Pagar kayu yang aku jadikan pegangan tiba-tiba rapuh, patah, dan
pasti aku akan masuk ke dalam jurang, dan mati.
Tiba-tiba sebuah tangan menarik kakiku dari belakang. “Bertahanlah,
Muna!” ujarnya.
Aku seperti kenal dengan suara itu. Aku berusaha bertahan, dan
perlahan aku berhasil naik dan berada di posisi aman. Ternyata yang menarikku
dari belakang tadi adalah kakakku. Kok, dia bisa berada di sini? Kenapa
hadirnya pas aku akan jatuh ke jurang pula? Tidak masuk akal. Tapi syukurlah,
aku selamat. Tubuhku masih gemetaran, takut.
“Kenapa kamu bisa sampai di sini?” tanya kakakku.
Aku menjawab, “Entahlah, Kak. Aku tiba-tiba berada di sini! Awalnya
aku berniat untuk melihat jurang di bawah sana, penasaran!”
“Jangan, buang-buang waktu. Di bawah sana itu tempatnya para
koruptor di siksa!” ujar kakakku.
“Hah? Di siksa? Siapa yang menyiksa mereka, Kak? Malaikat?” tanyaku
penasaran.
“Bukan, yang menyiksa mereka adalah...”
Belum genap kata-kata kakakku, sebuah bayangan berkelebat, terbang
menuju posisi kita berdiri sekarang.
“Ayo lari, Muna! Dia adalah Iblis yang tengah mencari korban!” ujar
kakakku dengan nada khawatir.
“Iblis?” tanyaku pelan.
Belum sempat kakakku menjawab, bayangan itu berusaha menyergap kami.
“Kalian jangan lari, kalian akan kujadikan koruptor selanjutnya!” ujar bayangan
itu, suaranya benar-benar seram.
Aku dan kakakku berlari, berhasil menghindar dari sergapan makhluk
yang bernama Iblis. Tapi ternyata dia masih mengejar kami, kami menambah
kecepatan. Tapi percuma, tiba-tiba Iblis itu menangkap kakiku dan kaki kakakku,
menariknya dan membawa kami berdua terbang.
Samar-samar aku mendengar suara debat. Eh, ini aneh. Bukankah itu
adalah suara debat capres? Bukankah beberapa saat lalu itu adalah suara
moderator mengingatkan agar para suporter yang datang tidak berisik dan tetap
berlaku tertib? “Pelaku korupsi harus dimiskinkan?” ujar salah seorang capres,
menawarkan gagasannya. Mendengar kata itu, Iblis tertawa, menambah kecepatan
terbangnya. “Aku akan menambah pasukanku!”
“Muna! Bangun! Pindah ke kamar!” ujar ibuku sembari
menggerak-gerakkan kakiku.
Sembari mengumpulkan nyawa, aku lihat bapakku tengah menonton debat
capres. Ya Allah, hanya mimpi.
Tangerang Selatan, 18 Januari 2024





Aaaaa penulis kesukaan akuu, semangat yaaa
BalasHapus