Gua, Iblis, dan Ladang Korupsi - Cerpen Oleh Jasmiko | Sastra Putar Balik

 


        “Apakah ada orang di depan sana?” tanyaku pada diri sendiri.

Aku berjalan pelan, mengangkat dan menurunkan kaki perlahan agar tidak menimbulkan suara. Entah bagaimana caranya, aku sekarang tengah berada di tempat aneh ini. Tempatnya seperti gua, namun yang membuatnya aneh adalah semua serba berwarna merah. Dinding-dinding dengan relief seperti kaligrafi sekalipun, juga berwarna merah.

Gua ini begitu hening, dan setiap aku melangkah pasti menyisakan suara, memantul pada dinding-dinding. Setelah kurang lebih seribu meter aku melangkah di dalam lorong-lorong gua, sebuah suara aneh dan menakutkan terdengar.

“Rasakan ini! Ini adalah hukuman untuk orang-orang yang korupsi!” ujar suara lelaki, suaranya sangat berat dan serak.

“Ampun, Tuan! Saya berjanji tidak akan korupsi lagi!” suara memelas menyahuti.

Blar...

“Aaaa...” suara teriakan kesakitan terdengar.

Tubuhku gemetaran, tapi aku penasaran dengan apa yang terjadi di depan sana, satu kelokan lagi. Akhirnya aku memberanikan diri melangkah, pelan-pelan, berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan suara.

Betapa terkejutnya aku ketika tahu bahwa di balik kelokan itu adalah sebuah jurang. Iya, jurang itu memancarkan merah. Lihatlah! Bukankah itu adalah api yang menyala-nyala? Sekarang aku tahu kenapa seluruh ruangan gua berwarna merah. Ternyata itu adalah cahaya dari api yang menyala-nyala di bawah sana, aku memperkirakan dalamnya sekitar 200 meter.

Di pinggiran jurang ada sebuah pagar yang terbuat dari kayu sebagai pembatas. Aku berjalan ke sana, bermaksud mengintip apa yang terjadi di dalam jurang. 200 meter itu terlalu dalam, tapi kenapa suaranya sangat jelas sampai di sini? Aku semakin penasaran.

Ketika tanganku memegang pagar kayu, dan kepalaku melongok ke depan, betapa terkejutnya aku ketika tahu bahwa di bawah sana ada ribuan manusia. Tubuhku bergetar! Dalam keadaan seperti itu, sebuah kesialan menimpaku. Pagar kayu yang aku jadikan pegangan tiba-tiba rapuh, patah, dan pasti aku akan masuk ke dalam jurang, dan mati.

Tiba-tiba sebuah tangan menarik kakiku dari belakang. “Bertahanlah, Muna!” ujarnya.

Aku seperti kenal dengan suara itu. Aku berusaha bertahan, dan perlahan aku berhasil naik dan berada di posisi aman. Ternyata yang menarikku dari belakang tadi adalah kakakku. Kok, dia bisa berada di sini? Kenapa hadirnya pas aku akan jatuh ke jurang pula? Tidak masuk akal. Tapi syukurlah, aku selamat. Tubuhku masih gemetaran, takut.

“Kenapa kamu bisa sampai di sini?” tanya kakakku.

Aku menjawab, “Entahlah, Kak. Aku tiba-tiba berada di sini! Awalnya aku berniat untuk melihat jurang di bawah sana, penasaran!”

“Jangan, buang-buang waktu. Di bawah sana itu tempatnya para koruptor di siksa!” ujar kakakku.

“Hah? Di siksa? Siapa yang menyiksa mereka, Kak? Malaikat?” tanyaku penasaran.

“Bukan, yang menyiksa mereka adalah...”

Belum genap kata-kata kakakku, sebuah bayangan berkelebat, terbang menuju posisi kita berdiri sekarang.

“Ayo lari, Muna! Dia adalah Iblis yang tengah mencari korban!” ujar kakakku dengan nada khawatir.

“Iblis?” tanyaku pelan.

Belum sempat kakakku menjawab, bayangan itu berusaha menyergap kami. “Kalian jangan lari, kalian akan kujadikan koruptor selanjutnya!” ujar bayangan itu, suaranya benar-benar seram.

Aku dan kakakku berlari, berhasil menghindar dari sergapan makhluk yang bernama Iblis. Tapi ternyata dia masih mengejar kami, kami menambah kecepatan. Tapi percuma, tiba-tiba Iblis itu menangkap kakiku dan kaki kakakku, menariknya dan membawa kami berdua terbang.

Samar-samar aku mendengar suara debat. Eh, ini aneh. Bukankah itu adalah suara debat capres? Bukankah beberapa saat lalu itu adalah suara moderator mengingatkan agar para suporter yang datang tidak berisik dan tetap berlaku tertib? “Pelaku korupsi harus dimiskinkan?” ujar salah seorang capres, menawarkan gagasannya. Mendengar kata itu, Iblis tertawa, menambah kecepatan terbangnya. “Aku akan menambah pasukanku!”

“Muna! Bangun! Pindah ke kamar!” ujar ibuku sembari menggerak-gerakkan kakiku.

Sembari mengumpulkan nyawa, aku lihat bapakku tengah menonton debat capres. Ya Allah, hanya mimpi.

Tangerang Selatan, 18 Januari 2024

1 Post a Comment: