Manusia Tidak Akan Sepi Dari Masalah - Artikel by Azka Taslimi | Sastra Putar Balik

 



Setiap hari masalah itu akan datang, dan tidak akan pernah ada berhentinya sampai kita mati. Jadi kesimpulannya adalah selama kita hidup, kita akan menghadapi dan menjadi masalah.

Kehidupan dimulai dari bangun  pagi. Apakah di situ tidak ada masalah? Ada, namun sebab saking seringnya kita menghadapi masalah tersebut, jadilah kita menjadi terbiasa. Apa masalahnya? Rasa ngantuk yang tidak ingin pergi misalnya. Jika menuruti nafsu, maka keinginan terbesar adalah kembali tidur dan bangun nanti pukul sembilan pagi dan sarapan. Namun keadaan berkata lain, ada pekerjaan yang harus dikerjakan, ada yang sekolah, kuliah, dan beraneka ragam kesibukan lainnya.

Perut yang lapar adalah sebuah masalah. Namun seperti yang sudah dikatakan di atas, bahwa kita terlalu sering mendapatkan masalah yang demikian sehingga menjadi terbiasa, bahkan menganggapnya tidak menjadi sebuah masalah. Solusi dari lapar adalah makan. Nah, bagaimana cara kita memecahkan masalah tersebut yaitu mendapatkan sebuah makanan untuk menghilangkan lapar?

Ada yang memasak, ada yang beli di warung, ada pula yang meminta kepada orang-orang yang ditemuinya. Itu adalah cara-cara yang kita lakukan untuk menghadapi masalah dalam hal ini lapar. Selanjutnya semakin hari berjalan, masalah semakin banyak dan semakin sering datang. Utang menumpuk, tugas kuliah belum selesai padahal sudah waktunya diserahkan kepada dosen, ada yang tidak punya uang dan bingung mencari pekerjaan, dan berjuta masalah datang.

Apakah ada hikmah di balik masalah tersebut? Layaknya ada dan kita harus yakin bahwa di balik sebuah masalah pastilah Tuhan telah menyiapkan hikmah dan kenikmatan untuk kita. Misalnya lapar tadi. Dengan adanya lapar, hikmahnya adalah manusia bisa mengenal kenyang, nikmatnya makan dan tubuh menjadi sehat. Bukankah demikian? Nah, begitu dengan masalah-masalah lain yang kita hadapi, pastilah ada hikmahnya, tergantung kita bisa melihatnya atau tidak.

Tersebutlah dalam Al-Qur’an surat Al-Insyorah ayat sekian, bahwasanya dalam setiap kesulitan pastilah ada kemudahan, bahkan sampai diulang oleh Tuhan sebanyak dua kali. Berarti di sini Tuhan benar-benar ingin menekankan kepada manusia bahwa dalam setiap kesusahan, dalam setiap masalah, pastilah ada jalan keluar dan nantinya akan membawa sebuah kebaikan, dengan catatan jika diselesaikan dengan baik.

Masalah mengajarkan kepada kita bahwa kita harus berpikir kreatitf. Manusia harus berpikir kreatif dalam menyelasaikan masalahnya sebab telah dibelaki oleh Tuhan sebuah alat yang bernama akal dan hati. Dengan hati dan pikiran maka masalah akan terselesaikan dengan baik. Kesimpulan dari paragraf ini adalah kita harus memaksimalkan otak dan hati dalam menyelesaikan masalah, jangan gampang mengeluh dan menyerah. Tidak akan ada yang kasihan kepada kita seandainya kita mengeluh dan menyerah, dunia terlalu kejam dan tidak pantas kita untuk menyerah padanya.

Sepanjang nafas masih berhembus dalam diri kita, masalah tidak akan pernah berhenti datang. Selesai masalah satu, maka akan datang masalah berikutnya. Jadi, jangan berharap hidup tanpa datangnya masalah. Ada orang yang uangnya banyak, tapi keluarganya berantakan. Ada orang yang hubungan keluarga baik-baik saja, harmonis, namun ekonomi tidak begitu mendukung untuk keberlangsungan hidup. Begitulah, selesai masalah satu akan datang masalah lain.

Sudah seharusnya kita menyikapi masalah yang datang sesuai dengan kadarnya. Jika masalah tersebut tidak terlalu besar, maka selayaknya kita menyikapinya biasa saja. Pun, jika ada sebuah masalah yang besar, maka sudah selayaknya kita menyikapinya dengan kekuatan besar. Di sini bukan berarti kita menyepelekan masalah yang datang, tapi kita harus tahu berapa ukuran kekuatan yang kita gunakan untuk menghadapi masalah tersebut.

Ada sebuah keanehan terkadang dalam hidup ini. Ada orang yang menganggap sebuah masalah tidak sebagai masalah, dan ada pula yang sebaliknya, yakni menganggap sesuatu yang sebenarnya bukan masalah menjadi masalah, sehingga menguras tenaga dan pikirannya untuk menyelesaikan. Misal, apakah mobil bagus dan mewah itu adalah sebuah kebutuhan yang sangat penting dan harus ada?

Mobil. Iya, mobil. Mungkin untuk sebagian besar orang mobil bukanlah sesuatu yang penting. Tapi, ada juga yang menganggap bahwa mobil adalah kebutuhan pokok (padahal tidak terlalu urgen untuknya) sehingga siang malam pikiran dan hatinya disita oleh hal tersebut. Dalam hati dia berkata, “Orang-orang tidak akan menganggap saya kaya jika saya tidak membeli mobil terbaru!” Itu adalah sebuah kesalahan berpikir, sehingga masalah dan jalan keluarnya juga salah. Seharusnya dia tidak berpikir tentang pandangan orang kepadanya dengan pencitraan. Seharusnya menjadi manusia yang alami itu lebih menyenangkan dan sepertinya lebih bahagia. Pandangan orang tidak akan mengubah nasib kita. Jika kita miskin, lalu orang-orang memandang kita kaya sebab berhasil kredit mobil, apakah lantas kita menjadi orang kaya sungguhan? Tidak. Pun sebaliknya. Jika kita benar-benar kaya, walaupun orang-orang menganggap kita miskin, kita akan tetap menjadi kaya dengan cara kita sendiri.

Begitulah, bagaimana cara kita berpikir akan menentukan jalan keluar masalah kita. Dan sekali lagi kita tegaskan, jangan pernah berharap masalah akan berhenti datang selama nafas masih berapa dalam diri kita. Hidup kita tidak akan pernah luput dari masalah.

Tangerang, 21 September 2022

 

0 Post a Comment

Posting Komentar