Sebenarnya jika
dipikikirkan dan direnungkan, perjalanan manusia itu setidaknya mengandung
kelucuan. Cobalah tengok sejarah Adam yang diciptakan dari tanah liat, yang
sebelumnya Allah sendiri telah merencanakan bahwa Adam akan dijadikan sebagai
kholifah di bumi.
Ini unik.
Kenapa Adam diciptakan dan hidup di surga? Bukankah Adam telah Allah
maklumatkan kepada para Malaikat bahwa Adam akan menjadi kholifah di bumi? Pada
bagian akhir nanti Adam akan hidup di bumi, dan itu sudah Allah rencanakan di
awal. Lalu, kenapa Allah harus membuat Adam bersalah terlebih dahulu dengan
memakan buah khuldi, kemudian dengan alasan itu Allah menurunkan Adam ke bumi
sebagai hukuman? Sebenarnya ini adalah sebuah hal yang lucu.
Kemudian pada
tengah-tengah perjalanan, Adam merasa kesepian. Di situ, Allah menciptakan Hawa
sebagai pendamping Adam. Kenapa harus Hawa? Ini mengandung sebuah isyarat bahwa
Allah akan menurunkan Adam, dan Hawa menjadi teman di bumi, kemudian mereka
akan beranak-pinak. Sebenarnya Allah tidak perlu menciptakan Hawa ketika Adam
merasa kesepian, ada bidadari yang siap menemani Adam.
Kenapa Allah
menciptakan Hawa yang lengkap dengan kekurangan? Kenapa Allah tidak menciptakan
seorang wanita yang sempurna, yang nantinya tidak bisa digoda oleh Iblis yang
murka? Ini adalah sepenggal indikasi bahwa nantinya Adam akan diturunkan ke
bumi. Semua sudah direncanakan oleh Allah lengkap dengan kelucuannya.
Sampailah
sekarang Adam dan Hawa menurunkan keturunan, sampai pada kita. Diakui atau
tidak diakui, kita adalah keturunan Adam dan Hawa. Mereka berdua adalah kakek
dan nenek yang telah membuat kita hidup di bumi, melancarkan skenario Allah
yang sempat salah. Allah tidak enak hati untuk menciptakan Adam di bumi seperti
ini. Jadi, Allah, jika boleh dikata, membujuk Adam terlebih dahulu selaku
manusia pertama dengan keindahan surga, sehingga Adam mempunyai niat hidup. Dan
akhirnya, dengan kesalahan yang sebenarnya tidak begitu fatal, Allah menurunkan
Adam. Nah, momen seperti itulah yang membuat tidak enak hati Allah hilang.
Allah punya alasan kuat untuk menurunkan Adam dan Hawa dari surga menuju dunia
yang serba tidak teratur.
Ini bicara
seandainya. Seandainya Adam dan Hawa tidak melakukan kesalahan, maka
kemungkinan besar kita akan hidup di dalam surga yang penuh dengan kemegahan,
kemudahan, dan kenikmatan yang semua itu tidak ada di dunia. Namun itu terlalu
mengandai-andai, kita tidak akan kembali ke dalam surga dengan mudah, ada
syarat dan ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi.
Iya, Allah
berjanji kepada manusia, bahwasannya barang siapa yang beriman, maka akan
kembali ke dalam surga. Sebaliknya, barang siapa berbuat keburukan dan tidak
beriman, maka akan dimasukkkan ke dalam neraka. Nah, di sini belum ada manusia
yang pernah masuk ke dalam neraka secara langsung, sedangkan surga pernah
dirasakan oleh Adam dan Hawa. Informasi mengenai neraka datang kepada kita
hanya sebatas melalui ayat-ayat dan hadits, sedang surga telah secara langsung
menjadi sebauh pengalaman. Ini seharusnya membuat kita menjadi lebih mengenal
surga dan berjuang untuk masuk ke dalamnya, dan yang lebih dari itu adalah
bertemu dengan pemilik surga, Allah.
Tidak bisa
dipungkiri bahwa semua telah terjadi. Adam dan Hawa telah keluar dari surga,
sekarang sampai pada kita di bumi ini. Kehidupan terus berjalan dan tidak akan
bisa berhenti sampai Allah menghentikannya, yaitu kimat. Sebenarnya pada saat
kiamat kehidupan tidak berhenti, malah di sana terbuka sebuah episode baru
dalam kehidupan, episode ketiga.
Jika semua
telah terjadi, maka selanjutnya yang dibutuhkan adalah cara kita menyikapi apa
yang telah terjadi tersebut. Allah menurunkan Adam ke bumi tidak serta-merta
membiarkannya hidup terlunta-lunta, dia telah memberikan teman yaitu Hawa yang
telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Kemudian, Allah juga telah menyiapkan
kata-kata untuk Adam ketika akan bertaubat, semua sudah direncanakan dengan
matang dan benar-benar tepat sasaran. Tidak hanya sampai di situ, semua
kebutuhan Adam dan Hawa telah disediakan oleh Allah, kebutuhan sampai kiamat
kelak, bahkan setelah kiamat juga telah disediakan oleh Allah. Allah
benar-benar serius dalam menyikapi kehidupan yang dia ciptakan, namun sekaligus
juga menyelipkan kelucuan di dalamnya.
Untuk apa Allah
memerintah manusia untuk sholat
sedangkan Allah sendiri tidak perlu disembah? Untuk apa Allah menciptakan
takdir juga Allah mampu merubahnya kembali? Untuk apa Allah menciptakan lauh
mahfudz, yang di dalamnya tertulis kisah manusia dari awal sampai akhir, namun
ada kesempatan manusia untuk bertaubat? Ini benar-benar lucu sekaligus menuntut
kita untuk berpikir kritis.
Hidup yang
penuh dengan kelucuan. Untuk apa Allah menciptakan manusia padahal dia tidak
perlu pengakuan dari manusia untuk menjadi Tuhannya. Allah tidak memerlukan
pengakuan dan rasa syukur manusia, dia Maha Suci tanpa harus ada tasbih dari
makhluknya. Dia Maha Besar tanpa harus diagungkan oleh makhluknya. Lalu untuk
apa semua itu dia lakukan?
Akhirnya pada
bagian ini, saya rasa hal terbaik yang harus kita lakukan adalah bertaubat dan
bersyukur kepada Allah, sebab kita diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi
manusia, bukan hewan yang tidak berakal. Dengan kita menjadi manusia maka itu
adalah sebuah anugerah yang sangat besar. Bayangkan, dengan menjadi manusia,
kita secara otomatis diberi kesempatan oleh Allah untuk mengenalNya, kita
diberi kesempatan untuk mengenal dia lebih jauh. Seharusnya tasbih dan taubat
menjadi hal yang kita utamakan dalam hidup.
Tangerang, 07
Oktober 2022





0 Post a Comment
Posting Komentar