Rahmat Keluarnya Adam Dari Surga - Artikel by Jasmiko | Sastra Putar Balik

 


Sebenarnya jika dipikikirkan dan direnungkan, perjalanan manusia itu setidaknya mengandung kelucuan. Cobalah tengok sejarah Adam yang diciptakan dari tanah liat, yang sebelumnya Allah sendiri telah merencanakan bahwa Adam akan dijadikan sebagai kholifah di bumi.

Ini unik. Kenapa Adam diciptakan dan hidup di surga? Bukankah Adam telah Allah maklumatkan kepada para Malaikat bahwa Adam akan menjadi kholifah di bumi? Pada bagian akhir nanti Adam akan hidup di bumi, dan itu sudah Allah rencanakan di awal. Lalu, kenapa Allah harus membuat Adam bersalah terlebih dahulu dengan memakan buah khuldi, kemudian dengan alasan itu Allah menurunkan Adam ke bumi sebagai hukuman? Sebenarnya ini adalah sebuah hal yang lucu.

Kemudian pada tengah-tengah perjalanan, Adam merasa kesepian. Di situ, Allah menciptakan Hawa sebagai pendamping Adam. Kenapa harus Hawa? Ini mengandung sebuah isyarat bahwa Allah akan menurunkan Adam, dan Hawa menjadi teman di bumi, kemudian mereka akan beranak-pinak. Sebenarnya Allah tidak perlu menciptakan Hawa ketika Adam merasa kesepian, ada bidadari yang siap menemani Adam.

Kenapa Allah menciptakan Hawa yang lengkap dengan kekurangan? Kenapa Allah tidak menciptakan seorang wanita yang sempurna, yang nantinya tidak bisa digoda oleh Iblis yang murka? Ini adalah sepenggal indikasi bahwa nantinya Adam akan diturunkan ke bumi. Semua sudah direncanakan oleh Allah lengkap dengan kelucuannya.

Sampailah sekarang Adam dan Hawa menurunkan keturunan, sampai pada kita. Diakui atau tidak diakui, kita adalah keturunan Adam dan Hawa. Mereka berdua adalah kakek dan nenek yang telah membuat kita hidup di bumi, melancarkan skenario Allah yang sempat salah. Allah tidak enak hati untuk menciptakan Adam di bumi seperti ini. Jadi, Allah, jika boleh dikata, membujuk Adam terlebih dahulu selaku manusia pertama dengan keindahan surga, sehingga Adam mempunyai niat hidup. Dan akhirnya, dengan kesalahan yang sebenarnya tidak begitu fatal, Allah menurunkan Adam. Nah, momen seperti itulah yang membuat tidak enak hati Allah hilang. Allah punya alasan kuat untuk menurunkan Adam dan Hawa dari surga menuju dunia yang serba tidak teratur.

Ini bicara seandainya. Seandainya Adam dan Hawa tidak melakukan kesalahan, maka kemungkinan besar kita akan hidup di dalam surga yang penuh dengan kemegahan, kemudahan, dan kenikmatan yang semua itu tidak ada di dunia. Namun itu terlalu mengandai-andai, kita tidak akan kembali ke dalam surga dengan mudah, ada syarat dan ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi.

Iya, Allah berjanji kepada manusia, bahwasannya barang siapa yang beriman, maka akan kembali ke dalam surga. Sebaliknya, barang siapa berbuat keburukan dan tidak beriman, maka akan dimasukkkan ke dalam neraka. Nah, di sini belum ada manusia yang pernah masuk ke dalam neraka secara langsung, sedangkan surga pernah dirasakan oleh Adam dan Hawa. Informasi mengenai neraka datang kepada kita hanya sebatas melalui ayat-ayat dan hadits, sedang surga telah secara langsung menjadi sebauh pengalaman. Ini seharusnya membuat kita menjadi lebih mengenal surga dan berjuang untuk masuk ke dalamnya, dan yang lebih dari itu adalah bertemu dengan pemilik surga, Allah.

Tidak bisa dipungkiri bahwa semua telah terjadi. Adam dan Hawa telah keluar dari surga, sekarang sampai pada kita di bumi ini. Kehidupan terus berjalan dan tidak akan bisa berhenti sampai Allah menghentikannya, yaitu kimat. Sebenarnya pada saat kiamat kehidupan tidak berhenti, malah di sana terbuka sebuah episode baru dalam kehidupan, episode ketiga.

Jika semua telah terjadi, maka selanjutnya yang dibutuhkan adalah cara kita menyikapi apa yang telah terjadi tersebut. Allah menurunkan Adam ke bumi tidak serta-merta membiarkannya hidup terlunta-lunta, dia telah memberikan teman yaitu Hawa yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Kemudian, Allah juga telah menyiapkan kata-kata untuk Adam ketika akan bertaubat, semua sudah direncanakan dengan matang dan benar-benar tepat sasaran. Tidak hanya sampai di situ, semua kebutuhan Adam dan Hawa telah disediakan oleh Allah, kebutuhan sampai kiamat kelak, bahkan setelah kiamat juga telah disediakan oleh Allah. Allah benar-benar serius dalam menyikapi kehidupan yang dia ciptakan, namun sekaligus juga menyelipkan kelucuan di dalamnya.

Untuk apa Allah memerintah manusia untuk  sholat sedangkan Allah sendiri tidak perlu disembah? Untuk apa Allah menciptakan takdir juga Allah mampu merubahnya kembali? Untuk apa Allah menciptakan lauh mahfudz, yang di dalamnya tertulis kisah manusia dari awal sampai akhir, namun ada kesempatan manusia untuk bertaubat? Ini benar-benar lucu sekaligus menuntut kita untuk berpikir kritis.

Hidup yang penuh dengan kelucuan. Untuk apa Allah menciptakan manusia padahal dia tidak perlu pengakuan dari manusia untuk menjadi Tuhannya. Allah tidak memerlukan pengakuan dan rasa syukur manusia, dia Maha Suci tanpa harus ada tasbih dari makhluknya. Dia Maha Besar tanpa harus diagungkan oleh makhluknya. Lalu untuk apa semua itu dia lakukan?

Akhirnya pada bagian ini, saya rasa hal terbaik yang harus kita lakukan adalah bertaubat dan bersyukur kepada Allah, sebab kita diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi manusia, bukan hewan yang tidak berakal. Dengan kita menjadi manusia maka itu adalah sebuah anugerah yang sangat besar. Bayangkan, dengan menjadi manusia, kita secara otomatis diberi kesempatan oleh Allah untuk mengenalNya, kita diberi kesempatan untuk mengenal dia lebih jauh. Seharusnya tasbih dan taubat menjadi hal yang kita utamakan dalam hidup.

Tangerang, 07 Oktober 2022

 

0 Post a Comment

Posting Komentar