
Forum Ekspresi Santri Pesantren Hikmatul Muhajirin, Madiun.
“Kadang-kadang orang itu ketika mencari kesalahan, dikiranya sedang
berpikir kritis. Itu bukan kritis. Kritis itu bukan mengorek-orek kesalahan.
Kalau kita menyalahkan orang lain, kita bukan orang yang berpikir kritis. Dan
ketika kita berpikir, bagaimana pun tidak
bisa dihindari subyektivitas melekat dalam pikiran kita.” – Ali Antoni
Dari sini kita bisa membedakan antara berpikir kritis dan
mencari-cari kesalahan orang lain. Berpikir kritis yaitu sebuah pemikiran yang
masuk akal, dan ralatif fokus, dalam menetapkan apa yang dipercaya atau apa
yang dilakukan. Misal ada seorang wanita yang diperkosa di tengah jalan. Orang
yang berpikir kritis akan lebih berpikir pada sebab-sebab kejadian tersebut,
kemudian berpikir tentang dampak yang akan ditimbulkan. Sedang orang yang
berpikir kritis dalam pengertian yang salah, yaitu orang yang mencari-cari
kesalahan, sontak pikirannya akan lebih mengarah pada kejadian secara langsung
dan menghakimi. Lalu orang itu berkata, “Wanita itu memang pergaulannya salah. Makanya
tidak salah jika dia mendapatkan perlakuan yang demikian, pada dasarnya memang
pergaulan menentukan apa yang akan dihasilkan. Lihat saja itu!”
Kata-kata di atas sepertinya sangat bermutu, namun kita jarang
mengetahui bahwa di dalamnya sangat banyak terkandung unsur kekejaman yang
memojokkan orang lain dan tidak memberi jalan keluar. Seseorang yang berpikir
kritis tidak akan berpikiran demikian.
Orang yang kritis, akan berpikir tentang latar belakang terlebih
dahulu. Misal melihat lingkungan wanita yang diperkosa, kemudian menghubungkan
dengan peristiwa yang terjadi, kemudian mencari solusi terbaik untuk
menyelesaikannya. Mungkin pemikiran antara orang yang satu dengan yang lainnya
bisa berbeda. Ada yang memberi jalan keluar A, dan ada pula yang memberi jalan
keluar B. Namun berbedanya jawaban tidak akan mengurangi nilai pemikiran
kritis, karena memang beda kasus akan berbeda jalan keluar yang diambil. Atau,
bahkan dalam satu masalah, dalam satu kasus, akan bisa mendapatkan dua atau
bahkan tiga jalan keluar, tergantung pemikiran manusia-manusia yang kritis.
Kita harus menghilangkan dari dalam diri kita sebuah mental
menyalahkan. Jangan sampai ada dalam diri kita sebuah mental tersebut. Kenapa?
Sebab itu sangat merugikan sekali untuk kita, baik dalam jangka pendek atau pun
jangka panjang. Orang yang bermental menyalahkan akan sulit menemukan jalan
keluar ketika menghadapi masalah. Atau setidaknya jika mempunya jalan keluar,
itu bukanlah jalan keluar yang terbaik sebab di dalam dirinya terdapat mental
menyalahkan.
“Ini semua salahmu! Aku menjadi miskin karena kesalahan yang kamu
lakukan!”
“Runyam sekali masalah ini! Gara-gara kamu menjadi runyam seperti
ini!”
Begitulah kata-kata orang yang mempunyai mental menyalahkan. Orang
yang menyalahkan selalu menjadi korban keadaan, tidak bisa merdeka dan terbebas
untuk melawan masalah. Sedang orang yang berpikir kritis akan berkata
sebaliknya.
“Untuk saat ini mungkin memang saya miskin, tapi saya akan tetap
mencari jalan keluar dan menjadi orang yang bahagia!”
“Masalah ini memang runyam, namun saya dan anda akan bekerja sama
untuk menyelesaikannya!”
Beda sekali pemikiran dua orang, yang satu berpemikiran kritis dan
satunya lagi berpemikiran menyalahkan. Solusi berasal dari pemikiran, jika
pemikiran berbeda maka juga akan menghasilkan solusi yang berbeda. Kita harus
menjadi manusia yang berpemikiran kritis, dan tidak mudah menyalahkan.
Lalu apakah orang yang berpemikiran menyalahkan itu salah? Saya
tidak mengatakan itu salah, namun kurang tepat. Jika sesekali hal itu terjadi
pada diri kita, maka tidak masalah. Namun jika menyalahkan sampai menjadi
mental, maka itu adalah sebuah kesalahan yang besar dan jangan sampai ada pada
diri kita.
Sebenarnya dengan pikiran yang kritis manusia akan berkembang
dengan sendirinya, berkembang dalam segala aspek kehidupan. Sebab, orang yang
pikirannya kritis, dia akan selalu berpikir tentang jalan keluar dan jalan
keluar itu akan membawa kebaikan, kemudian berkembang dari hari ke hari. Orang yang
kritis tidak akan monoton dalam menyelesaikan masalah. Misal cara A tidak bisa,
maka dia akan menggunakan cara B, banyak solusi yang bisa dia pikirkan dan
dikerjakan. Salah satu orang yang berpikiran kritis adalah orang yang kreatif,
selalu berkarya dalam hidupnya. Dia tidak pernah atau jarang mengeluh terhadap
masalah yang dia hadapi. Mengeluh yang saya maksud di sini adalah mengeluh yang
putus asa.
Mengeluh itu wajar, sebab manusia juga punya rasa lelah. Namun orang
yang kritis, cukup sekali mengeluh setelah itu mencari jalan keluar untuk
masalah yang dihadapinya. Dia mengeluh hanya untuk menunjukkan kepada dunia
bahwa dia tengah ada masalah, selanjutnya otak dan hatinya yang bekerja.
Salah satu ayat yang menerangkan tentang keharusan berpikir kritis
adalah surat Ali Imron ayat 190 sampai 191.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian
malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal,
yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan
berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya
berkata “Ya Allah Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.
Maha suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka!”.
Ayat tersebut jelas mengajarkan dan menganjurkan kita untuk
berpikir kritis. Langit dan bumi menjadi contoh, sekaligus contoh yang besar
sekali. Tuhan tidak tanggung-tanggung dalam memberikan contoh agar manusia
bermental kritis. Dengan demikian tidak ada lagi alasan untuk kita tidak
berpikir kritis.
Tangerang, 04 Oktober 2022




0 Post a Comment
Posting Komentar