20 Maret 2023, pukul satu siang ada sebuah acara di UIN Jakarta,
tepatnya di gedung Fakultas Adab dan Humaniora lantai 5. Acara tersebut bertema
“Menyemai Harmoni, menyelamatkan Bumi”.
Banyak narasumber keren yang dihadirkan, salah satunya adalah R. Teddy
Setya Mahendra. Beliau adalah Fungsional Ahli Madya Pengendali Dampak Lingkungan
KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Beliau mengungkapkan bahwa
sampai tahun 2018, elemen masyarakat yang peduli terhadap pengelolaan sampah
hanya sekitar 28% saja, sedang angka 72% adalah untuk masyarakat yang tidak
peduli terhadap sampah. Benar-benar angka yang miris, banyak masyarakat
Indonesia yang belum peduli dengan pengelolaan sampah, bahkan cenderung
membuang sampah sembarangan.
Minimnya kesadaran masyarakat ini bukan sebab sosialisasi dari
pemerintah yang kurang, namun menurut beliau adalah tidak adanya aksi nyata
dalam masyarakat. Lebih singkatnya beliau memberikan beberapa tips yang bisa
dilakukan oleh semua kalangan dalam rangka peduli sampah.
Pertama, tips dari beliau adalah mengurangi potensi barang yang
akan jadi sampah. Ini jelas sekali bisa membantu dalam pengelolaan sampah
bahkan sebelum sampah itu tercipta. Mengurangi potensi barang yang akan menjadi
sampah bisa sangat membantu, dan bisa dimulai dengan hal-hal kecil, misal tidak
menggunakan banyak kantong plastik ketika berbelanja, sebab kantong plastik itu
nantinya akan menjadi sampah. \
Tips kedua dari beliau adalah habiskan makanan/jangan membuat
sampah dari makanan yang tidak habis itu. Menyisakan makanan tentu akan menjadi
masalah tersendiri, dari sisi agama dan sosial tentu tidak dibenarkan. Banyak masyarakat
yang hidup terbatas bahkan kurang makan, mungkin kita bisa memberikan kepada
mereka setengah dari makanan kita daripada menjadi sampah.
Ketiga, adalah berbuat sebuah hal kecil untuk perubahan besar. Memulai
segala sesuatu dari diri sendiri, dari hal-hal kecil dan sederhana. Membuang sampah
sembarangan, mengisi ulang botol minum, dan hal-hal sejenisnya yang mengakibatkan
bertambahnya sampah.
Sebenarnya tips-tips dari beliau tidak ada yang istimewa, kita
sering mendengarnya sehari-hari, bahkan hapal. Tentu tips mengurangi potensi
barang yang menjadi sampah kita sudah tahu. Namun yang menjadi masalah adalah
ketiadaan sebuah aksi, tidak ada sebuah tindakan nyata untuk menerapkannya. Memulai
dari diri sendiri itulah yang harus kita maksimalkan, sebab perubahan besar
bermula dari perubahan-perubahan kecil.
Selain beliau, banyak narasumber yang dihadirkan di acara itu, dari
berbagai agama. Dari agama Kristen dihadirkan Alan Christian Singkali (Ketua
DPP GAMKI). Dari agama Hindu dihadirkan Anak Agung Ayu Ari Widyasari
(Sekretaris Badan Dharma Dana Nasional). Dari agama Budha ada Dwi Purnomo
(Ketua Bidang SDM dan OKK PP HIKMAHBUDHI), serta Aldi Destian Satya dari agama
Khong Hucu.
Pada dasarnya, sampah adalah tanggung jawab kemanusiaan, serta
semua agama mengajarkan demikian. Mereka mengungkapkan dalil-dalil dari kitab
suci yang mereka anut, dan ditemukan sebuah titik bahwa semua agama mangajarkan
kebersihan, menjaga keharmonisan alam. Ali Destian Satya menukil salah satu
ayat dalam kitabnya, “Nabi mau memancing tapi tidak mau menjaring, mau memanah
burung tapi tidak mau yang sedang hinggap, (LUNYU, JILID VII : 27).
Nah, seharusnya Indonesia yang merupakan negara beragama, dalam
artian semua masyarakatnya beragama, adalah negara terbersih sedunia. Namun apa
faktanya? Kita semua tahu, bahwa masyarakat yang peduli sampah hanya sekitar
28%. Maka tanggung jawab kita sebagai umat beragama sangat besar.
Selanjutnya mereka mengungkapkan dampak sampah terhadap kehidupan,
salah satunya adalah krisis pangan dan energi. Sampah, tentu menjadikan
kehidupan tidak sehat. Manusia yang tidak sehat tentu tidak akan bisa bekerja,
maka dengan tidak bekerja akan ada sebuah kesenjangan ekonomi, kesenjangan
ekonomi akan menjalar pada kelangkaan energi.
Kita harus mulai sadar dari sekarang, bahwa kita adalah umat
beragama yang bertanggung jawab atas sampah. Kita tidak seperti hewan yang
tidak punya otak, kita punya otak. Jangan menjadi hewan yang tidak punya hati,
manusia punya hati. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil seperti
mengisi ulang botol minum yang telah kosong.
Tangerang, 21 Maret 2023





0 Post a Comment
Posting Komentar