Orang
Pintar Bicara Inflasi
Warteg
itu, seperti kebanyakan warteg, mempunyai dua pintu, sebelah kanan dan kiri. Di
antara kedua pintu itulah terpampang besar tulisan ‘WARTEG BAROKAH’, dengan stiker merah, menempel pada kaca. Dan
lihatlah! Di balik kaca itu tengah terjadi obrolan antar dua orang,
membincangkan apa saja yang terlintas di kepala mereka.
“Inflasi
benar-benar akan terjadi!” ujar pemuda berambut gondrong yang tidak terawat,
dia mengenakan baju partai tipis.
“Iya,
ekonomi Indonesia benar-benar berada di titik terendah!” sahut pemuda satunya,
rambutnya disisir rapi, mengenakan kemeja hitam lengan panjang.
Mereka
bicara sambil makan, maksudnya di sela-sela makan itu, mereka menyempatkan
untuk berbicara. Di warteg itu bukan hanya ada mereka, ada beberapa orang lagi
yang tengah makan, ada yang buru-buru, ada yang santai seperti orang yang
menggenggam dunia seisinya.
“Kalau
menurutku presiden yang sekarang kurang maksimal dalam bekerja!” ujar rambut
gondrong.
“Iya,
aku rasa demikian,” sahut pemuda berkemeja. Dengan mulut yang penuh nasi, dia
meneruskan, “Bukan hanya presidennya, wakil presiden yang sekarang juga kurang
mempunyai peran!”
“Lah,
iya. Kan, wakil presiden yang sekarang menjabat hanya untuk mengambil suara
masyarakat! Kan, dia sesepuh sebuah organisasi masyarakat!” timpal si gondrong
lagi.
“Dari
sini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa kita tidak bisa memilih pemimpin
hanya karena dia populer!” ujar pemuda berkemeja.
“Lalu
bagaimana cara kita memilih pemimpin yang baik?” tanya gondrong.
“Jangan
melihat dari kepopulerannya!” jawab pemuda berkemeja.
“Iya, di
depan itu sudah disebutkan. Nah, kalau tidak melihat dari kepopulerannya,
bagaimana cara kita memilihnya?” tanya gondrong, nasi di mulutnya hampir keluar
lagi.
“Nah,
itu yang aku tidak tahu jawabannya! Hehe!” Dengan merasa tidak bersalah, pemuda
berkemeja tertawa, atau itu memang bukan sebuah kesalahan.
Mereka
berdua selesai makan, piring diambil oleh penjaga warteg. Sekarang keduanya
menyalakan rokok, menikmati kopi hitam yang mengepulkan asap putih, yang
perlahan-lahan menghilang.
“Eh,
hari ini Hari Buruh, iya?” tanya gondrong.
“Benarkah?
Tanggal merah berarti!” sahut pemuda berkemeja. “Pantesan jalanan sepi,
orang-orang kantoran libur kerja!” lanjutnya.
“Iya,
anak-anak kampus juga libur. Kan, biasanya para mahasiswa itu yang bikin macet
jalanan!” tambah gondrong.
“Parah!
Mahasiswa tidak membawa perubahan, malah membawa kemacetan!” ujar pemuda
berkemeja sembari menyeruput kopinya.
Tiba-tiba
dari meja sebelah menyahut, “Saya tidak setuju, Bang! Mahasiswa bukan
satu-satunya pemicu macet, dan saya juga tidak setuju jika Abang mengatakan
bahwa mahasiswa tidak membawa perubahan!” Raut wajahnya tidak bersahabat.
“Lalu?”
tanya gondrong selaku orang yang mengeluarkan statment.
“Pola
pikir seperti itu harus dirubah!” sahut orang sebelah.
“Maksudnya?”
tanya gondrong belum paham.
“Kita
harus merubah pola pikir bahwa mahasiswa tidak membawa perubahan!” jelas orang
sebelah.
“Memang
tidak membawa perubahan, kan, Bang?” sahut gondrong mempertahankan argumennya.
“Coba sebutkan perubahan apa yang dibawa oleh mahasiswa?”
Orang
seberang berpikir sejenak, kemudian berkata, “Abang kenal Najwa Shihab?”
“Kenal!”
sahut gondrong cepat.
“Bagaimana
dia?” tanya meja seberang.
“Dia
bagus, menurut saya dia tokoh yang pantas dijadikan sebagai panutan anak muda!”
“Apakah
dia bukan mahasiswa?” tanya meja seberang.
“Iya...
dia mahasiswa dulunya!” jawab gondrong.
“Sekarang
berarti apakah mahasiswa tidak membawa perubahan?” tanya meja seberang.
“Tapi
banyak juga mahasiswa yang tidak jadi apa-apa, pengangguran!” Gondrong sedikit
mendapatkan amunisi.
“Iya,
memang demikian. Tapi setidaknya dengan menjadi mahasiswa, itu akan memperbesar
peluang kita untuk melakukan perubahan. Maksudnya dengan menjadi mahasiswa,
dalam arti menjadi manusia yang berwawasan luas, akan mempermudah dan memperbesar
kemungkinan kita menjadi orang sukses!”
“Oh,
gitu!” sahut gondrong.
“Iya!”
Pemuda
seberang itu segera pergi setelah membayar makanannya.
“Benar
juga yang dikatakan orang tadi!” ujar pemuda berkemeja.
“Iya.
Tapi aku rasa lebih banyak yang menjadi pengangguran dari pada yang membawa
perubahan ke arah lebih baik!” Gondrong sepertinya ingin kembali pada
pernyataannya yang awal.
“Iya.
Mungkin karena mereka tidak belajar sungguh-sungguh ketika kuliah!” ujar pemuda
berkemeja.
“Ah,
sudah. Tidak penting juga membahas mahasiswa yang akhirnya menjadi
pengangguran. Bukankah biaya kuliah itu mahal? Kenapa biaya itu tidak mereka
gunakan saja untuk membuat usaha? Kan, lebih menguntungkan!” Gondrong
menyeruput kopi terakhirnya. Sepertinya mereka berdua akan keluar warteg.
“Nah,
kenapa kamu tidak kuliah?” tanya pemuda berkemeja.
“Tidak
ada biaya, aku juga tidak ingin menjadi pengangguran!” jawab gondrong santai.
“Sekarang
kamu punya usaha apa?” tanya pemuda berkemeja lagi.
“Iyaaa..,
belum punya,” jawab gondrong singkat. “Tapi secepatnya aku akan membuka usaha!”
lanjut gondrong.
“Ah,
sudahlah, tidak penting! Mari kita kembali menjaga parkiran, sudah mulai
ramai!” ujar pemuda berkemeja.
Tangerang,
3 Mei 2023





0 Post a Comment
Posting Komentar