Mendekati Tahun-Tahun Pemilu, Harus Bijak Bermedia - Artikel Oleh Jasmiko | Sastra Putar Balik

 

Beberapa bulan lagi tahun PEMILU akan datang, dan jelas itu akan menghadirkan peristiwa-peristiwa unik. Pemilu bukan hanya tahun yang unik sebab bisa dipastikan bahwa akan ada adu mekanik antara calon satu dan lainnya, tapi menjadi unik sekaligus sakral sebab menentukan arah bangsa Indonesia lima tahun ke depan.

Pertama, peristiwa yang sudah jauh-jauh hari pasti kita rasakan adalah senggolan antar parpol, bahkan juga antar pendukung, dan mungkin sekarang adalah fase panas-panasnya. Kampanya dari masing-masing partai tentu sangat intensif, mengingat apa yang dilakukan saat ini adalah apa yang akan nanti diperoleh.

Enam bulan menuju Pemilu, tentu masing-masing partai sudah mendeklarasikan calon presidennya kepada publik. Nah, keadaan seperti inilah yang membuat keadan semakin menghangat dan bahkan memanas. Gerak-gerik para calon tersebut pasti mendapat sorotan yang masif dari publik. Dan yang tidak kalah seru pada fase ini adalah rekam jejak masing-masing calon, baik oleh media yang benar-benar berwenang, atau juga media yang hanya mencari sensasi belaka.

Sebenarnya itu wajar-wajar saja, sebab yang mereka perebutkan tentu bukan hal yang kecil. Saya tidak ingin membahas hal-hal yang disimpulkan oleh perspektif kita tentang yang buruk-buruk, tapi dari sisi yang berbeda, positifnya. Yang mereka perebutkan adalah kekuasaan yang akan menentukan arah bangsa Indonesia, dan dengan demikian pada sisi ini kita harus yakin bahwa mereka menginginkan jabatan sebab ingin mengarahkan langsung langkah bangsa ini dari puncak kekuasaan. Bukankah untuk membenahi sebuah sistem maka kita harus masuk pada sistem tersebut? Mungkin demikian yang menjadi alasan mereka mencalonkan diri sebagai presiden ataupun wakil.

Apa yang perlu kita lakukan untuk menyikapi tahun-tahun pemilu?

Kita sebagai kaum muda, harus menyikapi segala keadaan dan fenomena-fenomena yang terjadi dengan obyektif. Bukan hanya kaum muda, akan tetapi juga seluruh rakyat Indonesia. Mengapa kita harus menyikapi keadaan dengan obyektif? Agar kita tidak salah langkah dalam mengambil keputusan.

Menjelang tahun-tahun pemilu banyak sekali berita yang beredar mengenai calon-calon presiden maupun parpolnya. Tidak sampai di situ, sayangnya media di Indonesia banyak juga yang tidak obyektif dalam menyiarkan berita, bahkan yang paling parah adalah sampai pada titik hoak. Menjelang pemilu, media-media yang dikuasai oleh sebuah partai (kita tidak bisa menolak fakta ini) hanya menyiarkan hal-hal yang baik mengenai partainya, bahkan melebih-lebihkan. Pun sebaliknya, menyiarkan hal-hal buruk lawan partai yang bahkan tidak sesuai dengan fakta lapangan. Kita, harus benar-benar bijak dalam menyikapinya.

Ketika membuka media sosial seperti IG misalnya, di sana banyak sekali berita-berita yang bertebaran tanpa kita mencarinya. Bahkan, akun-akun yang tidak kita follow akan lewat melalui beranda kita, semua menyuguhkan berita-berita kepada kita. Iya, media sosial adalah tempat yang bebas untuk mengekspresikan diri, tapi sebagai media yang berkualitas juga harus memperhatikan kode etik penyiaran berita yang baik dan benar. Sebab, media harus tahu, bahwa tidak semua masyarakat Indonesia mempunyai kemampuan dalam menyaring informasi, sehingga mudah sekali untuk diprovokasi. Atau, memprovokasi untuk menjelekkan nama lawan adalah tujuan media mereka?

Sebagai pembaca, sebagai sasaran dan penerima berita, kita juga harus bijak dalam menyikapinya. Tidak semua berita yang kita baca dan dengar adalah benar, maka menyaring dengan rasionalitas adalah kewajiban. Pertama, mungkin kita bisa melihat akun yang membuat dan menyebarkan berita tersebut. Media yang terpercaya dan sudah banyak dikenal masyarakat, sepertinya akan semakin kecil kemungkinannya dalam menyebarkan berita yang tidakk benar. Maka ini bisa kita jadikan sebagai langkah awal dalam menyikapi sebuah berita, melihat kualitas media yang menyebarkan berita.

Langkah lain yang mungkin bisa kita lakukan adalah mencari penjelasan dari berbagai sumber, jangan puas hanya dengan satu sumber. Misal kita mendapatkan berita mengenai partai A yang janggal, maka kita harus mencari penjelasan dari media-media lain. Kenapa? Agar kita tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Ini terlihat sepele, namun bisa mengubah perspektif kita terhadap sebuah berita dan peristiwa. Sebagai kaum muda, sebagai masyarakat, kita harus bijak dalam menyikapi berita itu adalah sebuah hal yang utama.

Mendekati tahun Pemilu, parpol-parpol tidak tanggung-tanggung dalam mengeluarkan uangnya. Acara-acara besar digelar, bahkan sampai mengundan dan membayar penonton bayaran agar acaranya ramai, kemudian khalayak umum akan menilai bahwa itu adalah partai yang mempunyai image bagus. Sebagai kaum muda, kemampuan ini juga yang harus kita punya. Apa itu? Parpol harus tidak bisa membeli suara. Mungkin istilah membeli suara tidak aisng lagi bagi kita, sebab memang begitulah keadaannya. Meskipun KPK, KPU, dan lembaga sejenisnya telah membuat sebuah gerakan anti suara bayaran, tapi suara bayaran memang tidak akan bisa dihindari. Maka, dari golongan muda seperti kita, harus memulai gerakan meniadakan suara bayaran.

Apakah kita akan menolak uang yang diberikan oleh sebuah partai? Haha, lumayan juga, sih, kalai diterima. Maka (ini adalah saran yang buruk, wkwkwk) ambil saja uangnya, tapi jangan berikan suara kita kepada partai yang membayar itu, tapi kita tetap memberikan suara kepada partai yang benar-benar berjuang untuk rakyat, yang benar-benar mengajukan calon presiden untuk kepentingan bangsa dan negera. Enak, kan? Iya, ambil saja uangnya, tolak partai dan calon presiden yang tidak mempunyai kompetensi baik.

Begitulah, Kawan! Sebagai kawula muda kita harus memberikan dukungan untuk kemajuan Indonesia melalui apa-apa yang kita bisa.

Tangerang Selatan, 24 Juli 2023

0 Post a Comment

Posting Komentar