Hari ini aku kedatangan sahabat lama, dari negeri seberang. Apa
nama negaranya? Ah, aku tidak perlu menyebutnya, tapi kalian bisa menebak-nebak
melalui kisah-kisah sahabatku itu. Katanya dia akan datang pukul lima pagi,
tapi entahlah, negerinya mempunyai kebiasaan jam karet. Apa itu jam karet? Telat.
Nah, itu dia. Lihatlah, Kawan! Di balik pintu rumahku yang terbuka
lebar itu bukankah dia? Itu adalah sahabat yang aku maksudkan. Aku melirik jam
dinding di ruang tamu, pukul tujuh, kebiasaan lama!
“Hai, bagaimana kabarmu?” tanya dia ketika memasuki pintu rumahku
tanpa permisi.
“Hai, siapa pula yang menyuruhmu masuk? Aku baik-baik saja, dan
bagaimana denganmu?” jawabku, dan menanyakan kabarnya juga sebagai formalitas.
Begini, teman-teman, sebenarnya tidak ada manusia yang benar-benar ingin tahu
bagaimana kondisimu, kecuali benar-benar manusia itu butuh sesuatu darimu.
“Aku sedang tidak baik-baik saja, Kawan! Bisnisku bangkrut besar
sekali tahun ini,” ujarnya mengeluh. Sembari duduk dia melanjutkan, “Banyak pengusaha-pengusaha
yang curang di negeriku, bahkan aparatur pemerintah juga demikian! Banyak yang
membunuh usaha-usaha masyarakat kecil, untuk membangun bisnis mereka yang
meraksaksa!”
Aku setuju dengannya, namun syukurlah hal itu tidak terjadi di
negeriku. Bangsaku aman, pemerintahnya amanah, semua mendukung masyarakat kecil
dalam melakukan usaha-usaha mereka. Benar-benar berbanding berbalik dengan
negeri sahabatku ini.
“Bagaimana prosesnya perusahaanmu bisa rugi?” tanyaku penasaran.
Sebenarnya aku tidak penarasan dengan kisahnya, namun kali ini benar-benar
menarik. Kenapa ada pemerintah yang ingin membunuh rakyatnya sendiri?
Dia ingin menjelaskan, tapi aku memutusnya terlebih dahulu.
“Baiklah, aku akan membuat kopi untuk kita berdua, agar pembicaraan kita lebih
padu!” kataku.
“Nah, itu yang aku tunggu-tungu, kalau bisa sekalian gorengan!”
ujarnya. Nikmat sekali hidupnya. Datang ke rumahku tidak membawa apa-apa, namun
meminta apa-apa kepadaku. Tidak apalah, namanya juga sahabat dari negeri
seberang, aku akan menyajikan hidangan ternikmat untuknya.
Lima menit aku kembali, membawa dua cangkir kopi hitam panas. Untuk
makanan ringannya, aku terpaksa harus membelinya online, sebab aku tidak
punya apa-apa di rumah, selain telur yang dipajang di balik pintu kulkas.
“Lanjutkan ceritamu!” ujarku sembari menaruh cangkir kopi di meja.
“Begini,” dia memperbaiki posisi duduknya. “Di negeriku banyak
sekali mafia-mafia yang berkuasa, dan yang paling berkuasa tetap ada satu. Nah,
mafia itulah yang menghancurkan usaha restoranku!”
“Dengan cara apa?” tanyaku.
“Dengan gaya-gaya lama!” ujarnya geram, penuh dengan penekanan.
“Gaya lama bagaimana yang kamu maksudkan? Maaf, aku tidak terlalu
belajar tentang sejarah bangsamu!” kataku. Sebenarnya aku tahu gaya lama yang
dia maksudkan, tapi aku penasaran, ingin tahu lebih dalam mengenai gaya lama
apa yang dia maksudkan.
“Orang-orang bangsat itu membawa-bawa isu agama, nasionalis, dan
sebagainya!” jelasnya. “Pada awalnya mereka membawa isu nasionalisme, tapi
tidak mempan. Kenapa tidak mempan? Karena aku mendirikan perusahaanku di
negeriku sendiri, walaupun, memang pusatnya berada di luar negeri!”
Kebiasaan lama! Memang, negeri sahabatku itu terkenal dengan
orang-orang kaya, namun di dalamnya banyak sekali orang-orang asing, dalam artian
dari luar negeri, menjadi pengendali ekonomi. Jadi, rakyat dalam negeri harus
tunduk pada aturan-aturan yang dibuat orang luar itu, walaupun secara tidak
tertulis. Bahkan, orang dari luar negeri itu juga bisa mengontrol pemerintahan,
sebab mereka punya uang.
“Lalu isu apa yang benar-benar membuat perusahaanmu bangkrut?”
tanyaku seperti wartawan.
“Agama!” jawabnya tegas.
“Agama? Bagaimana mungkin isu agama bisa menghancurkan
perusahaanmu? Bukankah negerimu terkenal dengan bangsa yang religius?” Aku
heran benar dengan alasan utama yang membuat usahanya bangkrut.
“Religius di negeriku hanya omong-kosong,” katanya. “Religius hanya
bungkus untuk orang-orang serakah, yang ingin merebut milik orang lain dengan
cara yang salah, namun terlihat benar!” lanjutnya.
Aku mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Perusahaannya rugi,
bankrut, oleh sebab orang lain yang mengatasnamakan agama, apakah itu kurang
untuk membuat hati marah?
Dia melanjutkan kata-katanya, dengan wajah geram dia berkata,
“Agama di bangsaku tidak pernah diterapkan sama sekali!”
Aku tahu maksudnya! Sahabatku ini tengah marah, jadi kata-katanya
dilebih-lebihkan. Itu semua adalah majas. Maksud dia mengatakan bahwa agama
tidak pernah diterapkan dalam negerinya, adalah bukan bahwa negerinya tidak
pernah menerapkan agama. Akan tetapi, di negerinya, banyak juga yang tidak
menerapkan aturan agama.
“Bangsat!” tukasnya, dia benar-benar marah, tapi bukan kepadaku,
dia marah kepada orang-orang dikejauhan sana. “Mereka dengan seenaknya mengatas
namakan agama untuk mencari keuntungan pribadi, menghasut orang-orang dengan
bungkus agama!”
“Dan anehnya kenapa masyarakat mudah terhasut?” tanyaku. Itu yang
membuatku sedikit lebih penasaran lagi.
“Itulah kebodohan kita, dan penghasut itu pintar sekali
memanfaatkan kesempitan dan kebodohan masyarakat!” ujarnya. “Kebodohan dari
masyarakat kami adalah mudah terhasut, apalagi dengan isu-isu sensitif seperti
agam. Mudah sekali mereka untuk dikerahkan, untuk segala kepentingan. Mereka
tidak berpikir lagi tentang esensi dari permasalahan yang sebenarnya. Dan
akhirnya semangat itu berubah menjadi kebencian yang nyata!” lanjutnya.
“Sekarang aku mengerti bagaimana keadaan perusahaanmu!” kataku,
sedikit memberikan empati kepadanya. Sebagai teman yang baik, empati itu harus
dimunculkan, agar nantinya dari sebuah perbincangan, ditemukan sebuah solusi
yang benar-benar baik.
“Iya, aku sendiri juga sadar bahwa literasi di negeriku sangat
rendah, sehingga masyarakat mudah terhasut. Sebenarnya itu tidak terlalu
bermasalah. Namun, kurangnya literasi itu dibarengi dengan fanatik yang
berlebihan pada masyarakat terhadap agama!” Dia benar-benar terpukul dengan isu
agama yang dia temui.
“Lalu, bagaimana sikap pemerintah?” tanyaku. Aku penasaran dengan
bagaimana sikap pemerintah mereka menyikapi permasalahan ini.
“Nah, aku juga bingung dengan sikap pemerintah di sana!” jawabnya
dengan sebuah gelengan ringan. “Mereka bukannya mencari solusi agar masalah
selesai, namun mereka justru terbelah menjadi dua kubu. Ada yang membela isu
agama, ada yang menolak isu agama. Nah, sekarang mereka tengah mempertaruhkan
gagasan dan ideologi!” lanjutnya.
“Kenapa bisa demikian?” tanyaku.
“Aku tidak tahu kenapa mereka bisa membelah diri menjadi dua
seperti amuba,” ujarnya. “Sebenarnya mereka yang membela agama, tidak
benar-benar membela agama, dan juga sebaliknya. Maka, aku bisa mengatakan bahwa
mereka membawa agama hanya untuk sebuah senjata, dan itu busuk!”
Di sela-sela kami berbicara, ojek online datang membawa
makanan yang aku pesan. Syukurlah, mungkin perbincangan kami akan terasa lebih
nikmat, dan ini adalah pembahasan luar biasa bagiku.
“Apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanyaku. Aku tidak bisa
berkata apa-apa selain bertanya.
“Aku akan membangun bisnisku kembali dengan cara yang berbeda. Aku
juga akan berusaha untuk mengurangi manusia bodoh di negeriku!” jawabnya.
“Maksudnya?”
“Iya, aku akan membangun sekolahan untuk mendidik anak-anak bangsa!
Biarkan saja benisnis yang menumpuk-numpuk uang, harta tidak akan dibawa mati!”
Aku setuju dengannya.
Bagaimana, Kawan? Apakah kalian sudah bisa menebak negeri sahabatku
itu?
Indonesia? Bukan, Indonesia itu negeriku, dan sahabatku berasal
dari negeri seberang.
Tangerang Selatan, 21 Juni 2023





0 Post a Comment
Posting Komentar