Ayat Anarkis: Organisasi Hanya Untuk Manusia Berakal - Artikel Oleh Jasmiko | Sastra Putar Balik

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهٖ صَفًّا كَاَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (QS. Ash-Shaf, 4).

Ayat tersebut menerangkan kepada manusia bahwa Allah mencintai orang-orang yang berperang, dan orang-orang yang berperang itu bagaikan bangunan yang kokoh. Dalam ayat tersebut Allah menyebut bahwa Dia mencintai manusia yang berperang dalam keadaan kokoh, seperti bangunan yang tersusun rapi. Nah, kita bisa banyak belajar dari ayat ini.

Satu ayat tersebut menjelaskan kepada kita arti pentingnya sebuah pengorganisasian. Ayat tersebut bisa dijasikan salah satu ayat yang menganjurkan kepada manusia, khususnya mulis, untuk berorganisasi. Apa itu organisasi?

Menurut KBBI, organisasi adalah suatu kesatuan atua susunan yang terdiri atas orang-orang dalam perkumpulan untuk mencapai tujuan bersama. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa dua elemen penting dalam organisasi adalah anggota (orang) dan visi. Anggota adalah elemen pokok dalam organisasi yang tidak mungkin dapat dibantahkan. Untuk membuat sebuah organisasi tentu membutuhkan anggota, setidaknya dua orang. Kemudian elemen selanjutnya yang harus ada untuk membuat organisasi yang berkualitas adalah adanya sebuah visi. Visi menjadi penting dalam organisasi sebab pada dasarnya manusia-manusia yang bergabung di dalamnya mempunyai visi yang sama. Nah, agar visi tersebut lebih dekat dengan kata berhasil, maka mereka menjadi sebuah kelompok yang bertujuan sama, dan akhirnya dinamakan dengan organisasi.

Di dalam organisasi, tentu ada sebuah tujuan bersama yang hendak di raih. Dalam Islam sendiri, banyak organisasi-organisasi yang dibentuk dengan berbagai visi dan misi. Misal saja di Indonesia, mungkin yang tidak asing lagi di telinga kita adalah NU dan Muhammadiyah. Iya, pada dasarnya manusia-manusia yang bergabung di dalamnya mempunyai tujuan yang sama sesuai dengan tujuan awal organisasi tersebut dibentuk. Jika di belakang ada sebuah perbedaan, maka itu adalah sebuah hal yang seharusnya dihindari dalam organisasi, sebab itu akan membuat langkah sebuah organisasi menjadi tidak terarah. Maka dari itu, dalam sebuah organisasi ada yang namanya Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga demi menghindari perbedaan tujuan, kesalahan tujuan, atau tujuan yang berseberangan dengan tujuan awal didirikan organisasi.

NU dan Muhammadiyah bisa kita jadikan contoh bagaimana organisasi yang baik. NU dan Muhammadiyah tentu mempunyai visi dan misi yang berbeda, sebab keduanya mempunyai ideologi masing-masing meskipun berangkat dari Al-Qur’an dan hadits yang sama. Kenapa bisa berbeda? Banyak yang menjadi penyebabnya, misal adalah latar belakang sosial pendiri, dan masih banyak lagi. Tapi kita pada kesempatan ini tidak akan membahas itu, kita akan membahas sebuah hal yang lebih penting.

Dengan masuk ke dalam organisasi, tentu mempunyai visi tersendiri, mempunyai landasan juang sendiri-sendiri yang terstruktur. Berorganisasi itu baik, namun jangan sampai salah langkah. Allah mengatakan bahwa Dia mencintai hambanya yang berorganisasi, dalam artian melakukan tindakan-tindakan bersama yang terorganisir. Kenapa Allah cinta dengan manusia yang demikian? Saya menebak bahwa di dalamnya banyak sekali kelebihan-kelebihan yang tidak ada di luar organisasi. Di dalam organisasi kita bisa berjuang bersama-sama, mengkaji bersama-sama, dan itu tidak bisa kita temukan di luar organisasi.

Pada awalnya memang masuk dalam sebuah organisasi adalah kebaikan dan kelebihan tersendiri. Tapi, sepertinya organisasi ini seperti ilmu mantiq, yang kata Imam Al-Ghozali tidak semua orang bisa mempelajarinya. Pertama, Al-Ghozali mensyaratkan bahwa orang yang boleh belajar mantiq adalah orang yang berakal sempurna. Bahkan, Imam Nawawi mengharamkan untuk belajar mantiq. Nah, ini sama halnnya dengan berorganisasi. Organisasai hanya untuk orang-orang yang berakal sempurna. Apa yang dimaksud dengan akal yang sempurna? Akal yang dapat berperan dengan baik sebagaimana mestinya.

Organisasi tentu mewakili dari diri anggotanya. Mulai dari nama, bendera, lambang, bahkan yel-yel adalah sebuah representasi dari jiwa anggotanya. Maka, bisa disebut wajar jika adalah anggota organisasi yang marah ketika benderanya dibakar, di hina. Bahkan ada yang sampai melakukan tindakan anarkis demi sebuah balas dendam sebab merasa terhina. Alasan paling mendasaar, dan itu disembunyikan adalah rasa gengsi. Lalu, alasan yang dikemukakan di permukaan adalah membela nilai dari kebenaran, bahwa orang-orang yang membakar bendera itu adalah orang yang salah dan patut disalahkan. Iya, kebanyakan manusia yang tidak obyektif akan mengutamakan gengsinya dari pada nilai yang sesungguhnya.

Menjadi anggota sebuah organisasi harus mempunyai akal yang sempurna, akal yang berfungsi sebagaimana mestinya. Bagaimana akal seharusnya berfungsi? Akal yang berfungsi dengan baik adalah akal yang obyektif, akal yang bisa mempertimbangkan mana yang perlu dan mana yang tidak perlu. Memang, sebagai anggota organisasi patut marah dengan pembakaran sebuah bendera, tapi tidak perlu sampai melakukan perbuatan anarkis untuk membalas dendam dan menegakkan nilai. Ada banyak cara yang lebih elegan untuk membalas dendam, salah satunya dengan prestasi. Biarkan saja bendera di bakar, bukankah bendera hanya sebuah kain yang ada lambangnya? Bukankah ketika bendera dibakar, nilai-nilai di dalamnya tidak ikut musnah? Pendapat tersebut menurut saya pribadi, silakan teman-teman jika punya pandangan tersendiri. Namun kebanyakan dari kita kalah dengan gengsi, bahwa ketika bendera dibakar tidak akan menjadi suci lagi kecuali dengan mambalas dengan balasan yang anarkis pula.

Sekarang kita masuk ke dalam organisasi kampus. Banyak sekali organisasi di kampus, ambil contoh saja organisasi dalam kampus Islam. Banyak organisasi himpunan mahasiswa yang berlatar belakang Islam, dan tidak perlu saya sebutkan di sini sebab teman-teman mungkin sudah paham dengan organisasi yang saya maksud. Banyak organisasi di kampus yang berlatar belakang Islam, hidup dan tumbuh di kampus Islam pula. Tapi ada yang aneh, kenapa antar organisasi yang berlatar belakang Islam malah bertikai? Ini menjadi tanda tanya besar dan menjadi PR kita bersama. Tidak jarang kita mendengar berita pertikaian antara organisasi A dan B, yang sebenarnya sama-sama berideologi Islam, dan sama persis, hanya nama dan bendera yang menjadi pembeda. Jika dipikir dengan akal sehat, jika kedua organisasi tersebut berjalan pada jalan prinsip, maka pertikaian tidak akan terjadi. Berarti jika demikian maka ada salah satu yang salah, atau keduanya memang salah.

Surat Al-Hujurat ayat 10 :

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat."

Ayat di atas menerangkan bahwa orang-orang mukmin adalah saudara. Maka dengan demikian, Allah memerintahkan untuk saling memperbaiki hubungan, agar keduanya mendapatkan rahmat Allah. Seharusnya umat Islam, terutama mahasiswa yang notabenenya adalah intelektual, bisa menerapkan ayat tersebut pada kehidupan berorganisasi.

seharusnya antar satu organisasi Islam satu dengan yang lain saling menguatkan, saling mendukung, bukan saling menjegal. Jika budaya saling menjegal antar organisasi Islam masih dipertahankan, maka jelas sekali bahwa dua ayat yang telah disebutkan di depan tidak diterapkan. Pertama, tentu melanggar surat Ash-Shaf ayat 4 yang mengatakan bahwa seharusnya seorang mukmin itu solid dalam berorganisasi, seperti bangunan yang kokoh. Seharusnya antar organisasi menjadi sebuah bangunan Islam yang kokoh, saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama, untuk meraih rahmat Allah yang dijanjikan. Kedua, tentu melanggar surat Al-Hujurat ayat 10, yang mengatakan bahwa seharusnya antar sesama mukmin itu saling mendukung.

Keributan ini harus segera dihapus, dan segera membentuk budaya baru yaitu saling menopang dan mendukung, bukan saling menjegal. Pada dasarnya semua organisasi Islam di kampus-kampus, saya yakin, didirkan dan dibentuk atas dasar tujuan yang baik. Maka ketika organisasi tersebut sampai pada generasi kita, jangan sampai salah arah. Jika sampai pada kita dalam keadaan salah arah, kitalah yang bertanggung jawab untuk meluruskan jalannya kembali. Tidak ada perbedaan antar ijo, biru, kuning, merah, dalam berorganisasi.

Opsi terakhir gengsi masih ada, maka adalah saingan secara akademis, adu gagasan, bukan saling lempar tong sampah dan helm. Saling menjatuhkan dalam argumen itu lebih baik, dan sejalan dengan konsep Indonesia yang bercita-cita menjadi negara maju pada 2045. Jangan berharap Indonesia menjadi negara maju pada 2045 ketika kita masih sibuk mengurusi gengsi yang  berasal dari perbedaan bendera dan yel-yel. Mahasiswa seharusnya yang memulai ini semua, sebab mahasiswa adalah manusia-manusia yang sibuk dengan intelektualitas.

Ciputat, 01 september 2023


 

0 Post a Comment

Posting Komentar