Menjadi Manusia Berkualitas dengan Karakter Etik - Artike Oleh Jasmiko | Sastra Putar Balik

 



Akhir-akhir ini banyak peristiwa yang mengingatkan saya pada kalimat sebuah buku yang ditulis oleh Stephen Covey. Saya tidak ingat betul kalimatnya bagaimana, namun maksud dari kalimat itu masih saya ingat betul dan saya pahami. Begini :

Pada masa sebelum perang kedua, kebanyakan manusia mengutamakan keadaan batin/karakter etik. Setelah perang dunia ke dua, kebanyakan manusia hanya memikirkan bungkus, atau disebut dengan personaliti etik.

Keduanya ini sangat bertolak belakang. Karakter etik adalah sebuah tindakan atau karakter yang mengutamakan batin/hati/makna terlebih dahulu. Karakter etik tidak hanya memikirkan tentang bungkus, tapi mengutamakan esensi dari sebuah hal terlebih dahulu, sebab itu yang utama dan sangat diperlukan. Lalu bagaimana dengan personaliti etik? Personaliti etik adalah sebuah karakter yang mengutamakan keadaan luar terlebih dahulu. Manusia yang mempunya karaker personaliti etik lebih mengutamakan tampilan luar, atau yang sering kita sebut dengan pencitraan.

Manakah yang penting dari kedua hal tersebut? Dua-duanya sama-sama penting. Namun, ada yang lebih perlu untuk diprioritaskan, yaitu karakter etik. Keadaan dalam harus kita pikirkan terlebih dahulu sebelum memikirkan keadaan luar. Karakter etik adalah sebuah esensi dari sebuah makna, dan itu lebih utama. Hati atau batin, keadaan dalam, makna, adalah sumber dari semua  hal-hal yang mempengaruhi keadaan luar. Ini sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi, bahwa ketika hati keadaannya baik, maka seluruh tubuh akan menjadi baik. Pun sebaliknya, jika hati rusak/sakit, maka keadaan luar juga akan ikut sakit.

Kita adalah manusia  yang hidup di era modern dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat, dengan perkembangan jaman yang penuh dengan tipu daya, harus benar-benar membedakan dua hal ini untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Etika karakter harus didahulukan dalam segala hal dan segala tindakan.

Kita hidup pada jaman yang penuh dengan tipu daya, penuh dengan tipu daya fitur filter pada kamera. Iya, personaliti etik lebih kurangnya mirip dengan filter pada kamera. Ada seseorang yang selfie dengan menggunakan filter, sehingga kecantikan/ketampanannya bertambah seratus persen. Nah, dengan tangkapan gambar yang bagus, apakah manusia aslinya berubah menjadi bagus? Tentu saja tidak. Itulah gambaran antara karakter etik dan personaliti etik. Gambar yang dihasilkan oleh kamera adalah personaliti etik, sedang wujud asli manusia adalah karakter etik. Harus baik dari dalam terlebih dahulu, kemudian keadaan luar akan ikut membaik. Percuma membenahi dari luar, sebab eksistensi dan sesuatu yang urgen itu ada di dalam.

Penampilan luar itu penting. Ketika bertemu dengan seseorang yang benar-benar baru, maka hal pertama yang kita lihat adalah penampilannya. Ini menandakan bahwa penampilan luar juga penting, tapi tingkat kepentingannya tidak akan bisa melebihi tampilan dalam.

Ini erat hubungannya dengan karakter kita. Karakter adalah sifat atau tabiat yang melekat pada seseorang, berarti ada dalam diri manusia, bukan di luar. Nah, karakter inilah yang akan membentuk penampilan dalam kita, yang akan membentuk karakter etik kita. Maka, untuk menjadikan kehidupan yang berkualitas, harus merubah karakter dari dalam terlebih dahulu agar berkualitas, dan keadaan dalam yang bagus itu akan merubah keadaan luar.

Ciputat, 31 Agustus 2023

0 Post a Comment

Posting Komentar