Intelektualitas Cap Sampah - Artikel oleh Jasmiko | Sastra Putar Balik


Sebagai manusia yang hidup di dunia, maka sudah selayaknya menjaga dan melestarikan dunia. Untuk apa? Secara hukum sosial, yang padahal hukum tersebut adalah manusia sendiri yang menciptakannya, menjaga sebuah rumah yang kita tinggal di dalamnya adalah sebuah kewajiban, bahkan lebih dari itu adalah sebuah kebutuhan. Iya, secara skala besar manusia wajib dan butuh melestarikan serta menjaga alam, menjaga dunia agar tetap dalam keadaan stabil kendati bumi mempunyai daya tersendiri untuk menstabilkan diri.

Kita akan membahas sebuah lingkup yang lebih kecil dari dunia, namun ini bisa diterapkan pula dalam semua lingkup kehidupan. Lingkup apa yang saya maksud? Adalah kampus. Siapa tokoh-tokoh yang berperan di sini? Dosen, rektor serta jajarannya, dan yang paling besar adalah mahasiswa. Mahasiswa wajib menjaga dan melestarikan lingkungan kampus, tempat di mana mereka tinggal dan menuntut ilmu. Iya, saya mengatakan bahwa kampus adalah tempat tinggal, dan di sana para mahasiswa menyusun masa depan demi masa depan, menyelami pemikiran-pemikiran.

Universitas, perguruan tinggi, atau sebut saja kampus, adalah tempat yang seharusnya melahirkan pemikir-pemikir yang memiliki orientasi berkemajuan. Tapi pada kenyataannya sekarang apakah sudah demikian? Saya rasa belum.

Kembali lagi pada pembahasan awal, bahwa manusia wajib menjaga dan melestarikan lingkungan tempat dia berada. Menjadi seorang mahasiswa berarti dia harus menjaga lingkungan kampus. Tidak usah pada hal-hal yang filosofis terlebih dahulu, kita angkat sebuah masalah yang benar-benar remeh tapi itu berangkat dari pemikiran, dan pemikiran adalah dasar dari sebuah tindakan, yaitu sampah.

Melalui pengamatan yang saya lakukan di kampus saya, banyak mahasiswa yang tidak  peduli dengan sampah yang dia ciptakan. Saya rasa jika mereka tidak peduli dengan sampah yang diciptakan oleh mahasiswa lain bisa dimaklumi dengan tingkat kemakluman yang sangat rendah. Namun, apakah bisa dimaklumi seorang mahasiswa yang tidak peduli dengan sampahnya sendiri? Ini miris, soal sampah seorang mahasiswa tidak bisa mengelolanya, minimal membuang sampah pada tempatnya.

Lanjut lagi pada pengamatan yang saya lakukan pada beberapa titik kampus tempat saya kuliah. Tidak perlu saya sebutkan apa nama kampusnya, takut ada yang beranggapan bahwa ini adalah termasuk ke dalam golongan pencemaran nama baik. Setiap ada perkumpulan, pasti ada sampah, dan banyak yang ditinggalkan, bahkan di loby-loby fakultas. Miris!

Iya, saya tidak mengatakan pada semua perkumpulan, tapi lebih pada sebagian besar. Sampah-sampah itu berserakan, mulai dari bungkus es, makanan, sterofoam, plastik, bahkan tisu. Mungkin dalam perkumpulan itu mereka membicarakan dan mendiskusikan keadaan politik bangsa, bahkan dunia, namun mereka tidak bergerak untuk hal yang lebih dekat dan sangat berpengaruh pada pola pikir. Setelah berdikusi, nahasnya diakhiri dengan doa kepada Tuhan pula, mereka meninggalkan sampah yang mereka ciptakan beramai-ramai.

Kenapa pada kalimat di atas saya menyebutkan diakhiri dengan doa adalah sebuah kenahasan? Begini;

Kalau tidak salah dengar, ada ayat ataupun hadits, atau apalah yang mengatakan bahwa Tuhan  itu indah, dan Dia mencintai keindahan. Nah, ketika kita sudah tahu bahwa keadaannya adalah demikian, apakah doa-doa mereka bisa dikatakan penghinaan kepada Tuhan? Mereka meminta rezeki kepada Tuhan, sedang apa yang Tuhan katakan saja tidak dia lakukan, yaitu bahwa Tuhan mencintai keindahan.

Sebelum melangkah seribu kilo meter, idealnya adalah kita melangkah satu meter terlebih dahulu. Apakah harus demikian? Iya, ini wajib dan tidak bisa diganggu gugat dengan alasan apapun. Berjalan satu meter selama seratus tahun akan mengantarkan pada tujuan yang kita harap-harapkan, yaitu sebuah bangsa dan negara yang berkemajuan. Jangan harap bangsa kita bisa menjadi bangsa yang maju jika pemikiran masyarakatnya masih saja seperti saat ini, salah satunya abai terhadap sampah, apalagi mahasiswa yang kerap demo kepada pemerintah.

Dari sampah, pemikiran itu akan menyebar luas pada seluruh aspek kehidupan. Mungkin kita bisa mengambil sebuah pelajaran dari sebuah cerpen yang ditulis oleh A.A. Navis belasan tahun lalu yang berjudul “Robohnya Surau Kami”. Kisahnya sangat inspiratif, dalam artian kita bisa menerapkan apa-apa yang dikisahkan di dalamnya. Cerpen tersebut awalnya menceritakan seorang kakek tua penjaga surau yang tidak bekerja, dan hanya menunggu pemberian dari masyarakat. Sebagai penjaga surau, yang waktu itu adalah sebuah tempat ibadah, maka dia termasuk ke dalam orang yang taat beribadah, menurut pandangannya pribadi.

Dalam cerpen ada sebuah adegan cerita di dalam cerita. Ada seseorang yang bernama Haji Sholeh, dia menyebut diri sebagai haji karena sudah pernah haji, di sana tengah menunggu antrian masuk ke dalam surga atau neraka. Ketika ada manusia di depannya yang masuk ke dalam neraka, Haji Sholeh tertawa sinis, dan ketika ada yang masuk surga dia melambaikan tangan kepadanya, seakan-akan semua yang masuk ke dalam surga adalah sahabat dekatnya dan akan bertemu lagi nanti di sana. Pada akhirnya Haji Sholeh oleh Tuhan dimasukkan ke dalam neraka. Nah, dia mulai protes kepada Tuhan perihal kenapa dia dimasukkan ke dalam neraka padahal dia adalah hamba yang menjaga surau dan selalu taat serta beribadah kepadaNya.

Singkat cerita yang menyebabkan dia tidak masuk surga adalah pola pikirnya. Dia beribadah hanya takut masuk neraka. Pun, dia hanya mementingkan  diri sendiri, tidak memikirkan alam sekitarnya, tidak memikirkan generasi penerusnya. Haji Sholeh adalah cerminan manusia yang hanya beribadah dengan mengharap surga namun tidak memedulikan lingkungan sekitarnya. Ini cocok sekali dengan kehidupan mahasiswa jaman sekarang, bahkan lebih parah lagi. Ada mahasiswa yang tidak peduli dengan dirinya sendiri, apalagi kepada orang lain. Kenapa mahasiswa tidak peduli dengan diri sendiri? Ini semua bermula dari pola pikir.

Mungkin cerita Haji Sholeh adalah cerita fiktif, tapi keadaan mahasiswa yang saya sebutkan benar-benar realita. Bangsa kita tidak akan menjadi bangsa yang maju tanpa pemikiran yang berkemajuan terlebih dahulu, salah satu pola pikir yang berkemajuan adalah pemikiran bahwa menjaga lingkungan adalah sebuah kebutuhan, bukan hanya kewajiban.

Bangsa bukan tanggungan pribadi secara kolektif, tapi tanggungan bersama-sama dalam pergerakan. Kalau semua masyarakat bergerak untuk kemajuan dengan sistem yang benar, terutama para pemudanya, apakah Indonesia tidak akan menjadi negara yang maju? Jika demikian sudah dilakukan dan Indonesia tidak menjadi negara hebat, maka pasti perlu ada yang dikoreksi lagi.

Tangerang Selatan, 25 Oktober 2023


0 Post a Comment

Posting Komentar