Sebagai manusia yang hidup di dunia, maka sudah selayaknya menjaga
dan melestarikan dunia. Untuk apa? Secara hukum sosial, yang padahal hukum
tersebut adalah manusia sendiri yang menciptakannya, menjaga sebuah rumah yang
kita tinggal di dalamnya adalah sebuah kewajiban, bahkan lebih dari itu adalah
sebuah kebutuhan. Iya, secara skala besar manusia wajib dan butuh melestarikan
serta menjaga alam, menjaga dunia agar tetap dalam keadaan stabil kendati bumi
mempunyai daya tersendiri untuk menstabilkan diri.
Kita akan membahas sebuah lingkup yang lebih kecil dari dunia,
namun ini bisa diterapkan pula dalam semua lingkup kehidupan. Lingkup apa yang
saya maksud? Adalah kampus. Siapa tokoh-tokoh yang berperan di sini? Dosen,
rektor serta jajarannya, dan yang paling besar adalah mahasiswa. Mahasiswa
wajib menjaga dan melestarikan lingkungan kampus, tempat di mana mereka tinggal
dan menuntut ilmu. Iya, saya mengatakan bahwa kampus adalah tempat tinggal, dan
di sana para mahasiswa menyusun masa depan demi masa depan, menyelami
pemikiran-pemikiran.
Universitas, perguruan tinggi, atau sebut saja kampus, adalah
tempat yang seharusnya melahirkan pemikir-pemikir yang memiliki orientasi
berkemajuan. Tapi pada kenyataannya sekarang apakah sudah demikian? Saya rasa
belum.
Kembali lagi pada pembahasan awal, bahwa manusia wajib menjaga dan
melestarikan lingkungan tempat dia berada. Menjadi seorang mahasiswa berarti
dia harus menjaga lingkungan kampus. Tidak usah pada hal-hal yang filosofis
terlebih dahulu, kita angkat sebuah masalah yang benar-benar remeh tapi itu
berangkat dari pemikiran, dan pemikiran adalah dasar dari sebuah tindakan,
yaitu sampah.
Melalui pengamatan yang saya lakukan di kampus saya, banyak
mahasiswa yang tidak peduli dengan
sampah yang dia ciptakan. Saya rasa jika mereka tidak peduli dengan sampah yang
diciptakan oleh mahasiswa lain bisa dimaklumi dengan tingkat kemakluman yang
sangat rendah. Namun, apakah bisa dimaklumi seorang mahasiswa yang tidak peduli
dengan sampahnya sendiri? Ini miris, soal sampah seorang mahasiswa tidak bisa
mengelolanya, minimal membuang sampah pada tempatnya.
Lanjut lagi pada pengamatan yang saya lakukan pada beberapa titik
kampus tempat saya kuliah. Tidak perlu saya sebutkan apa nama kampusnya, takut
ada yang beranggapan bahwa ini adalah termasuk ke dalam golongan pencemaran
nama baik. Setiap ada perkumpulan, pasti ada sampah, dan banyak yang
ditinggalkan, bahkan di loby-loby fakultas. Miris!
Iya, saya tidak mengatakan pada semua perkumpulan, tapi lebih pada
sebagian besar. Sampah-sampah itu berserakan, mulai dari bungkus es, makanan,
sterofoam, plastik, bahkan tisu. Mungkin dalam perkumpulan itu mereka
membicarakan dan mendiskusikan keadaan politik bangsa, bahkan dunia, namun
mereka tidak bergerak untuk hal yang lebih dekat dan sangat berpengaruh pada
pola pikir. Setelah berdikusi, nahasnya diakhiri dengan doa kepada Tuhan pula,
mereka meninggalkan sampah yang mereka ciptakan beramai-ramai.
Kenapa pada kalimat di atas saya menyebutkan diakhiri dengan doa
adalah sebuah kenahasan? Begini;
Kalau tidak salah dengar, ada ayat ataupun hadits, atau apalah yang
mengatakan bahwa Tuhan itu indah, dan
Dia mencintai keindahan. Nah, ketika kita sudah tahu bahwa keadaannya adalah
demikian, apakah doa-doa mereka bisa dikatakan penghinaan kepada Tuhan? Mereka
meminta rezeki kepada Tuhan, sedang apa yang Tuhan katakan saja tidak dia
lakukan, yaitu bahwa Tuhan mencintai keindahan.
Sebelum melangkah seribu kilo meter, idealnya adalah kita melangkah
satu meter terlebih dahulu. Apakah harus demikian? Iya, ini wajib dan tidak
bisa diganggu gugat dengan alasan apapun. Berjalan satu meter selama seratus
tahun akan mengantarkan pada tujuan yang kita harap-harapkan, yaitu sebuah
bangsa dan negara yang berkemajuan. Jangan harap bangsa kita bisa menjadi bangsa
yang maju jika pemikiran masyarakatnya masih saja seperti saat ini, salah
satunya abai terhadap sampah, apalagi mahasiswa yang kerap demo kepada
pemerintah.
Dari sampah, pemikiran itu akan menyebar luas pada seluruh aspek
kehidupan. Mungkin kita bisa mengambil sebuah pelajaran dari sebuah cerpen yang
ditulis oleh A.A. Navis belasan tahun lalu yang berjudul “Robohnya Surau Kami”.
Kisahnya sangat inspiratif, dalam artian kita bisa menerapkan apa-apa yang
dikisahkan di dalamnya. Cerpen tersebut awalnya menceritakan seorang kakek tua
penjaga surau yang tidak bekerja, dan hanya menunggu pemberian dari masyarakat.
Sebagai penjaga surau, yang waktu itu adalah sebuah tempat ibadah, maka dia
termasuk ke dalam orang yang taat beribadah, menurut pandangannya pribadi.
Dalam cerpen ada sebuah adegan cerita di dalam cerita. Ada
seseorang yang bernama Haji Sholeh, dia menyebut diri sebagai haji karena sudah
pernah haji, di sana tengah menunggu antrian masuk ke dalam surga atau neraka.
Ketika ada manusia di depannya yang masuk ke dalam neraka, Haji Sholeh tertawa
sinis, dan ketika ada yang masuk surga dia melambaikan tangan kepadanya,
seakan-akan semua yang masuk ke dalam surga adalah sahabat dekatnya dan akan
bertemu lagi nanti di sana. Pada akhirnya Haji Sholeh oleh Tuhan dimasukkan ke
dalam neraka. Nah, dia mulai protes kepada Tuhan perihal kenapa dia dimasukkan
ke dalam neraka padahal dia adalah hamba yang menjaga surau dan selalu taat
serta beribadah kepadaNya.
Singkat cerita yang menyebabkan dia tidak masuk surga adalah pola
pikirnya. Dia beribadah hanya takut masuk neraka. Pun, dia hanya
mementingkan diri sendiri, tidak
memikirkan alam sekitarnya, tidak memikirkan generasi penerusnya. Haji Sholeh
adalah cerminan manusia yang hanya beribadah dengan mengharap surga namun tidak
memedulikan lingkungan sekitarnya. Ini cocok sekali dengan kehidupan mahasiswa
jaman sekarang, bahkan lebih parah lagi. Ada mahasiswa yang tidak peduli dengan
dirinya sendiri, apalagi kepada orang lain. Kenapa mahasiswa tidak peduli
dengan diri sendiri? Ini semua bermula dari pola pikir.
Mungkin cerita Haji Sholeh adalah cerita fiktif, tapi keadaan
mahasiswa yang saya sebutkan benar-benar realita. Bangsa kita tidak akan
menjadi bangsa yang maju tanpa pemikiran yang berkemajuan terlebih dahulu, salah
satu pola pikir yang berkemajuan adalah pemikiran bahwa menjaga lingkungan
adalah sebuah kebutuhan, bukan hanya kewajiban.
Bangsa bukan tanggungan pribadi secara kolektif, tapi tanggungan
bersama-sama dalam pergerakan. Kalau semua masyarakat bergerak untuk kemajuan
dengan sistem yang benar, terutama para pemudanya, apakah Indonesia tidak akan
menjadi negara yang maju? Jika demikian sudah dilakukan dan Indonesia tidak
menjadi negara hebat, maka pasti perlu ada yang dikoreksi lagi.
Tangerang Selatan, 25 Oktober 2023





0 Post a Comment
Posting Komentar