Tanah Punya Abang dan Palestina - Cerpen oleh Jasmiko | Sastra Putar Balik

 


Jika jalan pikiran manusia bisa dipetakan, dan keinginan manusia pun demikian, sepertinya mereka ingin duduk manis, usaha lancar, mati masuk surga pula. Iya, itu adalah bayangan laki-laki paruh baya di sebuah ruka tua yang beberapa hari lalu dipugar catnya. Dahulu, ruko-ruko itu menjadi serbuan orang-orang dalam pemenuhan kebutuhan, mulai dari makanan sampai pakaian. Lelaki paruh baya itu membayangkan masa-sama di mana orang-orang berlalu-lalang menawar dagangannya. Sekarang, sepi, satu-dua orang melintas, tapi tidak mampir apalagi menawar dagangannya. Lelaki paruh baya itu menjajakkan pakaian-pakaian dari berbagai jenis.

“Ya Allah, apakah aku kurang berusaha? Rasa-rasanya tidak. Usahaku sudah cukup, aku sudah bangun pagi dan berangkat membuka ruko ini, tapi kenapa semakin sepi saja?” keluhnya pada sosok Tuhan yang dia percaya.

Lalu-lalang orang di depan rukonya tidak ada yang mampir. Kebanyakan dari mereka yang melintas adalah orang tua pula, jarang sekali anak muda datang ke lokasi ruka-ruko itu berjualan.

“Ini semua gara-gara Taktik Live!” gerutunya.

Sepertinya lelaki paruh baya itu tidak sendirian menunggu rukonya, dia bersama sang istri.

“Pemerintah kurang bijak dalam menyikapi permasalahan ini,” ujar sang istri yang datang sembari membawa secangkir kopi. “Pemerintah seharusnya menutup live-live yang jualan itu, sangat tidak pro terhadap rakyat kecil!” lanjutnya.

Lelaki paruh baya mengomentari, “Iya, pemerintah tidak pro pada rakyat kecil. Pemerintah  sudah dibuat buta oleh pajak, dan pemerintah tidak memberi solusi pada rakyatnya!”

Mereka berdua saling mengadu gagasan, lebih tepatnya mengadu nasib masing-masing. Kurang lebih nasib mereka sama, sama-sama merasa tidak mendapat perhatian dari pemerintah.

“Berarti kita harus memaksa pemerintah untuk segera menunjukkan sikap!” ujar sang istri.

“Nah, itu! Suara kita memang kecil, namun jika dikerahkan bersamaan dan terkordinasi dengan baik akan meledak!” sahut lelaki paruh baya.

***

“Akhirnya tidak sia-sia kita bersuara!” ujar lelaki paruh baya.

Sebulan yang lalu mereka bersuara besar-besaran kepada pemerintah. Alhasil, hari ini pemerintah telah menuutup Taktik Live. Sebenarnya, pemerintah menutup Taktik Live bukan berdasarkan desakan dari rakyat, melainkan ada beberapa alasan yang mereka pertimbangkan.

Lelaki paruh baya dan istrinya tersenyum puas, siap dengan rukonya yang akan ramai kembali seperti masa-sama sebelum Taktik Live viral.

“Bismillah, semoga hari ini berkah!” ujar lelaki paruh baya.

“Amien!” sahut istrinya.

Mereka tersenyum untuk kesekian kalinya, sepertinya Tuhan benar-benar memberikan kebahagian kepada diri mereka. Iya, menurut lelaki paruh baya itu dan istrinya, yang menjadi penyebab utama sepinya ruko mereka adalah Taktik Live. Maka, dengan ditutupnya Taktik Live oleh pemerintah akan menjadi solusi agar ramai kembali.

Dua Minggu berlalu, tidak ada perubahan, rukon tetap sepi oleh pembeli. Para penjual di sana mulai resah, mulailah mereka melakukan analasis baru terhadap faktor yang mempengaruhi sepinya ruko. Pada akhirnya mereka menemukan kesimpulan bahwa yang harus ditutup adalah semua situs jual beli online.

“Iya, ruko-ruko kita mulai sepi ketika jual-beli online masuk negara kita. Lihat saja negeri sebelah, Indonesia misalnya. Penjual offline di negeri mereka tetap ramai karena jual-beli online tidak ada di sana. Tidakkah pemerintah mengambil pelajaran dari negeri sebelah itu?” Lelaki paruh baya berapi-api.

“Pemerintah harus menutup semua situs online di negara kita, agar negara kita tetap ramai seperti negara Indonesia, negeri sebelah!” sahut sang istri.

“Setujuuu!” sahut penjaga ruko lain.

Mereka sepertinya akan melakukan aksi lagi, menuntut kepada pemerintah untuk menutup situs jual beli online. Iya, itu semua mereka lakukan untuk meramaikan kembali ruko-ruko mereka, mengembalikannya pada jaman keemasan.

Namun kali ini sepertinya pemerintah tidak menanggapi. Memang, pemerintah serba salah juga dalam menyikapi hal ini. Pertama, pemerintah tentu ingin ruko-ruko penjual itu tetap buka dan ramai. Untuk apa? untuk mendapatkan pajak darinya. Kedua, pemerintah juga ingin situs jual beli online juga berjalan. Untuk apa? Juga untuk mendapatkan pajak darinya. Dengan demikian, maka pemerintah menginginkan keduanya berjalan agar mendapat pajak yang besar. Dengan pajak yang besar, mereka akan mendapatkan gaji dan tunjangan yang besar pula, bahkan lebih leluasa untuk mengorupsi pajak tersebut.

Ruko semakin sepi, dan penjual di sana mulai mengumandangkan rencana selanjutnya.

Lelaki paruh baya berkata, “Bagaimana kalau kita mengusulkan kepada pemerintah agar melarang internet masuk ke negeri kita?” Matanya menyelidik bangga, idenya terlalu brilian.

“Itu ide yang jenius dan mesti diusulkan kepada pemerintah!” sahut sang istri. Dia melanjutkan, “Jika pemerintah benar-benar pro pada rakyat, seharusnya mereka mengabulkan apa-apa yang menjadi keinginan rakyatnya! Internet telah menghancurkan perekonomian rakyat, memaksa rakyat untuk miskin!”

“Iya, kita harus mendemo pemerintah agar melarang internet masuk ke negara kita! Itu adalah jalan paling utama agar ruko kita kembali ramai. Jika tidak, maka pemerintah dan partainya yang sekarang menjabat tidak amanah, tidak pro rakyat. Ke depan, kita tidak boleh memilih partai mereka!” Lelaki paruh baya terbatuk-batuk sembari berteriak, hawa panas tidak mereka hiraukan, keadaan hati mereka terlampau panas.

***

“Bagaimana pendapatmu mengenai film dokumenter tadi?” tanya Alisa, mereka berdua baru saja menonton sebuah film dokumenter singkat.

“Pembodohan, ide yang diusung tidak masuk akal!” kata Dian menjawab.

“Ha? Tidak masuk akal?” heran Alisa.

“Iya, sangat tidak masuk akal!” sahut Dian.

“Jelaskan!” Alisa mengangkat alisnya, bersiap mendengarkan penjelasan Dian.

“Pandangan ingin membungkam internet dari negara mereka sangat tidak masuk akal, dan akan menghancurkan ekonomi negara mereka lebih besar. Mereka salah bersikap, seharusnya mereka menyikapi datangnya internet dengan gagasan dan pikiran terbuka, bukan pikiran manusia yang dijajah!” jelas Dian.

“Lalu apa yang perlu dilakukan oleh pemerintah?” tanya Alisa.

“Pemerintah harus mengedukasi mereka. Penjual di situs online sama saja dengan penjual di ruko, tidak ada bedanya. Hanya saja, mereka yang berjualan di online lebih rensponsive terhadap perkembangan jaman. Iya, kita tahu pasti mereka yang berjualan di ruko merasa terancam oleh situs online yang membuat ruko mereka sepi. Tapi, tetap bertahan pada ruko bukan pilihan utama, meskipun tidak bisa dikatakan salah!”

“Aku mengerti apa maksudmu, Dian!” ujar Alisa.

Dian kembali menjelaskan, “Tidak mungkin seluruh negara Konoha belanja di ruko mereka, konsumen terlalu banyak dan sangat tidak efektif jika harus ke ruko mereka setiap hari. Belum lagi kita tahu bahwa negara Konoha wilayahnya luas sekali, bahkan lebih luas dari Indonesia. Mereka harus mulai sadar akan perkembangan jaman, belajar, dan belajar bersikap, bukan hanya menuntut sikap pemerintah.”

“Sekarang, apa yang perlu kita lakukan untuk negara sebelah itu?” tanya Alisa.

“Banyak masalah di negeri kita yang perlu diselesaika!” ujar Dian.

“Berarti?” tanya Alisa tidak mengerti.

“Ada masalah yang tangan kita sampai, ada pula masalah yang tangan kita tidak sampai padanya. Nah, maka kita harus bijak pula dalam bersikap. Jangan hanya karena merasa seiman dengan Palestina, kita ikut perang bersama mereka!” Dian semakin tidak jelas.

“Hah? Kenapa membawa-bawa Palestina segala?” tanya Alisa, dia tidak terima sebab Alisa adalah pendukung militan agar Palestina merdeka dan menghancurkan Israel. Dengan demikian, secara tidak langsung Alisa mendukung bumi untuk segera kiamat, sebab salah satu tanda-tanda kiamat adalah menangnya Palestina.

Tangerang Selatan, 10 Oktober 2023

0 Post a Comment

Posting Komentar