Jika jalan pikiran manusia bisa dipetakan, dan keinginan manusia
pun demikian, sepertinya mereka ingin duduk manis, usaha lancar, mati masuk
surga pula. Iya, itu adalah bayangan laki-laki paruh baya di sebuah ruka tua
yang beberapa hari lalu dipugar catnya. Dahulu, ruko-ruko itu menjadi serbuan
orang-orang dalam pemenuhan kebutuhan, mulai dari makanan sampai pakaian. Lelaki
paruh baya itu membayangkan masa-sama di mana orang-orang berlalu-lalang
menawar dagangannya. Sekarang, sepi, satu-dua orang melintas, tapi tidak mampir
apalagi menawar dagangannya. Lelaki paruh baya itu menjajakkan pakaian-pakaian
dari berbagai jenis.
“Ya Allah, apakah aku kurang berusaha? Rasa-rasanya tidak. Usahaku sudah
cukup, aku sudah bangun pagi dan berangkat membuka ruko ini, tapi kenapa
semakin sepi saja?” keluhnya pada sosok Tuhan yang dia percaya.
Lalu-lalang orang di depan rukonya tidak ada yang mampir. Kebanyakan
dari mereka yang melintas adalah orang tua pula, jarang sekali anak muda datang
ke lokasi ruka-ruko itu berjualan.
“Ini semua gara-gara Taktik Live!” gerutunya.
Sepertinya lelaki paruh baya itu tidak sendirian menunggu rukonya,
dia bersama sang istri.
“Pemerintah kurang bijak dalam menyikapi permasalahan ini,” ujar
sang istri yang datang sembari membawa secangkir kopi. “Pemerintah seharusnya
menutup live-live yang jualan itu, sangat tidak pro terhadap rakyat kecil!”
lanjutnya.
Lelaki paruh baya mengomentari, “Iya, pemerintah tidak pro pada
rakyat kecil. Pemerintah sudah dibuat
buta oleh pajak, dan pemerintah tidak memberi solusi pada rakyatnya!”
Mereka berdua saling mengadu gagasan, lebih tepatnya mengadu nasib
masing-masing. Kurang lebih nasib mereka sama, sama-sama merasa tidak mendapat
perhatian dari pemerintah.
“Berarti kita harus memaksa pemerintah untuk segera menunjukkan
sikap!” ujar sang istri.
“Nah, itu! Suara kita memang kecil, namun jika dikerahkan bersamaan
dan terkordinasi dengan baik akan meledak!” sahut lelaki paruh baya.
***
“Akhirnya tidak sia-sia kita bersuara!” ujar lelaki paruh baya.
Sebulan yang lalu mereka bersuara besar-besaran kepada pemerintah. Alhasil,
hari ini pemerintah telah menuutup Taktik Live. Sebenarnya, pemerintah menutup
Taktik Live bukan berdasarkan desakan dari rakyat, melainkan ada beberapa
alasan yang mereka pertimbangkan.
Lelaki paruh baya dan istrinya tersenyum puas, siap dengan rukonya
yang akan ramai kembali seperti masa-sama sebelum Taktik Live viral.
“Bismillah, semoga hari ini berkah!” ujar lelaki paruh baya.
“Amien!” sahut istrinya.
Mereka tersenyum untuk kesekian kalinya, sepertinya Tuhan
benar-benar memberikan kebahagian kepada diri mereka. Iya, menurut lelaki paruh
baya itu dan istrinya, yang menjadi penyebab utama sepinya ruko mereka adalah
Taktik Live. Maka, dengan ditutupnya Taktik Live oleh pemerintah akan menjadi
solusi agar ramai kembali.
Dua Minggu berlalu, tidak ada perubahan, rukon tetap sepi oleh
pembeli. Para penjual di sana mulai resah, mulailah mereka melakukan analasis
baru terhadap faktor yang mempengaruhi sepinya ruko. Pada akhirnya mereka
menemukan kesimpulan bahwa yang harus ditutup adalah semua situs jual beli
online.
“Iya, ruko-ruko kita mulai sepi ketika jual-beli online masuk
negara kita. Lihat saja negeri sebelah, Indonesia misalnya. Penjual offline di
negeri mereka tetap ramai karena jual-beli online tidak ada di sana. Tidakkah pemerintah
mengambil pelajaran dari negeri sebelah itu?” Lelaki paruh baya berapi-api.
“Pemerintah harus menutup semua situs online di negara kita, agar
negara kita tetap ramai seperti negara Indonesia, negeri sebelah!” sahut sang
istri.
“Setujuuu!” sahut penjaga ruko lain.
Mereka sepertinya akan melakukan aksi lagi, menuntut kepada
pemerintah untuk menutup situs jual beli online. Iya, itu semua mereka lakukan
untuk meramaikan kembali ruko-ruko mereka, mengembalikannya pada jaman keemasan.
Namun kali ini sepertinya pemerintah tidak menanggapi. Memang,
pemerintah serba salah juga dalam menyikapi hal ini. Pertama, pemerintah tentu
ingin ruko-ruko penjual itu tetap buka dan ramai. Untuk apa? untuk mendapatkan
pajak darinya. Kedua, pemerintah juga ingin situs jual beli online juga
berjalan. Untuk apa? Juga untuk mendapatkan pajak darinya. Dengan demikian,
maka pemerintah menginginkan keduanya berjalan agar mendapat pajak yang besar. Dengan
pajak yang besar, mereka akan mendapatkan gaji dan tunjangan yang besar pula,
bahkan lebih leluasa untuk mengorupsi pajak tersebut.
Ruko semakin sepi, dan penjual di sana mulai mengumandangkan
rencana selanjutnya.
Lelaki paruh baya berkata, “Bagaimana kalau kita mengusulkan kepada
pemerintah agar melarang internet masuk ke negeri kita?” Matanya menyelidik
bangga, idenya terlalu brilian.
“Itu ide yang jenius dan mesti diusulkan kepada pemerintah!” sahut
sang istri. Dia melanjutkan, “Jika pemerintah benar-benar pro pada rakyat,
seharusnya mereka mengabulkan apa-apa yang menjadi keinginan rakyatnya! Internet
telah menghancurkan perekonomian rakyat, memaksa rakyat untuk miskin!”
“Iya, kita harus mendemo pemerintah agar melarang internet masuk ke
negara kita! Itu adalah jalan paling utama agar ruko kita kembali ramai. Jika
tidak, maka pemerintah dan partainya yang sekarang menjabat tidak amanah, tidak
pro rakyat. Ke depan, kita tidak boleh memilih partai mereka!” Lelaki paruh
baya terbatuk-batuk sembari berteriak, hawa panas tidak mereka hiraukan,
keadaan hati mereka terlampau panas.
***
“Bagaimana pendapatmu mengenai film dokumenter tadi?” tanya Alisa,
mereka berdua baru saja menonton sebuah film dokumenter singkat.
“Pembodohan, ide yang diusung tidak masuk akal!” kata Dian
menjawab.
“Ha? Tidak masuk akal?” heran Alisa.
“Iya, sangat tidak masuk akal!” sahut Dian.
“Jelaskan!” Alisa mengangkat alisnya, bersiap mendengarkan
penjelasan Dian.
“Pandangan ingin membungkam internet dari negara mereka sangat
tidak masuk akal, dan akan menghancurkan ekonomi negara mereka lebih besar. Mereka
salah bersikap, seharusnya mereka menyikapi datangnya internet dengan gagasan
dan pikiran terbuka, bukan pikiran manusia yang dijajah!” jelas Dian.
“Lalu apa yang perlu dilakukan oleh pemerintah?” tanya Alisa.
“Pemerintah harus mengedukasi mereka. Penjual di situs online sama
saja dengan penjual di ruko, tidak ada bedanya. Hanya saja, mereka yang
berjualan di online lebih rensponsive terhadap perkembangan jaman. Iya, kita
tahu pasti mereka yang berjualan di ruko merasa terancam oleh situs online yang
membuat ruko mereka sepi. Tapi, tetap bertahan pada ruko bukan pilihan utama,
meskipun tidak bisa dikatakan salah!”
“Aku mengerti apa maksudmu, Dian!” ujar Alisa.
Dian kembali menjelaskan, “Tidak mungkin seluruh negara Konoha
belanja di ruko mereka, konsumen terlalu banyak dan sangat tidak efektif jika
harus ke ruko mereka setiap hari. Belum lagi kita tahu bahwa negara Konoha wilayahnya
luas sekali, bahkan lebih luas dari Indonesia. Mereka harus mulai sadar akan
perkembangan jaman, belajar, dan belajar bersikap, bukan hanya menuntut sikap
pemerintah.”
“Sekarang, apa yang perlu kita lakukan untuk negara sebelah itu?”
tanya Alisa.
“Banyak masalah di negeri kita yang perlu diselesaika!” ujar Dian.
“Berarti?” tanya Alisa tidak mengerti.
“Ada masalah yang tangan kita sampai, ada pula masalah yang tangan
kita tidak sampai padanya. Nah, maka kita harus bijak pula dalam bersikap. Jangan
hanya karena merasa seiman dengan Palestina, kita ikut perang bersama mereka!”
Dian semakin tidak jelas.
“Hah? Kenapa membawa-bawa Palestina segala?” tanya Alisa, dia tidak
terima sebab Alisa adalah pendukung militan agar Palestina merdeka dan
menghancurkan Israel. Dengan demikian, secara tidak langsung Alisa mendukung
bumi untuk segera kiamat, sebab salah satu tanda-tanda kiamat adalah menangnya
Palestina.
Tangerang Selatan, 10 Oktober 2023





0 Post a Comment
Posting Komentar