NB : Jika ada yang salah atau kurang tepat dalam tulisan ini, silakan memberikan kritik dan saya akan membenahi pemikiran saya. Imam Syaf’i, ada qaul qodim dan jadid. Sekelas Imam Syafi’i tidak segan untuk membenahi pendapat dan pandangannya, apalagi sekelas kita, seharusnya lebih mawas diri.
Sebenarnya keberlangsungan bangsa ini tanggungjawab siapa? Jika pertanyaan
demikian muncul, maka jawaban yang cukup relevan adalah ‘seluruh elemen
masyarakat’. Iya, itu adalah jawaban yang benar, dan sudah selayaknya demikian.
Bangsa ini adalah tanggungjawab bersama, bukan perseorangan. Maksudnya,
keberlangsungan dan segala elemennya, adalah tanggungjawab masing-masing
pribadi.
Jika memang keberlangsungan bangsa adalah tanggungjawab semua
elemen masyarakat, apakah semua harus terjun dalam pemerintahan? Bukan demikian
yang dimaksudkan, banyak peran yang bisa diambil dan dijalankan demi
keberlangsungan sebuah bangsa. Peran yang bisa diambil adalah berdasarkan
kapasitas diri masing-masing. Seorang petani, maka akan baik jika menjalankan
perannya sebagai petani, yang nantinya akan menjaga kestabilan sebuah bangsa. Demikian
selanjutnya, semua mengambil perannya masing-masing, dan termasuk di dalamnya
adalah mahasiswa.
Mahasiswa, jika dianggap penting, maka kehadirannya adalah karena
sesuatu yang bisa diharapkan. Mahasiswa adalah pemuda-pemuda yang tengah
menjalani masa pendidikan di kampus, dan akan menjadi generasi penerus dengan
segala bidangnya. Salah satu bidang yang mungkin akan diambil oleh para
mahasiswa (maksudnya melanjutkan) adalah bidang politik. Ini menarik sekali
untuk dibahas, sebab terkadang pandangan masyarakat ketika memandang mahasiswa
adalah para pemuda yang akrab dengan dunia politik, sering mendemo
keputusan-keputusan pemerintah yang kurang bijak, dan sejenisnya.
Semenjak masih di dalam kampus pun, mahasiswa sudah dilatih untuk
berdemokrasi yang benar. Maksudnya dilatih adalah, bahwa kampus menyediakan
sebuah kegiatan yang di dalamnya terdapat prinsip demokrasi. Organisasi-organiasi
kemahasiswaan juga demikian, di dalamnya banyak sekali kegiatan-kegiatan yang
melatih demokrasi. Apa yang dimaksud dengan demokrasi? Kita tidak akan
membahasnya di sini.
Sebuah rahasia umum, bahwa ketika pemilihan-pemilihan perangkat
organisasi di kampus, pastilah ada tindakan-tindakan yang mencederai demokrasi.
Lah, kok, bisa? Padahal mahasiswa adalah pemuda intelek yang sering mengkritisi
pemerintah mengenai demokrasi, ketika mendapatkan panggung pun juga akan
berbuat sama dengan pemerintah. Sudah hal
yang biasa pembagian-pembagian jabatan di kampus oleh mahasiswa, namun kita
tidak akan menemukan datanya, mereka terlalu rapi dalam bermain.
Saya menjadi teringat dengan kata-kata dalam buku Stephen Covey,
bahwa karakter adalah hasil dari pembiasaan-pembiasaan setiap hari. Maksudnya,
apa yang kita lakukan setiap hari, maka itulah yang akan menjadi karakter kita,
yakni apa-apa yang akan menjadi landasan berpikir dan berbuat. Kebiasaan-kebiasaan
selama di kampus inilah yang mungkin akan dibawa ketika para sarjana masuk ke
dalam pemerintahan. Jadi, wajar saja jika sekarang ini banyak yang tidak beres
dengan pemerintahan kita. Ada pembagian jabatan, pembuatan hukum yang sesuai
kepentingan pribadi/golongan, sampai pemotongan hukuman. Ini semua adalah
karakter yang dibawa sejak mereka menjadi mahasiswa, dan tidak dapat merubahnya
ketika mendapatkan amanat yang besar dalam pemerintahan nasional.
Semua itu berawal dari sisi manusia yang benaluri untuk
mempertahankan hidup. Mempertahankan hidup ini jelas sekali penting, dan jika
manusia tidak mempunyai naluri yang demikian, maka generasi manusia akan
musnah. Makan, minum, beranak, adalah praktis dari teori mempertahankan hidup. Selanjutnya,
mempertahankan hidup ini berkembang. Ada keinginan mempertahankan keluarga, dan
pada suatu tingkatan akan berpikir untuk mempertahankan organisasinya. Nah,
dari sini kita mulai paham bahwa langkah-langkah politik kotor adalah buah dari
naluri-naluri ini.
Bagi-bagi kekuasaan terhadap golongan yang sama, satu organisasi,
dan sejenisnya, adalah praktis yang sering dianggap benar berdasarkan sebuah
pembenaran. Pembenaran apa yang dimaksud? Mereka akan bersembunyi di balik
kata-kata ‘kemaslahatan’. Maksudnya bagaimana? Artinya mereka membagikan
jabatan tersebut dengan tujuan baik (menurut mereka), dan mengesampingkan
orang-orang lain yang pada dasarnya lebih berkompeten untuk mendapatkan jabatan
tersebut.
Menurut Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin, bahwa sebuah
penyakit kita hendak menumpasnya, maka harus benar-benar dari akar. Mengapa harus
demikian? Karena jika tidak langsung dari akarnya, maka akan mudah untuk tumbuh
kembali. Ketika benar-benar dari akarnya, maka tidak akan bisa untuk tumbuh
kembali. Nah, praktik pembagian jabatan tersebut adalah sebuah penyakit, atau
sebut saja nepotisme. Dari mana akar nepotisme? Iya, sudah disebutkan di depan,
yaitu keinginan untuk mempertahankan hidup. Berarti apakah manusia harus tidak
mempertahankan hidup? Bukan demikian.
Mempertahankan hidup adalah kewajiban, bahkan kebutuhan. Tapi,
selanjutnya hal ini membias pada banyak keinginan, salah satunya adalah
organisasi kampus. Jika kita runut lagi pada masalah ini, yang menjadi akarnya
adalah gengsi. Iya, gengsi antar organisasi, yang selanjutnya rasa gengsi
tersebut akan melahirkan keserakahan. Jika kita lihat, apakah badan-badan
mahasiswa di kampus ada uangnya? Mungkin ada, tapi itu tidak besar. Akses ke
pemerintahan? Ini sangat mungkin, dan akan membesarkan nama mereka beserta
koleganya. Maka, untuk tujuan yang demikian mereka harus meneruskan jabatan
dengan orang-orang yang sedarah. Terjadilah pembagian jabatan, dan sekali lagi
perlu ditekankan bahwa ini adalah masalah.
UKM-UKM kampus saya rasa juga demikian, meskipun tidak seluruhnya. Saya
tidak menyalahkan sistem musyawarah yang memutuskan seorang pemimpin adalah
hasil musyawarah beberapa orang saja. Tapi, saya kira ini kurang efektif. Dengan
metode pengambilan keputusan (pemimpin) yang demikian, apakah mahasiswa bisa
belajar demokrasi? Tidak, malahan secara tidak langsung kita mengenalkan dan
mempraktikkan nepotisme. Memang, mereka yang bermusyawarah mempertimbangkan
beberapa hal, namun secara tidak langsung hal tersebut juga menandakan
kedaksiapan mereka menghadapi perdebatan yang terjadi dalam pemilihan. Seharusnya,
debat calon pemimpin adalah momen yang sangat menentukan untuk menunjukkan
gagasan masing-masing, biar audiens yang menentukan.
Sekilas, musyawarah terdengar sangat bijak, bahkan agama pun
mengajarkan demikian. Namun saya rasa keadaan-keadaan seperti ini bukan waktu
yang tepat untuk musyawarah beberapa orang saja. Memang, pada masa awal Islam
ini menjadi sebuah hal yang menarik melalui pengangkatan Abu Bakar sebagai
khalifah pertama. Para sahabat pada waktu itu sepakat bahwa yang menggantikan
Nabi sebagai pemimpin adalah Abu Bakar, sebab Nabi pada masa-masa sebelumnya
sudah memberikan indikasi-indikasi yang mengarahkan demikian. Namun apakah
metode yang demikian bisa bertahan lama? Tidak! Pada kenyataannya pada masa
khalifah Utsman sudah menimbulkan konflik pemilihan pemimpin.
Sebagai sebuah sikap intelektulistis, sudah seharusnya hal-hal
tersebut di atas dapat dihindarkan. Keberlangsungan organisasi itu penting,
tapi jangan sampai mencederai nilai-nilai dasar yang sudah dirumuskan dalam
demokrasi. Apa saja nilai-nilai dasar demokrasi? Kebebasaan berpendapat,
kebebasan berpartisipasi, kebebasaan berkelompok, menghormati kelompok lain,
kesetaraan, kerja sama, persaingan, dan kepercayaan. Persaingan, iya, mungkin pembahasan kita
kali ini masuk dalam konsep persaingan. Dalam demokrasi siapa saja (dengan
syarat) boleh bersaing dalam rangka menjadi pemimpin. Ini seharusnya yang harus
diperhatikan oleh organisasi-organisasi kampus dalam rangka mencetak intelek
dan politikus berakhlak.
Namun budaya telah mengakar, dan itu sulit untuk dibenahi. Tapi,
keyakinan adalah kunci, dan keinginan tentunya yang tidak boleh hilang. Keinginan
adalah power yang akan membuat semunya tidak berat, dan mungkin. Kita harus
membiasakan diri dalam persaingan yang sehat. Bagaimana persaingan yang sehat? Adalah
persaingan yang tidak ada orang dalam, dalam artian memang benar-benar adu
gagasan, visi-misi, dalam penentuan menjadi pemimpin ataupun menduduki sebuah
jabatan. Yakinlah, dengan pendidikan dan sistem yang baik, akan melahirkan
pemimpin yang baik pula.
Tangerang Selatan, 01 Desember 2023





0 Post a Comment
Posting Komentar