Webinar Kepenulisan "Mengasah Kemampuan, Mempertajam Pengetahuan untuk Menjadi Penulis yang Handal" Bersama Komunitas Grafosafir

 


Tanggal 10 Februari 2024, hari Sabtu, ada sebuah acara semacam seminar yang sangat menarik sekali tentang kepenulisan. Acara tersebut diadakan oleh komunitas Grafosafir, sebuah komunitas yang fokus pada bidang kepenulisan sastra. Malam itu yang menjadi pemateri adalah Kak Firda Windi. Menarik sekali pembahasannya, dan akan saya ulas lagi sedikit di paragraf berikut.

Dengan tema “Mengangkat Kemampuan, Mempertajam Pengetahuan untuk Menjadi Penulis yang Handal”, saya sangat antusias untuk mengikutinya, sebab saya juga termasuk orang yang sangat  suka menulis, apalagi jenis tulisan fiksi. Di seminar tersebut membahas tentang kiat-kiat menulis dari awal sampai akhir, dalam artian terwujudnya tulisan tersebut, bukan pada tahap diterbitkan.

Siapa itu penulis?

Pertama mendengar kata penulis, maka yang muncul di otak saya adalah orang-orang seperti Tere Liye, Andrea Hirata, yang karya-karyanya sudah melalang buana ke penjuru dunia. Namun benarkah bayangan tersebut sebagai jawaban pertanyaan siapakah penulis itu? Tidak salah, namun masih kurang lengkap. Penulis, setelah mengkikuti seminar semalam, menurut saya adalah orang yang ingin menyampaikan kebaikan dengan sebuah tulisan. Jadi, seorang penulis harus mempunyai nilai-nilai dakwah dalam tulisannya, tidak hanya tentang kepopuleran tulisan. Pemateri juga mengatakan bahwa sebuah tulisan yang sedikit, tapi mengandung isi/hikmah/dahwah di dalamnya, akan lebih baik daripada tulisan yang lebih berkonsentrasi pada jumlah kata belaka. Saya sangat setuju dengan pendapat ini.

Seorang penulis tentu harus banyak-banyak membaca, karena penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Kenapa harus banyak membaca? Ini penting sekali, karena dengan membaca tentu kita akan mendapatkan banyak kosa kata baru yang masuk dalam ruang bawah sadar kita, yang kapan-kapan kita membutuhkannya, maka kita akan secara spontan menggunakannya sesuai dengan kebutuhan. Dengan tidak banyak membaca, maka seorang penulis rasa-rasanya tidak akan banyak menulis juga, sebab dua hal ini adalah saling berkaitan.

Membaca, adalah sebuah kegiatan riset juga, maksudnya dengan membaca, maka kita akan menemukan pola-pola tulisan, ataupun data yang lain. Sebenarnya saya  juga masih agak bingung untuk menuliskan kembali hal ini, tapi sebagai pandangan, mungkin seperti yang saya sebutkan di awal, bahwa membaca adalah kegiatan memasukkan data-data pada alam pikiran kita.

Menulis, seperti yang sudah kita ketahui bersama, adalah sebuah kegiatan menuangkan pikiran dengan rangkaian kata-kata. Maka, agar kita bisa menuangkan pikiran, tentu harus ada ide terlebih dahulu di dalam kepala kita. Nah, cara pertama untuk memulai menulis yaitu dengan menemukan dan menentukan ide cerita yang akan kita tulis terlebih dahulu. Pelajaran ini sebenarnya sejak SD sudah kita dapatkan, tapi entah mengapa kita tidak paham-paham juga sampai dewasa ini, bahkan sangat sulit lagi adalah menerapkannya.

Pertama, untuk menemukan dan menentukan ide, tentu perlu sebuah riset dan observasi. Maksudnya, misal kita ingin menulis tentang agama Islam, maka sudah sewajarnya kita melakukan riset tentang agama Islam. Demikian pula halnya jika kita ingin menulis tentang pentol, maka kita harus melakukan observasi terlebih dahulu tentang pentol. Sesuatu yang kita tidak mengetahuinya, kita akan kesulitan atau bahkan tidak bisa menuliskannya. Oke, kurang lebih seperti itu, dan saya akan menuju pembahasan berikutnya, soalnya yang bagian ini saya agak lupa. Wkwk.

Oh, atau mungkin saya  akan melanjutkan pembahasan ini di lain waktu saja, karena juga saya ada tugas lain selain menulis ini. Wkwk.

Di sesi tanya jawab, saya bertanya tentang bagaimana cara agar kita yang sudah terbiasa menulis ilmiah menjadi terbiasa juga untuk menulis fiksi? Ini adalah kebingungan saya sejak lama, bahkan saya juga pernah mendengar kisah dosen saya yang demikia. Dia, dosen saya, adalah seorang penulis handal buku-buku pelajaran, tentang Timur Tengah, Sastra Arab, dan sejenisnya, sudah puluhan jumlahnya. Namun, dia berkata bahwa dia tidak bisa menulis novel sama sekali, maksudnya novelnya tidak pernah jadi, berantakan. Nah, ini menurut saya sangat penting sekali untuk dibahas, mengingat sekelas dosen sekalipun masih kesulitan untuk melakukan sebuah transisi dan ilmiah ke fiksi.

Jadi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menyelesaikan permasalahan di atas. Pertama, tentu penting sekali kita mengerti latar belakang atau karakteristik dua jenis tulisan di atas. Satu, adalah tulisan dengan jenis ilmiah, sedang yang kedua adalah tulisan dengan jenis fiksi. Keduanya mempunyai karakteristik masing-masing. Tulisan ilmiah, cenderung lugas dan langsung ke poin-poin pentingnya, sedang fiksi terkadang masih ngalor ngidul tidak karuan untuk memperindah bahasa. Ini bisa kita temui pada novel-novel karangan penulis terdahulu, seperti yang satu halaman hanya menggambarkan gambaran tentang batu di tepian sungai. Wkwk. Pada tulisan ilmiah, tulisan yang terlalu bertele-tele seperti itu dianggap menghabiskan halaman, dan menghilangkan substansi pembahasan. Jadi, langkah pertama adalah memahami karakteristik masing-masing tulisan.

Kedua, tentu yang sangat penting adalah pembiasaan. Pembiasaan ini sulit, tidak semua orang bisa melakukannya. Orang yang sudah terbiasa menulis ilmiah, jika tidak membiasakan diri dalam waktu yang lama dalam menulis fiksi, maka akan mengalami kesulitan. Pun sebaliknya. Jadi, langkah kedua adalah melakukan pembiasaan.

Oke, saya kira sampai di sini ulasan singkat saya mengenai seminar kepenulisan tadi malam. Sebenarnya  sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, namun lagi-lagi kemampuan menulis saya masih sangat kurang sehingga tidak bisa menuangkan semua apa yang saya dapatkan dalam bentuk tulisan di sini.

Terima kasih saya ucapkan sebesar-besarnya kepada pemateri, yakni Kak Firda Windi, yang telah membagikan kiat-kiat menulis fiksi sehingga semangat kembali membuncah dalam diri ini. Selanjutnya terima kasih juga kepada Grafosafir yang telah menyediakan wadah yang sangat relevan sekali dengan jaman modern dan digital.

Tangerang Selatan, 11 Februari 2024

0 Post a Comment

Posting Komentar