![]() |
| PBAK MABA 2022 FAH UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA |
Hidup harus
mengarah pada kebaikan dan dari hari ke hari, seharusnya semakin berkembang. Setidaknya
kalimat itulah yang harus kita jadikan sebagai pedoman untuk menentukan arah
hidup, tentangn apa yang kita lakukan. Jadi, semua tindakan yang kita lakukan
harus mengarah kepadanya, yakni kebaikan. Lantas apa sejatinya kebaikan itu dan
berkembang dari hari ke hari?
Kebaikan adalah
sesuatu yang mengandung makna positif, yang berarti tidak merugikan diri
sendiri ataupun orang lain. Dalam surat Al-Baqarah ayat 177, Allah secara gamblang
menjelaskan apa kebaikan dalam Islam itu.
“Kebajikan itu
bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu
ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang
dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang
dalam perjalanan, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang
melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji
apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada
masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah
orang-orang yang bertaqwa.”
Dari ayat di atas,
dapat diambil kesimpulan bahwa kebaikan mencakup segala aspek kehidupan, mulai
dari hubungan manusia dengan Tuhan, sampai dengan hubungan manusia antar
manusia. Dari ayat di atas juga dapat disusun beberapa poin penting tentang
devinisi kebaikan, sebagai berikut :
1. Beriman. Beriman kepada Allah, hari
kemudian, malaikat-malaikat dan para nabi.
2. Suka infaq atau dermawan. Memberikan
harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
musafir yang tengah membutuhkan pertolongan, orang yang meminta-minta serta
memerdekakan hamba sahaya.
3. Taat ibadah, mendirikan sholat dan
berzakat.
4. Menepati janji yang telah dibuatnya.
5. Sabar dalam segala urusan dan segala
keadaan.
Nah, Islam
sangat lebar sekali dalam mengartikan kebaikan, dan kita sebagai umat Muslim,
berarti harus mengarahkan seluruh hidup kita kepada hal-hal di atas, atau
mudahnya berjalan menuju kebaikan yang devinisinya telah dijelaskan di atas.
Saya yakin
pasti semua agama dan keyakinan itu mengajarkan kebaikan, tidak ada agama yang
mengajarkan keburukan. Kebaikan sama halnya dengan prinsip. Prinsip yaitu
segala sesuatu yang kebenarannya abadi tanpa pengakuan dari siapa pun,
contohnya adalah jujur. Semua orang percaya bahwa jujur adalah kebaikan, dan
tidak ada yang mengatakan bahwa jujur adalah buruk. Nah, dengan demikian, maka
jujur termasuk ke dalam prinsip, yang berarti kebaikan.
Sebenarnya untuk
mengenali kebaikan itu sangat mudah, tidak ada sulitnya sama sekali. Kita mempunyai
dua alat yang sangat canggih pemberian Tuhan, yaitu akal dan hati. Dengan keduanya
kita sangat mudah untuk mengenali sesuatu yang baik dan buruk. Atau, cukup
dengan hati saja kita bisa mengenalinya. Sebenarnya ketika melakukan sebuah
keburukan, hati kita merasa tidak nyaman, ada saja rasa bersalah entah itu disadari
atau tidak kita sadari. Sedang, ketika kita melakukan sebuah kebaikan, maka
hati kita merasa damai, merasa ada sebuah kebahagiaan tersendiri. Jadi,
sebenarnya hati tidak pernah berbohong kepada kita.
Namun dalam
perjalanan hidup yang panjang ini, Tuhan membuat sesuatu yang bernama nafsu,
Tuhan menciptakan Iblis yang ditugaskan untuk menggoda manusia agar melakukan
keburukan. Nafsu kebanyakan selalu mengajak pada keburukan, dan Iblis mendukung
di belakangnya. Begitulah, tapi hati akan tetap jujur kepada kita bahwa
keburukan dan kebaikan itu menimbulkan rasa yang berbeda.
Selanjutnya hidup
jika sudah baik, maka harus berkembang. Dalam konsep Islam, berkembang itu sama
halnya dengan barokah. Barokah adalah bertambah dalam kebaikan, atau bertambah
baik. Perkembangan harus mengarah pada suatu hal yang lebih baik. Jika mengarah
pada sebaliknya, yakni keburukan, maka bukan dinamakan dengan berkembang, tapi
malah mengalami kemunduran. Sekali lagi, hidup kita harus berkembang dan
menjadi lebih baik dari hari ke hari. Jangan menjadi manusia yang monoton,
dalam artian tidak bisa berkembang.
Kita harus bisa
menjadi manusia yang berkembang dalam segala hal. Jika hari ini hapal empat
ayat, maka setidaknya besok bisa hapal lima ayat dengan lancar. Jika hari ini
kita masih berbohong beberapa kali, maka esok hari kita harus menjadi pribadi
yang lebih baik dengan cara menjadi manusia yang jujur. Jika hari ini belum
bisa mengatur waktu, maka sudah seharusnya besok bisa mengatur waktu. Jika hari
ini terlambat kuliah, maka besok bangun dan datang lebih awal, agar menjadi
pribadi yang berkembang dan menjadi lebih baik. Jika hari ini belum membaca
buku, maka besok kita usahakan untuk membaca buku walaupun beberapa kalimat
saja.
Kritik dan
saran selalu saya nantikan.
Tangerang, 03 Oktober 2022





0 Post a Comment
Posting Komentar