“Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian bapakmu”
Iya, aku tahu ibu adalah wanita yang telah melahirkanku. Aku juga
tahu, dia pula yang memberikan asinya untukku sehingga pada hari ini Tuhan
berkenan memberiku kehidupan. Tapi yang membuatku tidak terima dengan
kehidupanku yang terlahir dari seorang ibu, adalah untuk apa dia melahirkanku?
Ah, kalian tidak akan paham dengan ceritaku, ini rumit sekali.
Lihatlah, Kawan! Rumah ini sepi sekali, bukan? Jendela tertutup
rapat, lampu yang sengaja di buat temaram, poto-poto berjejer di tembok yang
bertahun-tahun dihinggapi debu, dan aku yang duduk termenung sendirian di ruang
tengah! Tengah malam nanti, makhluk yang membawa surgaku di bawah telapak
kakinya akan pulang. Aku hapal betul apa yang dia lakukan selepas membuka
pintu. Dia menyapaku sejenak, berjalan ke dalam kamarnya, dan setelah itu aku
tidak mendengar suara apapun selain deru kipas angin di meja.
Satu pertanyaan yang mungkin tidak akan menemukan jawaban, bahkan
sampai aku matipun, untuk apa dia melahirkanku? Iya, aku tahu surgaku di bawah
telapak kakinya, tapi mengapa dia begitu liar hanya demi menjaga surga itu
tetap bersih?
“Kamu belum tidur?” Itu suara ibuku yang baru saja membuka dan
menutup pintu.
Aku tidak menjawab, seharusnya dia bisa menyimpulkan jawabannya
sendiri, pertanyaan tidak bermanfaat.
Seperti yang telah aku katakan tadi, aku hapal benar dengan
gerak-geriknya selepas kembali entah dari mana. Dia masuk kamar, dan setelah
itu tidak ada suara terdengar. Inilah yang membuatku tidak percaya dengan
kisah-kisah novel yang aku baca, film-film yang menceritakan tentang ibu. Aku
bosan dan aku muak dengan semua itu, omong-kosong.
Suatu saat aku bertanya pada ibuku, tentang pekerjaannya. “Kerja
apa, Ibu?”
Dia tidak menjawab, dan itu menurutku adalah pertanda bahwa dia
tidak sayang padaku. “Kamu tidak perlu tahu apa kerja ibu, yang penting semua
kebutuhanmu tercukupi!” Satu-satunya jawaban yang dia berikan.
***
Siang hari, aku pulang sekolah. Ah, tidak akan ada yang menyambut
kedatanganku, ibuku pasti entah ke mana, dia sibuk dengan pekerjaannya. Tapi
siang itu berbeda, ibuku menyambut dengan sambutan yang tidak terduga.
“Ah...”
Terdengar suara desahan dari dalam kamar, itu adalah sambutan yang
aku maksud. Bangsat! Siapa dia? Belum cukupkah kepergian bapak sebagai
pelajaran untuk ibu? Bapak pergi beberapa tahun yang lalu, dan kemungkinan
sebab terbesar adalah ibuku selingkuh.
Diam-diam aku mendekati pintu rumah, suara desahan semakin jelas. Ah,
entahlah, aku harus pergi ke mana setelah ini! Apakah aku masih bisa bertahan
serumah dengan manusia bejat seperti ibu! Ah, bangsat!
“Sudah puas, Om?”
Jelas sekali itu adalah suara ibuku dari dalam kamar.
“Puas sekali! Ini adalah pelayanan terbaik selama hidupku!” balas
suara seorang lelaki.
“Terima kasih, Om!” sahut ibuku lagi.
“Ini, uang untuk biaya hidupmu dan anakmu!” ujarnya lagi.
Apa? Untuk biaya hidupku? Apakah selama ini aku hidup dari uang
haram seperti itu?
Tangerang Selatan, 31 Mei 2023





0 Post a Comment
Posting Komentar