Sinergitas Orang Tua dan Anak Dalam Membangun Peradaban - Artikel By Jasmiko | Sastra Putar Balik

 



Memang, sering kita sebagai anak tidak sependapat dengan orang tua, dan itu wajar. Tapi ada sebuah perselisihan yang berjalan tidak normal, antara anak dan bapak, yang berjalan tidak normal. Mengapa dikatakan tidak normal?

Orang tua, terkadang menginginkan anaknya menjadi seperti mereka. Mengapa? Sebab orang tua berpikiran bahwa merekalah bentuk terbaik, karakter terbaik, dan mereka ingin keturunan mereka menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Ini tidak salah, namun kurang tepat.

Antara orang tua dan anak-anak terdapat perbedaan jaman yang jauh, mereka tidak hidup dalam jaman dan keadaan yang sama. Orang tua, hidup pada masa yang lebih dahulu, sedang anak-anak hidup pada masa sekarang yang jauh berbeda. Jadi, tidak bisa disamakan antara sesuatu yang cocok pada masa itu, dengan sesuatu yang bagus pada masa sekarang.

Kita bisa membayangkan, orang tua kita hidup di jaman yang teknologi belum berkembang pesat seperti sekarang, dan di jaman mereka belum ada sosial media. Nah, jaman kita, teknologi berkembang begitu pesat, media sosial menjadi kebutuhan sehari-hari. Nah, tentu dari sisi teknologi saja, tidak bisa disamakan antara jaman mereka dan jaman kita. Sehingga dengan perbedaan ini, akan mewajibkan tindakan yang berbeda pula.

Kedua belah pihak, yakni orang tua dan anak, harusnya melakukan sebuah tindakan obyektif untuk menyikapi hal ini. Tentu keduanya mempunyai sisi baik masing-masing yang bisa disaling sinergikan, untuk melangkah menjadi lebih baik secara bersama-sama tanpa mengesampingkan salah satunya. Nah, dengan adanya kerja sama antara keduanya, maka orang tua dan anak tidak ada yang merasa dirugikan.

Orang tua harus berpikir bahwa jaman mereka jauh berbeda dengan jaman anak mereka saat ini. Nah, dengan perbedaaan itu orang tua harus sadar bahwa mereka tidak bisa memperlakukan anak-anak seperti mereka berlaku jaman dahulu. Konsepnya tidak akan pernah pas jika dipaksakan. Jika orang tua menginginkan anaknya menjadi persis seperti mereka, saya rasa itu kurang tepat, bahkan bisa dikatakan tidak tepat. Seharusnya para orang tua bersikap sportif terhadap anaknya, tidak memaksakan kehendak. Bukankah anak memiliki hak untuk bebas memilih? Bukankah anak mempunyai hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri?

Bukan hanya orang tua yang perlu berbenah. Seperti yang telah dikemukakan di depan, para anak juga wajib membenahi pola pikirnya. Kita yang hidup di jaman teknologi berkembang pesat, jangan sampai mengesampingkan nasihat-nasihat yang diberikan oleh orang tua. Kita tidak bisa menolak mentah-mentah nasihat mereka, dalam artian keinginan dari orang tua untuk menjadikan anaknya lebih baik dari mereka. Ini yang perlu kita perhatikan, bahwa orang tua pasti ingin anaknya lebih baik dari mereka. Termasuk cara mereka menginginkan anak-anak mereka menjadi seperti mereka, itu adalah cara agar anak-anak berkembang lebih baik dari orang tua.

Nah, keduanya mempunyai peran masing-masing dalam perkembangan diri. Orang tua dan anak harus saling mengerti perbedaan di antara mereka. Orang tua harus paham dengan perbedaan jaman di masa keduanya, dengan begitu orang tua tidak bisa dan tidak boleh memaksa anaknya untuk menjadi seperti mereka. Sebaliknya, anak tidak bisa semena-mena dengan orang tua, sebab berbakti kepada orang tua adalah sebagian bukti bahwa anak berbakti kepada Tuhan. Nah, bagaimana yang tepat? Jelas, orang tua lebih banyak pengalamannya dari pada anak, maka anak bisa mengambil pelajaran dari orang tuanya, dalam artian mendengarkan nasihat-nasihat orang tua. Sebab bagaimanapun keadaan kita, jelas orang tua lebih banyak pengalamannya dari pada kita, dan itu wajib kita jadikan sebagai pelajaran.

Saling memahami itu sangat penting dalam perkembangan. Jika orang tua paham akan anaknya, sang anak pun akan bebas berkembang sesuai dengan fitrah yang telah diberikan Tuhan padanya, dan orang tua tidak akan memberatkan anak. Kita sama-sama tahu bahwa tujuan orang tua memaksa anak adalah demi kebaikan sang anak. Namun dalam praktiknya ini tidak mudah, terkadang orang tua membuat anaknya tertekan, dan akhirnya tidak bisa berkembang sesuai dengan jaman dan fitrah yang diberikan Tuhan. Demikian, orang tua dan anak mempunyai peran masing-masing dalam urusan perkembangan diri, dan sama-sama pentingnya.

Akhirnya dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa anak dan orang tua harus saling mengerti perbedaan jaman di antara keduanya. Orang tua tidak bisa memaksa anaknya agar menjadi seperti mereka, dan anak tidak bisa semena-mena terhadap orang tua. Iya, anak sekarang tumbuh dalam dunia teknologi yang berkembang sangat pesat, tapi orang tua jelas lebih banyak pengalamannya dari mereka.

Tangerang Selatan, 23 Mei 2023

0 Post a Comment

Posting Komentar