Gebrakan
yang benar-benar tidak terduga. Begini, tahun ini masa jabatan kepala desa akan
habis. Dengan demikian, maka selanjutnya adalah pemilihan kepala desa baru.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, lihat saja pemilihan kepala desa tahun
kemarin hanya ada tiga calon dengan visi-misi yang hampir sama. Tapi sekarang?
Lihatlah, ada delapan nomor yang mencalonkan diri sebagai kepala desa beserta
dengan wakilnya. Visi dan misi delapan calon kepala desa itu berbeda-beda, dan
itu yang membuat sebagian besar warga butuh waktu untuk menentukan siapa yang
akan dipilihnya untuk memimpin desa lima tahun ke depan.
“Milih
siapa kira-kira, Kang?” tanya Hamdan, lelaki dengan rambut sedikit beruban, tubuhnya
tinggi kekar.
“Entahlah,
Kang! Tahun ini banyak sekali calon kepala desanya, visi dan misinya juga
membingungkan!” jawab Soib.
“Membingungkan
gimana, Kang?” sahut Hamdan dengan pertanyaan.
Soib
diam sejenak, menghisab rokoknya, menghempaskan kepulan asap putih di udara.
Tidak lama kemudian kepulan asap itu tersapu angin, memudar, kemudian hilang
entah ke mana. Mereka berdua duduk di bawah pohon mangga rindang, yang belum
berbuah. Semilir angin menggerak-gerakkan pucuk ilalang, melambai kepada
matahari di atas sana bahwa sinarnya tidak terlalu menyakitkan.
“Lihat
saja visi-misi mereka, banyak yang tidak masuk akal. Mana ada kepala desa yang
bisa mengentaskan kemiskinan? Mana ada kepala desa yang bisa memberantas
korupsi?” ujar Soib menggebu-gebu.
“Lah,
itu, kan, berarti visi-misi yang bagus, Kang?” Hamdan heran dengan pemikiran
Soib.
“Itu
tidak akan mungkin bisa mereka kerjakan. Seharusnya mereka membuat visi-misi
yang realistis saja, misal membuat masyarakat antar RT saling rukun, damai,
kerja sama. Nah, itu mungkin akan mendapat sambutan yang lebih meriah dari masyarakat,
dan dia akan jadi kepala desa!” Mata Soib memandang jauh ke depan, memandang
ayam-ayam yang berebutan mangsa, mengejar capung-capung pada ketinggian. Aneh,
apakah ayam-ayam itu mengira bahwa mendapatkan capung pada ketinggian adalah
hal yang gampang? Tidak semudah itu, Ayam!
Kedua
diam lama, memandang awan-awan yang berjalan pelan di atas sana.
“Sebenarnya
perbincangan kita ini tidak terlalu berarati untuk perkembangan desa!” ujar
Soib.
“Kenapa,
Kang?” tanya Hamdan.
“Iya,
percuma. Tidak ada yang mendengar kita berbicara, kita hanya memendam perkataan
ini sekadar untuk kita berdua!” Soib menjelaskan.
“Tapi,”
sanggah Hamdan, “Kita adalah bagian dari masyarakat yang besar ini. Dengan kita
membicarakan hal-hal penting, walaupun hanya berdua, itu tetap akan mengubah
keadaan desa kita. Sebab, kata orang-orang di tv, perubahan besar berasal dari
perubahan-perubahan kecil!” Hamdan berusaha meyakinkan Soib dengan persuasinya.
“Intinya
siapapun kepala desa yang memimpin desa ini, keadaan desa kita tidak akan
mengalami perkembangan, selama kepala desa itu belum amanah!” Saib menegaskan
pendapatnya.
“Aku
rasa tidak, Kang!” Hamdan menyanggah lagi. “Masyarakat harus memutuskan
ketergantugan dengan pemimpin. Kita harus mengubah pola pikir yang seperti itu,
bahwa semuanya tergantung pada pemimpinnya.”
Diam,
beberapa saat.
“Kita
bisa merubah desa tanpa harus memikirkan siapa kepala desanya!” ujar Hamdan.
“Nah, itu lebih efektif dan lebih masuk akal untuk merubah desa! Rasa-rasanya
sulit sekali merubah desa jika masyarakat desa tidak mempunyai pemikiran yang
berkembang. Nah, siapapun pemimpinnya, masyarakat tetap harus berpikir kritis
dan kreatif,” lanjutnya.
“Nah,
bagaimana hendak berpikir kreatif jika pemimpinnya saja tidak kreatif?” Soib
menegaskan pendapatnya lagi, pendapat lanjutan.
“Iya,
Kang Soib, aku tahu bahwa pemimpin harus mempunyai sifat kritis dan kreatif.
Namun,” ujar Hamdan, “cara berpikir seperti itu yang harus kita rubah. Jangan
sampai masyarakat kita hanya bisa menyalahkan namun tidak bisa memberikan
teladan. Pemimpin juga rakyat, jika sewaktu-waktu kita menjadi pemimpin, maka
kita sudah siap secara lahir batin sebab sudah mempersiapkan matang-matang!”
“Tidak
bisa, pemimpin harus,”
Hamdan
memutus sahutan Soib, “Jika pola pikir yang mengatakan bahwa pemimpin harus
baik baru rakyat bisa baik masih kita pertahankan, maka rasa-rasanya kita sulit
untuk menjadi negara dan bangsa yang maju!”
“Kenapa
bisa demikian?” Soib belum mengerti.
“Sebab
pemimpin tidak akan mengubah keadaan masyarakat secara keseluruhan. Pemimpin
itu ibarat guru yang memberikan materi kepada muridnya. Percuma guru memberikan
materi yang banyak dan berbobot kepada murid jika muridnya tidak mendengarkan,
bahkan tidak memedulikan materi yang guru berikan! Jadi, kita harus menjadi
masyarakat yang dewasa, tidak usah begitu tergantung dengan pemimpin!” Hamdan
menjelaskan panjang lebar.
Hamdan
melanjutkan kalimatnya kembali, “Jika masyarakat berpikiran maju, kritis, dan
kreatif, maka siapapun pemimpinnya tidak akan menjadi masalah. Sebenarnya tidak
akan ada yang bisa menghambat perjuangan kita, Kang, selagi kita ingin dan mau
berjuang untuk bangsa!”
Soib
terdiam, menyusun kata-kata dalam benaknya. Secara garis besar, Soib belum
sepenuhnya terima dengan pendapat Hamdan. Menurutnya, pendapatnya-lah yang
lebih bagus, bahwa pemimpin harus baik terlebih dahulu, barulah masyarakat dan
rakkat mengikuti kebaikannya.
“Lalu
bagaimana dengan kemiskinan, apakah bisa kepala desa mengentaskannya?” tanya
Soib.
“Bisa,”
ujar Hamdan, “tapi tidak sepenuhnya bisa. Banyak faktor pendukung dalam
mengentaskan kemiskinan, itu bukan hanya tugas kepala desa selaku pemimpin!”
lanjutnya.
“Itu
seharusnya menjadi tugas kepala desa secara keseluruhan. Kepala desa, kan,
pemimpin, seharusnya bisa menyelesaikan semua masalah yang ada dalam desa!”
ujar Soib. Beberapa saat kemudian dia melanjutkan, “Jadi, jika kepala desa
tidak bisa mengentaskan kemiskinan, maka dia bisa dianggap sebagai kepala desa
yang gagal dalam memimpin desanya!”
Hamdan
diam, tidak menanggapi untuk beberapa saat, dia memikirkan kata-kata terbaik
yang bisa dicerna oleh Soib dengan mudah. Setelah diam satu menit, Hamdan
berbicara, menjawab dan berusaha merubah paradigma Soib, “Iya, memang pemimpin
bertanggung jawab secara keseluruhan atas wilayah dan masyarakat yang
dipimpinnya, tapi kita sebagai rakyat yang bijak tidak bisa menggunakan sudut
pandang yang demikian. Kita sebagai masyarakat harus membantu pemimpin yang
belum amanah menjadi amanah, pemimpin yang belum bijak menjadi bijak, dengan
sebisa dan sesuai dengan kemampuan kita!”
Hamdan
diam sejenak, Soib semakin tidak sabar mendengar pendapat Hamdan selanjutnya.
Angin
bertiup lebih kencang ketika Hamdan hendak melanjutkan kata-katanya, dedaunan
berguguran, berterbangan sepert capung-capung dengan ukuran yang lebih besar.
“Iya,
begitulah, Kang!” Hamdan melanjutkan kata-katanya yang sempat berhenti beberapa
saat lalu. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan seorang pemimpin, diri kita harus
menjadi pemimpin, minimal untuk diri kita sendiri, keluarga, dan lingkungan
sekitar. Dengan demikian, maka bangsa kita akan mempunyai sumber daya manusia
yang kritis, dan siap dengan kemajuan dunia yang semakin pesat.
“Meskipun
kita hanya orang desa, yang hidup sehari-hari dari sawah ke sawah, bukan
berarti kita tidak bisa mandiri, Kang. Kesempatan itu sangat besar dan terbuka
untuk semua manusia, tidak ada yang
tidak mungkin. Dari sawah kita bisa membangun negeri, dari ladang kita bisa
membangun negeri. Membangun negeri bukan hanya bisa dilakukan dari gedung DPR
dan MPR, tapi dari sawah juga termasuk yang demikian. Kita bisa membangun
negeri dengan diri kita sendiri, tidak hanya mengandalkan pemimpin yang
berkuasa.
“Bagaimana
nanti jika pemimpin kita tidak amanah? Apakah kita akan menunda menjadi bangsa
yang luar biasa? Tidak, kita harus menjadi luar biasa dari diri masing-masing.
Kita bukan budak yang hanya menunggu perintah atasan.”
Soib
bertanya lagi, “Lalu apakah korupsi bisa dientaskan oleh kapala desa?”
Angin
bertiup semakin kencang, menjatuhkan dan menerbangkan dedaunan.
Tangerang
Selatan, 14 Juni 2023





0 Post a Comment
Posting Komentar