"Aku yang membuat aturan
Aku pula yang melanggarnya"
Rindu yang menyelam itu kini tengah mengigil kedinginan. Dia
mengira bahwa dengan menanamkan rindu itu dalam-dalam, maka selanjutnya akan
menjadi cinta yang luar biasa. Dia tidak menyangka bahwa sebenarnya itulah
benih-benih luka yang tengah bersiap menjadi kebencian. Ah, tapi tidak apalah,
dia tidak sadar ketika berpikiran demikian.
“Sekarang apa yang kudu aku lakukan?” tanya dia padaku.
Sebenarnya aku ingin menjawab dengan sebuah jawaban yang sangat
simpel, tapi jelas. “Mana saya tahu!” Itu jawaban yang aku maksudkan. Tapi,
tidak! Aku tidak akan menjawab dengan jawaban sekejam itu, aku adalah teman
sekaligus sahabat yang baik.
“Ini adalah masalah yang rumit!” kataku, itu adalah sebuah jawaban
yang meyakinkan bahwa masalahnya benar-benar berat, dan dengan demikian dia
akan memposisikan diri sedikit lebih naik dari sebelumnya. “Tidak semua orang
mendapat masalah seperti yang kamu hadapi sekarang!” lanjutku. Sama, itu adalah
sebuah kata yang akan membuat dia semakin yakin bahwa masalahnya adalah
berat, dan dia adalah orang yang luar
biasa.
“Apa yang harus aku lakukan jika sudah demikian?” tanya dia sekali
lagi, menegaskan.
“Pertama, rindu dan cinta adalah dua hal yang memang tidak bisa
dipaksakan!” ujarku.
“Iya, aku tahu akan hal itu!” sahutnya.
Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik untuk memberikan solusi
kepadanya, dan memang tidak ada. Orang yang curhat sebenarnya bukan untuk
mencari solusi, tapi dia tengah mencari pembenaran akan apa yang dia hadapi
saat ini. Nah, kemudian solusi itu nanti akan muncul ketika dia memikirkannya
sendiri, dengan hati yang lapang. Sebab, jika aku memberikan masukan dan
nasehat padanya, jika hatinya tidak lapang, maka sama saja aku memberikan
nasihat kepada kucing-kucing di dekat tong sampah itu.
“Tujuanmu ke kampus ini untuk apa?” tanyaku.
“Kuliah, mencari ilmu, memperoleh gelar!” jawabnya.
“Nah, kenapa kamu pacaran?” tanyaku lagi.
“Karena cinta datang kepadaku, dan aku mencintainya!” jawabnya.
Aku mengerti, pastilah akan begitu jawaban yang semua manusia
berikan ketika ditanya mengapa berhubungan dengan lawan jenis, adalah cinta di
baliknya. Nah, aku juga tidak habis pikir dengan orang-orang, mengapa selalu
menyalahkan cinta ketika mereka sakit hati? Tidak sadarkah mereka bahwa cinta
tidak terlibat sama sekali di dalamnya? Ah, manusia-manusia memang sialan!
“Iya, makan itu cinta!” Itu adalah solusi terbaik.
“Caranya?” tanya dia.
“Makan itu cinta, dan nikmati betapa perihnya sakit hati!” tegasku.
“Jadi kamu sekarang menyalahkanku?”
Siapa pula yang menyalahkanmu, Bodoh? Itulah jawaban yang ingin aku berikan. Tapi, sekali lagi aku tidak
akan mengatakan itu, aku adalah teman sekaligus sahabatnya. Aku akan meberikan
jawaban-jawaban yang baik, meskipun tidak terlalu benar.
“Tidak ada yang salah dengan manusia yang mencintai,” kataku. “Tapi,
kita sebagai manusia yang berakal, tidak hanya berhati, harus obyektif dalam
mengambil sebuah tindakan. Pun, kita harus obyektif dalam menyikapi sebuah
permasalahan, dan ini adalah masalah yang harus disikapi dengan rasa obyektif!”
lanjutku.
Sebenarnya aku juga tidak terlalu paham dengan apa yang aku
maksudkan. Tapi, sepertinya dia cukup yakin dengan jawabanku yang akademisi
sekali. Haha! Salah siapa percaya kepada manusia sepertiku!
“Iya, itu adalah kata-kata yang bijak!” ujarnya setelah merenungkan
kata-kataku.
“Nah, kita tidak hanya butuh mengatakan bahwa sebuah teori itu
bagus!” lanjutku untuk lebih meyakinkannya. “Selanjutnya, kita harus menerapkan
teori itu agar menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk kita!”
Dia semakin yakin!
“Lalu, bagaimana sikap yang bijaksana itu?” tanya dia.
Aku gelagapan. Sebenarnya aku juga tidak mengerti sikap apa yang
cukup bijak dalam permasalahan ini! Aku tidak tahu. Tapi baiklah, sebagai teman
yang baik, aku akan memberikan solusi kepadanya, memberikan sikap terbaik untuk
menanggapi masalah hidupnya sekarang ini.
“Wanita bukan hanya satu, banyak sekali jumlahnya di dunia. Nah,
putus dengan seorang wanita bukan menjadi pertanda bahwa dunia akan kiamat,
lagian kalian juga hanya sekadar pacaran, belum ada ikatan apa-apa!” kataku
bijak sekali, menurutku.
“Lagi pula, sekarang ini kita masih kuliah, pacaran hanya
menghambat kita dalam belajar!” kataku lagi.
“Tapi, terkadang aku menjadi semangat belajar karena pacaran, Bro!”
tukasnya.
“Iya, tapi tidak bisa dan tidak mungkin terus-menerus seperti itu. Pasti
akhirnya ada sebuah masa kita merasa bosan dengan pasangan, dan itu menimbulkan
efek buruk ketika belajar. Nah, seperti sekarang saja, kamu jadi malas belajar
pasti!”
“Iya,” sahutnya singkat.
“Itu bisa menjadi sinyal bahwa pacaran tidak akan selalu bahagia,
bahkan bisa menmbulkan hal-hal yang berbahaya!” lanjutku, aku adalah motivator
sekaligus pemberi nasihat terbaik.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang, Bro?” tanya dia.
Aku tidak habis pikir, kenapa dia otaknya begitu lelet? Padahal
jelas sekali apa yang musti dia lakukan, kenapa harus bertanya lagi kepadaku? Tapi
tidak apa-apa, sebagai teman yang baik, aku akan memberikan masukan-masukan
baik kepadanya!
“Tinggalkan dia dan jangan pacaran untuk saat ini!” Dari awal semua
kata-kataku mengerucut di sini.
“Dan apa yang akan membuatku bahagia kecuali pacaran?” tanya dia
dengan wajah memelas, dan aku tahu pasti berat sekali baginya untuk tidak
berpacaran.
“Banyak!” kataku. “Mengejar target adalah sebuah hal yang
membahagiakan, melihat prestasi-prestasi yang kita raih juga merupakan sebuah
kebahagiaan! Sekarang, prestasi apa yang kamu miliki?”
“Belum ada!” jawabnya lesu.
“Nah, ini adalah momen, ini adalah waktunya untuk membuktikan,
bahwa tanpa dia kamu akan mendapatkan banyak prestasi. Semangat!” ujarku, bak
motivator senior.
Danau buatan itu semakin ramai oleh orang-orang. Ada yang membawa
pancing, membawa tikar, ada pula yang hanya berlari-lari kecil mencari keringat
mengelilingi danau itu. Itu adalah danau buatan yang asri sekali, salah satu
tempat yang digunakan oleh masyarakat kota untuk membuang kepenatan.
“Sejuk juga danau ini kalau sore!” katanya, memecah keheningan di
antara kita berdua.
“Iya, memang sejuk sekali. Apalagi kalau pagi, udaranya lebih alami
dan segar!” sahutku.
“Kenapa orang-orang kota betah sekali tinggall di kota, iya? Padahal,
jelas sekali udaranya sangat tidak tenang seperti ini!” ujarnya. Entah kenapa
dia berputar 180 derajat dalam pembahasan, kenapa pula membahas hal yang
sepertinya tidak penting.
Aku menjawab, “Di mana lagi mereka akan tinggal sedangkan perkotaan
adalah lingkungan mereka. Kota megah ini adalah kampung halaman mereka,
sehingga mereka menganggap bahwa keliling danau buatan seperti ini adalah
sebuah kenikmtan!”
“Kasihan sekali hidup mereka, lahir dan hidup pada lingkungan yang
penuh dengan polusi!” ujarnya.
“Tapi, sepertinya ada yang lebih harus dikasihani dari pada
orang-orang ini! Adalah orang-orang desa yang merantau ke kota untuk mencari
ilmu dan pengalaman, tapi malah terjebak dalam lingkungan percintaan yang membuatnya patah semangat!” kataku. Aku
adalah moitvator terbaik sepanjang masa.
“Senang sekali bisa berkenalan denganmu!” katanya.
Tangerang Selatan, 19 Juni 2023




0 Post a Comment
Posting Komentar