Adakah Dosen Yang Tidak Berkualitas? - Artikel oleh Jasmiko | Sastra Putar Balik


Dosen dan mahasiswa! Iya, dua elemen tersebut adalah unsur besar yang membangun sebuah universitas. Dosen dianggap sebagai manusia yang membagikan ilmunya, sedangkan mahasiswa adalah manusia yang mengambil ilmu darinya. Secara garis besar bisa dikatakan demikian. Apakah dosen derajadnya lebih tinggi sebab memberikan ilmunya? Ada dua sudut pandang yang bisa kita gunakan. Jika dilihat secara keilmuan, dosen bisa dikatakan lebih tinggi dari pada mahasiswa. Namun jika kita melihatnya dari paradigma lain, maka dosen dan mahasiswa bisa dikatakan sejajar, hanya saja dosen adalah manusia yang lebih dahulu mendapatkan pengetahuan dan pendidikan dari pada mahasiswa, selebihnya dosen dan mahasiswa adalah sama-sama manusia.

Mahasiswa dan dosen saling melakukan interaksi yang disebut dengan proses belajar mengajar. Mahasiswa mendengarkan apa yang dikatakan dan dijelaskan oleh dosen, sembari (seharusnya) mengaktifkan pikiran kritisnya. Demikian halnya dengan dosen, dosen dari hari ke hari juga seharusnya mengambil pelajaran dari mahasiswanya, menambah pengetahuan-pengetahuan baru sebab ilmu itu ada yang dinamis, dalam artian dari hari ke hari semakin berkembang pula.

Berbicara mengenai dosen dan mahasiswa, di sini ada beberapa pandangan yang ingin saya diskusikan. Tentu, dalam dunia kampus, kedisiplinan adalah sebuah hal yang wajib dimiliki oleh para instrumennya, siapapun dia, terutama adalah mahasiswa. Bicara mengenai disiplin, maka tidak bisa lepas dari yang namanya waktu. Begini, yang saya maksudkan adalah kenapa keterlambatan masuk kelas dari seorang mahasiswa adalah sebuah aib? Sedang, keterlambatan dari seorang dosen adalah kesibukan?

Jika dipandang dari segi keterlambatannya, maka keduanya bisa dikatakan sebagai aib. Baik keterlambatan tersebut dilakukan oleh dosen maupun oleh mahasiswa, maka keduanya adalah sebuah aib, dan seharusnya malu ketika melanggarnya. Nah, tapi sebuah tanggapan dan sikap yang berbeda diberikan oleh beberapa kalangan, bahkan dosen itu sendiri. Keterlambatan seorang dosen dikatakan sebagai sebuah kesibukan, dan dengan bangganya dosen tersebut mengatakan bahwa dia adalah orang yang sibuk. Sedang dalam satu sisi, keterlambatan seorang mahasiswa akan dianggap sebagai aib, dan itu sangat memalukan.

Iya, kita harus mengakui bahwa dosen adalah manusia yang diciptakan untuk sibuk, sebab mereka adalah pendidik. Tapi, apakah keterlambatan dalam masuk kelas bisa dikatakan dengan mudahnya bahwa dia adalah manusia yang sibuk? Saya rasa tidak. Ini terlihat sepele, namun hubungan sebab-akibat di dalamnya yang besar, dan ini menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita tahu bahwa mahasiswa adalah generasi bangsa yang tengah dipersiapkan untuk masa depan. Nah, di dalam kampus seharusnya mendapatkan pendidikan terjamin sebab ada tenaga pendidik yang (seharusnya) terjamin pula kualitasnya, yaitu dosen. Mahasiswa adalalh generasi yang akan menjadi pemimpin di masa depan, dan sudah seharusnya mahasiswa jika sudah saatnya keluar dari kampus, keluar dalam keadaan yang benar-benar siap menjadi manusia dan menjadi pemimpin.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, apakah dengan SDM dosen yang demikian, mahasiswa siap menjadi pemimpin di masa depan? Perlu menjadi catatan, bahwa banyak dosen di Indonesia yang sepertinya tidak mempunyai kualitas. Saya tidak mengatakan dosen di kampus apa dan siapa, tapi saya mengalami sendiri beberapa semester diajar oleh dosen yang tidak berkompeten dan tidak disiplin. Ada dosen yang satu semester hanya masuk satu kali, dan tidak memberikan tugas sama sekali. Memang, pada akhir dia memberikan nilai yang baik, namun apakah dengan nilai yang notabenenya adalah angka, bisa melahirkan generasi emas yang akan menjadi pemimpin? Saya rasa tidak, dan ini harus segera dibenahi oleh kampus, dan oleh para mahasiswa.

Kampus seharusnya mempunyai sistem yang jelas dalam memperkerjakan dosennya. Kampus harus mengetahui dosen-dosen yang tidak masuk, yang masuk namun tidak mengajar dengan maksimal, atau dosen yang masa bodo dengan perkembangan mahasiswanya. Iya, mahasiswa adalah manusia yang sudah dewasa, saya setuju itu. Namun  pada praktiknya, apakah semua itu berjalan sesuai dengan teori kedawasaan yang dijelaskan tersebut? Tidak, banyak mahasiswa yang bodo amat dengan perkembangan dirinya sendiri, dengan perkembangan kampus, dan dengan perkembangan bangsa. Nah, hal itu tidak akan berubah tanpa adanya seorang dosen yang benar-benar berkualitas sebagai seorang pendidik.

Dosen yang mempunyai kesibukan lebih, dan tidak bisa diandalkan dalam mendidik, karena waktunya kurang, jangan dipertahankan sebagai dosen. Kenapa? Apakah karena dosen tersebut adalah orang besar, terkenal, harus dipertahankan menjadi dosen walaupun tidak pernah masuk sama sekali? Apakah karena orang tersebut mempunyai pengaruh besar di pemerinatahan sehingga harus dipertahankan menjadi dosen walaupun tidak pernah mengajar mahasiswanya? Pendidikan kita harus banyak berbenah jika ingin melahirkan generasi Indonesia emas pada tahun 2045.

Ini memang sulit untuk diakui, tapi adalah sebuah fakta. Ada satu lagi yang menarik yang perlu kita bahas. Kenapa banyak mahasiswa yang senang ketika dosen tidak hadir? Apakah dia lupa bahwa tujuannya masuk kampus, masuk universitas adalah belajar dengan dosen? Kenapa harus mahal-mahal masuk kampus hanya untuk menanti dosen yang tidak hadir dan bahagia? Jika demikian, maka saya rasa antara mahasiswa dan anak TK tidak ada bedanya. Mahsiswa yang demikian harus segera berbenah, agar di kemudian hari bisa menjadi generasi yang bisa diandalkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Tujuan ditulisnya artikel ini bukan untuk memburukkan nama salah seorang dosen atau kampus, namun untuk gerakan perubahan pada kampus dan bangsa. Kampus yang berkualitas tentu akan melahirkan generasi yang berkualitas. Sebaliknya, kampus yang tidak berkualitas, maka akan melahirkan generasi yang tidak berkualitas pula. Sekarang kita lihat keadaan bangsa kita, apakah sudah menjadi bangsa yang berkulitas? Jika belum, maka universitas perlu ditinjau ulang sistem pendidikannya, dosen-dosennya, serta cara berpikir mahasiswanya.

Saya rasa banyak sarjana-sarjana yang siap untuk menjadi dosen. Jadi, untuk apa menahan dosen yang tidak mempunyai waktu untuk tetap menjadi dosen? Jangan hanya karena dia adalah dosen yang mempunyai nama besar lantas dipertahankan, nama besar tidak akan berarti apa-apa jika tidak pernah masuk kelas dan tidak pernah berinteraksi dengan mahasiswanya.

Maksudnya begini, dosen adalah orang yang mendidik dan mentransfer pengetahuan kepada mahasiswa. Nah, bagaimana pengetahuan itu bisa ditransfer dengan maksimal jika tidak pernah masuk dan tidak pernah mengajarkan? Tidak akan berguna nilai bagus di akhir jika tidak ada pengetahuan dan ilmu yang diajarkan. Ini perlu menjadi bahan evaluasi pendidikan di Indonesia, khususnya di perguruan tinggi.

Dari dosen tersendiri sepertinya juga harus menyadari dan sadar akan posisinya, beban dan tugas yang akan diembannya. Maka, sebagai sebuah pertimbangan untuk melanjutkan menjadi dosen atau tidak, bisa melalui tahapan. Ah, bodoh sekali saya. Saya rasa semua dosen juga mengerti dan paham akan hal ini, mungkin saya yang salah dengan menulis artikel singkat yang tidak bermanfaat ini.

Sekian omong-kosong ini!

Tangerang Selatan, 25 September 2023

0 Post a Comment

Posting Komentar