Tanah Orang-Orang Terusir - Cerpen Oleh Jasmiko | Sastra Putar Balik

 


Hampir satu bulan lebih suara-suara itu beterbangan di atas langit ibu kota. Bahkan seminggu kemudian, suara yang disinyalir adalah suara alien, merambah ke berbagai daerah, mendengung di langit-langit, membingungkan pakar dari berbagai disiplin ilmu. Alat-alat canggih berjajar rapi di atas gedung pencakar langit, mengintervensi ke segala arah. Drown-drown beterbangan, berusaha mencari sumber suara yang meresahkan itu.

“Sepertinya alien-alien itu sudah tidak takut lagi!” ujar seorang profesor berkacamata, rambutnya putih pendek.

“Iya, Prof! Suara-suara yang disinyalir kuat adalah suara alien itu semakin meresahkan!” sahut orang satunya, mereka sama-sama profesor, tapi berambut hitam, dalam disiplin ilmu yang berbeda.

“Sudah satu bulan lebih suara itu tidak berhenti sama sekali, siang-malam mendengung. Saya resah kalau-kalau suara itu akan berubah menjadi kemelut di kemudian hari!” ujar profesor, dia memandang tajam sebuah alat kecil di tangannya. “Apakah sudah saatnya kita menggunakan alat ini untuk membasmi suara itu?”

Profesor berambut hitam tercekat, “Apakah ini tidak terlalu cepat, Prof?” tanya dia.

“Saya rasa ini akan memperbaiki keadaan lebih cepat, dan saya kira ini adalah cara terbaik!” jelas profesor berambut putih.

Di sisi lain, para ilmuwan tengah berdebat panas demi memenangkan argumen. Mereka mendebatkan dari mana suara itu berasal. Masyarakat sendiri cukup menonton debat itu dari layar televisi, yang semakin hari semakin panas, semakin simpang siur pula sebab terlalu banyak informasi yang bertebaran.

“Suara itu jelas suara alien, yang tidak perlu kita respon sebab tidak membahayakan kita!” ujar Profesor Hani, ilmuwan yang percaya bahwa itu adalah suara alien.

Profesor Hilmun menyangkal, “Bagaimana anda bisa mengatakan suara itu tidak berbahaya? Apakah anda tidak membaca penelitian yang baru saja dirilis oleh Media Nasional, bahwa suara itu menganggu kestabilan jaringan kita? Apakah anda sudah melakukan penelitian mengenai statment anda?”

“Kami mempunyai data dari alat yang kami kirim ke langit, dan alat-alat itu telah teruji. Jadi, tidak mungkin salah!” Profesor Hani memaparkan data-data, lembaran-lembaran kertas berceceran di atas meja.

“Jadi anda menyalahkan penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan terbaik abad ini? Anda lebih percaya pada sebuah benda yang diciptakan oleh mahasiswa anda dari pada penelitian profesor terbaik?” Profesor Hilmun juga memaparkan data-data yang dia dapatkan, kertas-kertas berserakan. “Suara itu jelas mengganggu kestabilan kita, bisa jadi suara itu akan membayakan normalitas aktivitas rakyat kita! Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah menggunakan bom untuk memusnahkan suara itu!” lanjutnya.

“Jangan asal bicara, Prof. Ini akan...”

“Pemirsa, kita akan kembali setelah yang satu ini!”

***

“Kepada siapa lagi kita harus menyuarakan ketidak adilan ini?” ujar seorang lelaki berbaju lusuh.

“Seharusnya presiden mendengar teriakan kita jika telinganya tidak tuli!” sahut seorang laki-laki lainnya, sama-sama dengan baju lusuh.

Mereka adalah warga Kampung Bawah. Sudah berhar-hari mereka tidak mandi, air di sana sangat tercemar oleh limbah pabrik. Bahkan, air yang mereka ambil dari sumur bukan lagi air jernih, limbah telah menyebar ke mana-mana dan menganggu kehidupan. Sekarang, yang mereka suarakan adalah tuntutan untuk menutup pabrik-pabrik yang tidak mengolah limbahnya dengan bijak, sehingga menganggu kehidupan masyarakat.

Begitulah, sudah satu bulan lebih mereka menyuarakan keadilan, tidak ada pemimpin negeri yang mendengar. Bahkan, media-media nasional tidak sudi meliputnya. Satu-satunya, media yang meliput yaitu media-media kecil dari masyarakat yang kecil pula. Ini aneh, media-media seperti menutup mata, seperti ada yang sengaja membungkam mereka.

“Kita hidup di tanah air sendiri, hidup pada bangsa yang berdaulat, tapi seperti dijajah, kita harus berjuang melawan penjajahan!” ujar seorang lelaki lagi.

Beberapa hari lalu, mereka bahkan bukan hanya menyuarakan keadilan, mereka harus dihadang oleh aparat keamanan negara. Iya, masyarakat yang menyuarakan keadilan harus bentrok dengan aparat yang seharusnya menegakkan keadilan. Ini benar-benar aneh dan tidak masuk akal. Aparat dibayar oleh pajak dari rakyat, dan seharusnya bertugas untuk mengamankan masyarakat.

Malam ini, di ruangan yang remang-remang, puluhan mayat berjajar, dan puluhan luka-luka. Mereka adalah korban sasaran peluru aparat. Bukan apa-apa, mereka hanya menginginkan keadilan yang tertulis dalam undang-undang, tidak lebih, bahwa mereka mempunyai hak tanah yang seharusnya memang hak mereka. Mereka menolak diusir dengan dalih relokasi.

Tengah malam, suasana sepi, benar-benar sepi. Angin malam bertiup menggerak-gerakkan dedaunan, membangunkan malaikat-malaikat pengantar rahmat. Jiwa-jiwa terdiam, memanjatkan doa dalam diam. Mereka berdoa tidak lebih dari kebutuhan, berdoa tidak lebih dari apa yang mereka seharusnya rasakan.

Di tengah doa yang khusuk, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara ledakan besar yang bersumber tidak jauh dari lokasi mereka bermunajat.

“Blar...”

“Door...”

Bahkan mayat-mayat yang mulai membusuk pun kaget. Manusia-manusia terdiam, menunggu apa yang akan terjadi, mereka tidak bisa melakukan apa-apa untuk melawan. Jika mereka memaksa maju dengan membawa celurit, kapak, dan sejenisnya, maka sama saja dengan menyerahkan diri, yang mereka lawan adalah aparat yang menggunakan senjata api lengkap, plus tameng pula.

“Dorr...”

Sebuah peluru menerobos masuk, menerabas pintu yang terkunci rapat. Peluru itu mengenai kepala salah satu warga, darah segar muncrat bagai semangka dihancurkan. Mati.

“Door...”

Lagi-lagi peluru mengenai sasaran. Peluru itu merobak mata sampai tembus ke belakang, kepala itu berlubang. Suara teriakan meraung-meraung, bersaing dengan suara ledakan.

“Bangsat! Apakah penjajah itu datang lagi?” teriak seorang lelaki, hanya berteriak yang bisa dia lakukan.

“Apakah kita akan pindah negara?” sahut lelaki satunya.

“Iya. Apakah kita akan pindah negara yang lebih aman?” sahut seorang wanita.

“Negara apa yang kau maksudkan?”

“Indonesia. Iya, apakah kita akan pindah ke negera Indonesia? Negara Indonesia terkenal dengan keadilan dan keramahannya, negara yang dikenal sebab budi pekerti luhurnya! Apakah kalian tahu negara Indonesia?”

“Iya. Besok siang kalau kita masih hidup, kita akan pindah ke negara Indonesia, negara paling adil di muka bumi!”

Tangerang Selatan, 10 Oktober 2023

0 Post a Comment

Posting Komentar