Berikut ini adalah kutipan pendapat yang dikemukakan oleh Adam
Smith dalam salah satu bukunya :
“Seegois apapun seseorang, terbukti tetap ada beberapa prinsip
dalam sifatnya, yang membuatnya tetap memperhatikan nasib baik orang lain, dan
kebahagiaan orang lain penting baginya, meskipun ia tak mendapatkan apapun
kecuali rasa senang melihat kebahagiaan tersebut.”
Ini adalah statment yang bagus sekali menurut saya. Pada dasarnya
dalam hati manusia itu ada hati nurani, yang mana hati nurani selalu
menggaungkan kebenaran. Seseorang yang mencuri dengan alasan apapun, dalam
hatinya pasti merasakan sebuah rasa bersalah. Nah, perasaan bersalah inilah
yang bersumber dari hati nurani, hati nurani selalu bisa membedakan mana yang
baik dan mana yang buruk, mana yang tepat untuk diri sendiri dan mana yang
tidak. Hal ini juga berlaku terhadap orang lain. Melihat orang lain bahagia,
kita merasakan sebuah kebahagiaan yang sama pula, dan rasa bahagia inilah yang
bersumber dari hati nurani.
Seburuk apapun seorang manusia, dalam hatinya masih tertancap
prinsip-prinsip dari Tuhan. Hati nurani selalu gelisah ketika yang mempunyainya
melakukan keburukan, meskipun manusia yang melakukan keburukan tersebut abai
pada apa yang dia rasakan, sebab nafsu yang lebih dominan dari pada akal.
Prinsip adalah sesuatu yang kebenarannya abadi, demikian yang
diungkapkan oleh Stephen Covey. Prinsip, adalah pijakan yang digunakan manusia
untuk menuai kebahagiaan, tanpa prinsip manusia tidak akan pernah menggapai yang
namanya kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati adalah bahagia yang berasal dari
kebenaran, tidak menyakiti orang lain untuk memperoleh kebahagiaan tersebut.
Ini sejalan dengan salah satu hadits Nabi :
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ
لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
“Iman kalian tidak dianggap
sempurna sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.”
Hadits di atas secara tidak langsung mengisyaratkan kepada muslim
khususnya, untuk memupuk prinsip dalam hatinya. Iman seorang muslim tidak akan
dianggap sempurna jika dia belum mencintai muslim lainnya seperti mencintai
diri sendiri. Rasa cinta adalah hal prinsip, dan semua manusia pasti mengakui
itu terlepas apakah dia tengah mencintai atau tidak. Cinta adalah prinsip, dan
Nabi melalui haditsnya berusaha memupuk hal itu akan terus tumbuh dalam diri
seorang muslim.
Seorang pemabuk, pencopet, pencuri, di dalam jiwa terdalamnya masih
ada suara hati, hati nurani. Hati nurani inilah yang selalu menggaungkan
kebenaran, walaupun terkadang kalah pula dengan yang namanya nafsu. Jika nafsu
lebih dominan, maka suara hati terabaikan. Sebaliknya, jika akal lebih dominan,
maka suara hati akan lebih didengarkan. Seorang pencopet pasti tahu bahwa apa
yang dia lakukan tidak baik melalui suara hatinya, tapi sebab sebuah keadaan
(yang dipengaruhi nafsu), maka suara hati nurani itu terabaikan.
Dalam Islam ada sebuah konsep memberikan kebahagiaan untuk orang
lain, konsep tersebut disebut dengan Idkholus Surur.
أفضل الأعمال
إدخال السرور على المؤمن كسوت عورته وأشبعت جوعته أو قضيت له حاجة
“Amalam yang paling utama yaitu
Idkholus Surur, yaitu memberikan kebahagian kepada diri seorang mukmin, engkau
beri pakaian untuk menutup auratnya, mengenyangkannya ketika lapar, dan
memenuhi kebutuhannya!”
Kutipan di atas adalah hadits Nabi. Statment
Adam Smith sama sekali tidak bertentangan dengan hadits tersebut, yang mana
hadits di atas menganjurkan kepada muslim untuk memberikan kebahagiaan kepada
muslim lain. Pada hadits tersebut digunakan kata muslim, lalu apakah hadits
tersebut hanya ditujukan untuk seorang muslim? Memang secara lafadz maka yang
disebutkan adalah mukmin, tapi ini tidak melepas kemungkinan bahwa bisa
diterapkan oleh semua kalangan, mengingat esensi yang ingin disampaikan oleh
hadits tersebut adalah memberikan kebahagian kepada orang lain.
Nah, sekarang kita sudah tahu bahwa
suara hati yang bersumber dari hati nurani ada pada setiap manusia. Sekarang,
bagaimana cara kita memaksimalkan suara hati tersebut? Suara hati tidak bisa
dibungkam bagaimanapun keadaannya, namun suara hati bisa untuk tidak
didengarkan. Dengan demikian maka cara memaksimalkan suara hati adalah dengan
mendengarkannya. Otak dan hati itu saling bekerja sama, tidak bisa saling
dipisahkan. Maka, pertama kita harus bisa mendengar suara hati menggunakan akal
pikiran, merenungkan, dan mengembalikannya pada hati. Jangan sampai akal kalah
dengan nafsu, dan dengan demikian suara hati akan terbungkam. Akal adalah
anugerah besar yang diberikan oleh Tuhan, yang di mana makhluk lain tidak
diberikan keistimewaan tersebut.
Kesimpulan, suara hati selalu
menggaungkan kebenaran, tergantung manusia yang mempunyai hati tersebut lebih
dominan akal atau nafsunya. Jika manusia lebih dominan nafsunya, maka suara
hati akan diabaikan. Sebaliknya, jika manusia lebih dominan akalnya, maka
manusia akan mendengarkan suara hatinya. Di sini ada yang perlu diingat, bahwa
hati dan akal harus berjalan beriringan, saling mengingatkan. Manusia tidak
bisa hanya memakai hati saja, namun harus memadukannya dengan hati pula.
Ciputat, 05 Septermber 2023





0 Post a Comment
Posting Komentar